Mengenal Porang, Umbi Asli Indonesia yang Kaya Manfaat

Mengenal Porang, Umbi Asli Indonesia yang Kaya Manfaat
info gambar utama

Belakangan ini, tanaman porang kembali mendapat perhatian publik. Bagaimana tidak, umbi-umbian yang satu ini sempat dikampanyekan oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu komoditas ekspor andalan baru Indonesia. Bukan tanpa alasan, porang yang cenderung berbentuk kecil ini ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk dan memiliki sederet manfaat.

Melalui unggahan di akun Instagramnya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa porang bisa menambah nilai tambah yang baik bagi petani hingga perusahaan pengolah. Ia menjelaskan, satu hektar lahan bisa menghasilkan 15–20 ton porang. Dari jumlah itu, petani bisa menghasilkan puluhan juta rupiah. Di sisi lain, pasar penjualan porang masih terbuka lebar.

Potensi Sukun Sebagai Alternatif Pangan Utama di Masa Depan

Hal ini berarti, porang memiliki potensi bisnis yang menjanjikan. Di balik potensi bisnis itu, porang juga hadir dengan segudang manfaat. Berikut ulasan mengenai porang yang perlu kamu ketahui.

Sejarah Porang

Porang merupakan tanaman umbi-umbian yang bernama ilmiah Amorphophallus muelleri. Tanaman yang juga dikenal dengan nama iles-iles ini berasal dari famili Araceae atau talas-talasan. Kendati baru kembali populer belakangan ini, porang ternyata sudah dikenal sejak zaman dahulu.

Mengutip Kompas.com, porang diyakini sebagai tanaman asli Indonesia. Sejak masa penjajahan Jepang di Nusantara, porang bahkan sudah dimanfaatkan untuk kebutuhan logistik perang.

Pemanfaatan tersebut berawal dari pihak Jepang yang menemukan porang dan melihatnya mirip dengan umbi-umbian konjak (A. Konjac). Jepang kemudian mengolahnya sebagai simpanan makanan selama perang berlangsung.

Kopi Indonesia : Manfaat, Jenis, dan Daerah Penghasil Kopi Terbaik

Ketika itu, petani Indonesia belum mengetahui manfaat porang. Karenanya, tidak ada bukti sejarah yang pasti terkait pemanfaatan porang oleh pribumi. Namun, porang mulai gencar dibudidayakan di Indonesia mulai tahun 1980-an.

Dinukil dari sumber yang sama, budidaya porang di Indonesia diinisiasi oleh Perhutani yang saat itu menginstruksikan untuk menanam porang di hutan-hutan di Pati, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Porang kemudian berkembang sebagai sumber pendapatan baru bagi para petani. Pasalnya, porang cukup mudah untuk dibudidayakan dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Porang dapat ditanam di mana saja, asalkan tanahnya gembur dan lembap.

Melihat hal tersebut, porang sangat cocok dengan iklim Indonesia yang tropis dan memiliki curah hujan cukup stabil. Tak pelak, perkembangan porang menunjukkan tren yang positif, bahkan hingga diekspor keluar negeri.

Ekspor porang Indonesia mulai terbuka sekitar tahun 2006–2007, ketika Tiongkok dan Jepang terserang virus yang menyebabkan umbi-umbian konjak sulit diproduksi. Oleh karena stok konjak dunia menipis dan porang memiliki kemiripan dengan tanaman itu, maka masuklah beberapa eksportir porang ke Indonesia.

Jenis Tanaman Obat Ini Dapat Ditanam dengan Mudah di Rumah

Manfaat Porang

Maraknya pemanfaatan porang bukan tanpa alasan. Tanaman yang tumbuh liar di hutan ini memiliki segudang manfaat. Dilansir dari berbagai sumber, kandungan di dalam porang baik untuk kesehatan tubuh dan bisa diolah untuk kebutuhan industri.

Porang yang dikonsumsi dalam olahan tepung glukomanan bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Hal tersebut ditemukan dalam penelitian yang dimuat pada Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Vol.11 No. 2 Desember 2014.

Penelitian lain yang dikutip dari katada.co.id menemukan bahwa mengonsumsi porang juga bisa menurunkan berat badan. Itu karena glukomanan dalam porang berkaitan dengan kemampuan menyerap air dan membentuk massa yang kental.

Lebih dari itu, porang juga diolah menjadi beberapa produk dalam industri kimia, farmasi, pangan, hingga kosmetik. Salah satu contoh olahan porang yang kian dikenal dewasa ini adalah beras shirataki, yakni beras yang diketahui memiliki kalori lebih rendah dibanding jenis beras lain.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini