Lentog Tanjung khas Kudus yang Gurih-Gurih Sedap

Lentog Tanjung khas Kudus yang Gurih-Gurih Sedap
info gambar utama

Kudus memang lebih dikenal sebagai wilayah yang memproduksi rokok kretek. Sehingga, wajar kalau ada julukan ‘Kudus Kota Kretek’ yang sudah sangat melekat di benak orang-orang. Bahkan, di beberapa sudut daerah di kudus, siapapun yang lewat bisa mencium harumnya aroma tembakau.

Sebagai daerah yang punya sejarah cukup panjang di Indonesia, tentu Kudus juga punya hal lain yang menjadi daya tarik. Misalnya dari hal kuliner, Kudus juga punya makanan yang tidak kalah enak untuk dicoba. Salah satu yang menjadi rekomendasi adalah lentog tanjung, atau yang biasa dikenal sebagai lentog saja.

Singkatnya, lentog ini adalah lontong sayur khas Kudus yang punya cita rasa tersendiri. Untuk mencari penjual lentog di kota ini tidaklah sulit, sebab bisa ditemui di berbagai sudut kota, khususnya ketika pagi hari saat waktu sarapan.

Sebagai rekomendasi, datanglah ke Sentra Lentog Kudus yang berada di Jl. Raya Kudus-Purwodadi. Di sana, ada banyak penjual lentog yang buka sejak pagi, tinggal pilih saja mau mencoba yang mana.

Arsitektur Masjid Menara Kudus, Keindahan yang Dibalut Toleransi Islam dan Hindu

Sejak Era Awal Perkembangan Islam di Kudus

Di samping produksi kreteknya, Kudus juga terkenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi pusat penyebaran agama islam, khususnya di Jawa. Bahkan, ada satu Wali Songo yang berasal dari sini, yaitu Sunan Kudus. Kemunculan kuliner lentog pun tidak terlepas dari masa ketika agama Islam mulai berkembang di sini.

Saat itu, ada seorang pemuka agama yang sedang membangun padepokan bernama Mbah Kulah. Di sekitar daerahnya, banyak warga penjual nasi yang menimbulkan suara cukup bising. Hal ini cukup mengganggu sang pemuka agama. Karena warga sangat menghormati Mbah Kulah. Untuk menghormatinya, akhirnya lentog jadi alternatif olahan beras yang pembuatanya tidak menimbulkan kebisingan.

Dalam sebutan lokal, lentog sendiri punya arti ‘lontong’ yang menjadi bahan utama dari makanan ini. Lontongnya juga memiliki ukuran yang jumbo, sekitar lengan hingga betis orang dewasa. Menurut sumber lain, lentog berasal dari bunyi ‘tog tog tog’ yang muncul ketika menanak nasi.

Sementara itu, kata ‘Tanjung’ diambil dari nama Desa Tanjungkarang yang jadi tempat kelahiran kuliner ini.

Kisah Sunan Kudus Larang Potong Sapi untuk Hormati Masyarakat Hindu

Lontong yang Lembut dan Kuah yang Gurih

Dulunya, lentog ini adalah makanan yang identik dengan orang-orang menengah ke bawah yang tinggal di wilayah pedesaan di kawasan Kabupaten Kudus. Di zaman itu, lentog kerap dijajakan ke setiap jalanan kota maupun desa dengan menggunakan pikulan.

Seiring berjalannya waktu, makanan ini pun semakin dikenal dan akhirnya menjadi favorit semua kalangan. Penjualnya pun semakin banyak. Bahkan, tak jarang ada orang yang datang dari luar kota hanya untuk mencicipi nikmatnya lentog.

Secara tampilan, makanan ini terlihat seperti lontong sayur pada umumnya, namun dengan kuah yang tidak terlalu banjir. Hanya saja, warna kuahnya bukanlah kekuningan atau kemerahan, tetapi cenderung putih, mirip seperti opor.

Isiannya juga tergolong cukup lengkap dan mengenyangkan sebagai menu sarapan. Pertama, tentunya ada lontong yang jadi isian utama, kemudian ada sayur nangka muda atau gori, tempe, serta tahu. Lalu, kuah santan pun dituangkan di atas semua isian tersebut dengan bawang goreng sebagai pelengkapnya.

Ketika disantap, kelembutan lontong akan terasa yang diiringi dengan gurihnya kuah santan dengan rasa memanjakan lidah.

Karakteristik kuahnya sendiri cenderung light tetapi rempah-rempah yang digunakannya tetap terasa lezat. Apalagi kalau disantap bersamaan dengan nangka muda, tempe, dan tahunya, kenikmatannya akan terasa sangat seimbang dan saling melengkapi.

Supaya lebih afdol, maka pengunjung bisa menambahkan sambal yang kerap disediakan di meja, tinggal ambil sesuai kemauan. Sambalnya juga memiliki cita rasa yang cenderung manis, namun tetap terasa cukup pedas. Ada pula sate-satean, gorengan, serta kerupuk kalau mau menambah lauk pelengkap.

Sabda Alam, Animasi Karya Siswa SMK Asal Kudus dengan Kualitas Kelas Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini