Ketika Masyarakat Bajo Mengikat Manusia dengan Laut Agar Bersaudara

Ketika Masyarakat Bajo Mengikat Manusia dengan Laut Agar Bersaudara
info gambar utama

Hubungan orang Bajo dengan laut bukan hanya semata kisah tentang eksploitasi manusia terhadap alam. Mereka juga turut menjaga hidup laut yang menghidupi mereka. Dengan tradisi tuba dikatutuang, ikatan persaudaraan semakin kukuh.

“Kearifan lokal itu merupakan bagian dari upaya menjaga jantung segitiga terumbu karang dunia,” tulis Mohamad Final Daeng dan A Ponco Anggoro dalam Suku Bajo: Laut dan Karang bak Saudara “Dikatutuang”.

Hal inilah yang masih dipertahankan masyarakat Bajo di Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dalam memperlakukan sepenggal perairan di sekitar pemukiman mereka.

3 Aktivitas yang Bisa Dinikmati di Desa Wisata Batu Cermin, Labuan Bajo!

Kepala Desa Sama Bahari Suhaele menyebut tuba dikatutuang artinya karang disayang. Dikatakannya tradisi ini merupakan konsep konservasi laut ala masyarakat Bajo sama Bahari untuk memelihara kelestarian ekosistem terumbu karang.

Perairan yang dimaksud itu, antara lain, membentang 100 meter x 400 meter di pesisir Pulau Hoga, pulau kecil di utara permukiman terapung Sama Bahari. Di sanalah, dikatakan Suhaele, terdapat rumah ikan.

Hal ini karena berbagai terumbu karang berada menutupi lantai laut yang berkedalaman 10-30 meter. Sebagian terlihat dari permukaan dengan bermacam ikan hias berenang-renang di antaranya.

Penetapan wilayah

Disebut oleh Suhaele penetapan wilayah tuba dikatutuang dilakukan antara masyarakat pada tahun 2000. Penetapan dilakukan setelah didahului prosesi adat sangal. Prosesi ini merupakan ritual warisan leluhur yang salah satu tujuannya melestarikan ikan.

Salah satu prosesi melibatkan pelepasan berbagai jenis induk ikan ke laut. Selain itu, katanya, prosesi ini juga kerap dilakukan sebelum musim panen ikan, sebagai ritual tolak bala nelayan Bajo.

“Penetapan tuba dikatutuang itu muncul dari masyarakat setelah ada hasil penelitian mahasiswa Inggris di Wakatobi,” ucapnya.

SPS Warloka, Tempat Akhir Pengelolaan Sampah Terpadu di Labuan Bajo

Dikatakan Suhaele penelitian itu menjelaskan kian menurunnya populasi ikan di perairan Kaledupa yang membuat nelayan Bajo harus mencari ikan lebih jauh. Ini juga tidak lepas dari penangkapan ikan secara berlebih.

Dibutuhkan waktu dua tahun bagi tokoh masyarakat adat untuk menyadarkan kondisi sebelum menetapkan tuba dikatutuang. Karena adanya tuba dikatutuang, masyarakat Bajo yang semula menjadikannya lokasi mencari ikan, harus pindah ke lokasi lain.

Penetapan itu, jelasnya hanya satu capaian, karena sebagian warganya yang dahulunya mengebom dan membius ikan berhenti. Ada juga sanksi sosial bagi pelanggar berupa pengucilan dari kegiatan-kegiatan masyarakat di Sama Bahari.

“Hingga areal itu akhirnya diambil alih oleh Taman Nasional Wakatobi sebagai zona pariwisata, tidak ada warga yang dijatuhi sanksi sosial. Semuanya mematuhi ketentuan tersebut,” kata Suhaele.

Dapat penghargaan

Setelah berselang beberapa tahun penetapan tuba dikatutuang di Sama Bahari. Hal serupa diterapkan oleh nelayan-nelayan di Pulau Tomia, Wakatobi, Karang Roma, Mari Mabok, dan Onimae yang kaya akan terumbu karang.

“Mereka tetapkan menjadi bank ikan sehingga siapapun dilarang menangkap ikan di lokasi-lokasi tersebut,” ujar Manajer Proyek Program Bersama The Nature Conservancy dan World Wide Fund for Nature (WWF) di Wakatobi, Sugyanta.

Dikatakannya upaya yang dilakukan oleh komunitas nelayan di Tomia membuat mereka meraih penghargaan Equator Prize dari Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2010. Sementara itu kesadaran masyarakat Bajo telah ada sejak awal 2000 an.

Pembangunan Kawasan Gua Batu Cermin Labuan Bajo, Kini Andalkan Masyarakat Lokal

“Antara tahun 1990 dan 2000, bom ikan bisa terdengar berulang kali di Wakatobi, seperti ada perang di sini. Bahkan perahu patroli kami pernah dilempar bom ikan. Namun kondisi sepuluh tahun terakhir sudah berubah,” ujar Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1, Taman Nasional Wakatobi, La Ode Ahyar T Mufti.

Kini warga Bajo banyak yang bekerja sama dengan aparat keamanan dengan melaporkan saat ada nelayan yang menggunakan bom atau membius. Hal itu tidak lepas dari gencarnya upaya sosialisasi yang dilakukan Taman Nasional Wakatobi dan WWF.

Ketua Kerukunan Keluarga Bajo Indonesia Abdul Manan mengatakan, masyarakat Bajo menganut filosofi bahwa laut adalah saudara mereka. Dengan filosofi yang diwariskan leluhur itu, tidaklah sulit untuk mengajak warga Bajo menyayangi “saudaranya”.

“Hidup mereka selamanya lekat dengan laut. Situasi dipertahankan sepanjang bulu burung gagak masih berwarna hitam,” pungas Ponco.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini