Lompong Sagu, Camilan Legendaris Minang yang Tergerus Zaman

Lompong Sagu, Camilan Legendaris Minang yang Tergerus Zaman
info gambar utama

Lompong sagu bagulo lawang. Demikianlah sepenggal lirik lagu lawas yang mungkin mengingatkan generasi tua Minang pada camilan legendaris: lompong sagu. Jajanan unik itu pernah merajai dunia kuliner khas Sumatra Barat.

Saking ikoniknya, nama makanan ini termuat sebagai judul dan mendominasi lirik dalam lagu ciptaan Oslan Husein, bahkan lagunya kerap jadi dendangan para ibu dalam menidurkan anak mereka kala itu.

Kini kue panggang nan manis gurih itu sudah jarang terlihat. Barangkali posisinya tersingkir oleh keberadaan makanan modern. Tapi, paling tidak, kelezatannya pernah megenyangkan penduduk pesisir Sumatra Barat hingga awal abad ke-21.

Kue Delapan Jam Palembang, Si Manis yang Filosofis

Favorit semua kalangan yang kian langka

Dahulu sekali, kue tradisional ini digemari dan dimakan oleh semua kalangan, bahkan sering dihidangkan pada acara kenduri. Mencarinya pun mudah karena para penjualnya kebanyakan berjaja dengan berjalan kaki atau mengayuh becak.

Lompoang saguak, angek-angek nduak. ‘Lompong sagu, hangat-hangat, Bu’. Begitulah teriakan yang dulu sering terdengar setiap malam kala pedagang lompong sagu lewat, menarik pelanggan dengan iramanya yang khas. Entah sejak kapan suara itu tak terdengar lagi sampai sekarang.

Cukup sulit menemukan lompong sagu di masa sekarang. Tapi, lebih sulit lagi menemukan yang cita rasanya seautentik dulu. Bukan tidak ada, tapi penjualnya sangat sedikit. Di kota Padang, pedagang lompong sagu masih bisa dijumpai di beberapa titik, seperti di depan Taman Makam Pahlawan Lolong dan Kampung Pondok.

Melansir Kompas.com, Ahli tata boga Universitas Negeri Padang (UNP) Wirnelis Syarif berpendapat bahwa kelangkaan lompong sagu mungkin disebabkan oleh tampilannya yang jadul dan tak menarik. Di samping itu, tidak adanya hak paten atau standardisasi resep sejak dulu, mengakibatkan cita rasa lompong sagu di tiap daerah berbeda-beda.

Wirnelis menyarankan, eksistensi lompong sagu dapat dibangun lagi dengan mempromosikannya di acara pameran atau festival kuliner.

Tempoyak, Makanan Fermentasi Durian Khas Suku Melayu

Cita rasa yang menggiurkan

Kendati sudah tak sejaya dulu, kenangan mencicipi lompong sagu mungkin masih tersisa di ingatan para penikmat hidangan yang satu ini.

Penganan kaya serat itu terbuat dari tepung sagu yang diaduk dengan santan dan potongan pisang kepok. Lalu, adukan itu diberi campuran kelapa parut, gula merah, garam, dan diaduk lagi hingga merata. Kemudian, adukan itu dibalut daun pisang dan dipanggang di bawah sabut kelapa yang membara.

Bara api pemanggangan itulah yang menghasilkan aroma khas lompong sagu. Camilan unik ini hanya boleh dimasak dengan bara saja sebab api yang menyala bisa menyebabkan lompong sagu jadi gosong.

Secara bentuk, kudapan ini mirip lepat, ukuran per bungkusnya pun cukup besar, isinya padat. Ketika lembaran daun pisang yang kecoklatan dibuka, aroma khas kue tradisional itu menggoda menusuk hidung, ditambah asap dari lompong sagu yang mengepul benar-benar menggugah selera.

Sagu yang kenyal dan sedikit asin berpadu gurihnya parutan kelapa dan gula merah, lalu bertemu potongan pisang kepok, sungguh kombinasi rasa yang mantap.

Satu bungkus lompong sagu biasanya dijual seharga Rp2.000. Menyantap hidangan ini lebih nikmat ditemani secangkir teh atau kopi sambil bercengkrama dengan orang terkasih.

10 Makanan Legend Khas Salatiga Yang Wajib Kamu Coba

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini