Pemberontakan Salahuddin bin Talabuddin: Mesianisme dan Eksekusi Regu Tembak

Pemberontakan Salahuddin bin Talabuddin: Mesianisme dan Eksekusi Regu Tembak
info gambar utama

Tengah malam di hari Jumat, 14 Februari 1947, 15 orang polisi Belanda diam-diam turun dari kapal di sudut Pantai Patani, Maluku Utara. Tak lama usai salat subuh, dentuman senjata api menggempar di depan pelataran sebuah masjid.

Sebanyak 600 wanita bertempur melawan pasukan kolonial yang jumlahnya kalah jauh. Hanya bersenjatakan kelewang dan parang, para polisi yang dipimpin inspektur Paparang itu berhasil dipukul mundur. Sedikitnya 11 orang tewas dan 8 orang luka berat dalam perlawanan itu.

Misi pertarungan ini hanya dua, antara menangkap atau melindungi seorang lelaki berumur 73 tahun dari hukuman. Pemerintah kolonial terus mengincarnya selama bertahun-tahun.

Dalihnya, gerakan keislaman yang dipimpin orang itu dianggap menyimpang jauh dari kebiasaan, padahal bukan itu alasan sebenarnya. Hanya satu yang pasti, berbagai taktik tak akan berhenti dilakukan sampai orang itu jatuh tersungkur di hadapan Belanda.

Yang jadi pertanyaan, siapa dan apa dosa orang itu kepada Belanda sehingga ia terus diburu hingga penghujung usianya?

Dialah Haji Salahuddin bin Talabuddin, pendiri Sarikat Jamiatul Iman wal Islam atau Sarikat Islam (SI) di Pulau Gebe, Halmahera Timur, ketika menenangkan diri usai dibebaskan Jepang dari pengasingan pada 1946.

Sebelumnya, pria kelahiran Gemia Patani 1874 itu beberapa kali pindah-pindah rumah tahanan. Dari Sawahlunto, Nusakambangan, lalu ke Boven Digoel (1941). Salahuddin pernah mengibarkan Bendera Merah Putih di Tanjung Ngolopopo, Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara, hingga membuat Belanda murka.

Mengenal dr. Raden Rubini Natawisastra: Dokter, Tokoh Pergerakan, dan Pahlawan Nasional

Salahuddin bin Talabuddin dan Mesianisme

Dalam bingkai keislaman (mesianisme), Salahuddin bin Talabuddin memimpin penyebaran proklamasi Republik Indonesia (RI) dan seruan pemberontakan terhadap kolonial Belanda. Tak jarang, politik jadi topik pembahasan dalam pidato atau dakwahnya. Inilah yang membuat Belanda ketar-ketir.

Dengan berbagai pendekatan, ia bersama para tokoh SI mengajak masyarakat untuk membela RI dan melawan penjajahan Belanda. Tak butuh waktu lama, pergerakan organisasi itu pun berhasil mempengaruhi masyarakat.

Awalnya, penduduk dari empat desa di Pulau Gebe memutuskan bergabung menjadi anggota SI. Lalu, pusat kepemimpinan SI berpindah ke Kecamatan Patani. Hanya dalam 3 minggu, semua warga di sana berikrar rela mati demi Islam dan tanah air.

Sampai penghabisan Januari 1947, pengikut SI dan Salahuddin telah terkumpul sebanyak 3000 orang, termasuk remaja. Semakin banyak pengikut artinya risiko besar menanti di depan mata. Manuver Belanda yang lebih dahsyat mungkin tinggal menunggu waktu, entah terang-terangan atau bermain dalam gelap.

Sadar betul akan ancaman itu, Salahuddin meminta para pengikutnya untuk dibekali senjata. Abdul Hadi selaku wakil ketua SI, memimpin langsung pembentukan sayap militer dan merekrut para pandai besi di Patani. Beberapa hari kemudian, 600 senjata tradisional berupa pedang, parang, badik, tombak, dan panah, sudah siap menikam musuh.

Thomas Matulessy dalam Gelar Pattimura yang Begitu Populer di Maluku

Langkah Pemberontakan Salahuddin

Salahuddin bersama rekannya mulai beraksi sejak SI baru berdiri di Pulau Gebe. Hal yang pertama kali dilakukannya ialah membangun Masjid Nurul Iman. Inilah markas SI. Segala pertemuan, penyusunan strategi, atau hal lain yang menyangkut SI diadakan di dalam masjid ini.

Selain itu, setiap selesai salat subuh, Salahuddin bersama pengikutnya rutin melakukan ritual zikir sambil berjalan mengelilingi kota Patani.

“Amankan Islam, amankan syariat Islam, amankan Republik Indonesia! Jangan takut mati dan luka, pintu surga sudah terbuka.” Demikianlah kalimat yang mereka lafalkan dengan suara lantang.

Dalam setiap kesempatan, Salahuddin kerap menjelaskan kepada pengikutnya tentang alasan SI mendukung RI di bawah kepemimpinan Soekarno dan Hatta. Ia bahkan menurunkan fatwa mewajibkan orang Islam mendukung NKRI dan mengharamkan kerja sama dengan pemerintah Belanda. Menentang Salahuddin dan SI sama dengan melawan pemerintah RI.

Mengenal Sosok K.H. Ahmad Sanusi, Ulama Pahlawan Nasional dari Tanah Sukabumi

Siasat Belanda

Perpindahan besar-besaran dari Gebe ke Patani yang dilakukan Salahuddin dan pengikutnya mendatangkan kecurigaan penjajah. Apalagi ada pengkhianat yang melaporkan semua aktivitas Salahuddin ke Kepala Pemerintah Setempat (Hoofd van Plaatselijk Bestuur) daerah Weda yang kala itu dijabat orang Belanda.

Setelah mendengarkan seluruh aduan yang ternyata bersumber dari Kepala Distrik Gebe Mohammad Yasin, seseorang bernama Haji Gani diutus ke Patani untuk memata-matai aktivitas Salahuddin. Ia bergabung dan mengikuti seluruh kegiatan SI. Namun, tampaknya muslihat Haji Gani terendus juga. Ia dilaporkan turut menanyakan perihal aktivitas Salahuddin kepada tokoh SI asal Pulau Gebe.

Setelah Salahuddin menerima laporan, para pengikut diperintahkan segera membawa Haji Gani ke hadapannya untuk klarifikasi. Tapi, ia malah menghilang. Seseorang melihatnya naik perahu menuju Weda.

Mengetahui itu, Abdul Hadi bersama anak buahnya sigap melakukan pengejaran. Haji Gani berhasil ditangkap di tengah laut Patani-Weda. Dalam sebuah interogasi, Haji Gani mengakui tindakan yang selama ini ia lakukan hanyalah untuk memata-matai, menuruti perintah HPB Weda. Setelah itu, Haji Gani dieksekusi mati dan mayatnya ditenggelamkan ke dasar laut.

Setelah kematian Haji Gani, Mohammad Yasin, seorang guru, dan 5 orang lainnya juga diculik dan dieksekusi mati. Dengan demikian, jumlah orang yang tewas di tangan gerakan Salahuddin berjumlah 8. Tapi, Belanda malah memfitnah dengan mengumumkan ada 25 orang yang terbunuh.

KGPAA Paku Alam VIII, Raja yang Punya Dedikasi Penuh pada Indonesia

Akhir Pertarungan Salahuddin

Para anggota SI duduk di sepanjang jalan menuju Masjid Nurul Iman dengan beralaskan senjata. Ini demi antisipasi apabila terjadi penyerangan terhadap Salahuddin atau yang paling buruk: pertumpahan darah.

Kala itu, 17 Februari 1947 pukul 16.30, Salahuddin yang memakai jubah jingga tengah menyambut kedatangan Sultan Ternate, seorang tamu kehormatan. Tak sendiri, ia datang dikawal serombongan pembantu tentara (hulptroepen).

Dalam percakapan singkat saat itu, Sultan Ternate berkata bahwa ia ingin membawa Salahuddin ke Ternate untuk bertemu Sultan Tidore. Pemimpin SI itu mengiyakan. Mereka pun langsung bergegas pergi dari situ.

Namun, Salahuddin ternyata ditipu. Para pengikut dipaksa menyerahkan senjata dan naik ke kapal. Sebanyak 2000 senjata rakitan, parang, dan kelewang, berhasil pindah tangan.

Lalu, pada pukul 18.30 waktu setempat, seluruh pimpinan SI diborgol, tangan anggota sayap militer dan para pengikut diikat dengan seutas tali. Keesokan paginya, kapal motor Tidore merapat di dermaga Ternate. Seluruh tahanan kapal itu diturunkan dan dijebloskan ke dalam penjara.

Penangkapan Salahuddin bersama pemimpin SI lainnya menandakan akhir perjalanan organisasi itu juga gerakannya. Tak ada lagi dakwah dan ritual, yang ada hanya kabar bahwa Salahuddin dan enam pimpinan sayap militer SI telah menjadi terdakwa.

Persidangan Pengadlan Negeri Ternate dimulai pada Juli 1947 di Tidore. Tujuh terdakwa tadi dituduh menghasut rakyat untuk berbuat makar, serta tanpa hak hendak merobohkan pemerintahan yang sah dan menggantinya dengan Pemerintah RI.

Di hadapan jaksa, Salahuddin bersama enam lainnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman. Abdul Hadi dikurung di Nusakambangan selama 12 tahun, sedangkan lima pemimpin sayap militer yang lain dipenjara 6-9 tahun di Manado dan Ambon. Sementara Salahuddin? Ia dihukum mati.

Rentetan agenda panjang telah sampai kepada puncaknya, mulai dari pembacaan pledoi hingga pengajuan grasi dari kejaksaan. Namun, semuanya ditolak oleh Letnan Gubernur Jenderal van Mook. Pada 6 Juni 1948, Haji Salahuddin dibawa ke lapangan tembak militer di Skip Ternate. Ia dieksekusi oleh regu tembak tepat pukul 06.00. Setelah itu jasadnya dimakamkan di pekuburan Islam Ternate.

Kini, nama Haji Salahuddin bin Talabuddin telah diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia terbaru pada 7 November 2022. Jasanya dalam memperjuangkan RI akan tetap dikenang, meski jiwanya telah lama menghadap sang pencipta.

Sumber: Buku Kepulauan Rempah-rempah karya M. Adnan Amal

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini