Mengulik Tradisi Mas Kawin Gading Gajah dalam Pernikahan Masyarakat Flores

Mengulik Tradisi Mas Kawin Gading Gajah dalam Pernikahan Masyarakat Flores
info gambar utama

Di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menggunakan gading gajah atau disebut belis sebagai mas kawin untuk perempuan. Tradisi pemberian gading kepada perempuan itu merupakan suatu keharusan bagi sang pria.

Di dalam Suku Lamaholot menyebut pemberian belis yang berupa gading sebagai bentuk penghormatan terhadap harkat dan martabat perempuan. Gading menjadi syarat utama untuk mahar kawin.

Dimuat Kompas, hal ini jelas tidak ringan bagi masyarakat setempat. Bagi perempuan dengan status sosial yang tinggi, seperti bangsawan, belis yang harus diserahkan dari pihak laki-laki akan sangat besar, yakni 7-9 batang.

“Bila diasumsikan harga gading Rp100 juta per batang, karena itu bila diharuskan membeli sembilan batang, total harganya hampir Rp1 miliar,” tulis Samuel Oktora dalam Jejak Peradaban: Tradisi Belis Perlu Disesuaikan dengan Zaman.

Legenda Pelarian Raja Gonzales, Kisah Asal Mula Suku Melayu Portugis di Flores

Karena itulah, ucap Samuel, terkadang hanya karena ketidakmampuan memenuhi mahar gading, suatu perkawinan dapat dibatalkan. Tidak sedikit ditemukan kasus perempuan yang tidak menikah atau perawan tua di kawasan Adonara karena beratnya tuntutan mahar.

Bahkan belis yang diserahkan biasanya juga disertai hewan ternak, misalnya kambing 4 ekor dan babi 2 ekor. Jumlah itu bergantung pada permintaan pihak perempuan. Itu juga belum termasuk resepsi atau pernikahan.

“Akibat beratnya belis yang diminta pihak perempuan, terkadang ada kesepakatan dengan pihak laki-laki. Agar pernikahan tetap berjalan, dibayar dulu mahar kawin, khususnya untuk air susu ibu. Biasanya, air susu ibu berupa satu gading. Kekurangan belis lainnya akan dibayar kemudian setelah pernikahan,” kata Kepala Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat, Yosef Fernandez.

Sulit ditemukan

Mahar belis yang berlaku di kalangan Suku Lamaholot memang cukup dilematis karena semakin sulit mendapatkan gading setiap kali digelar perkawinan adat. Hal ini karena itu bukan tempat berkembang biak gajah sehingga gading sulit didapat.

Sulitnya mendapatkan gading gajah sebagai belis membuat sebagian besar keluarga pria hanya mengakui mas kawin dari generasi ke generasi. Ada pula gading yang diyakini memiliki kekuatan gaib sehingga diberi penghormatan khusus.

“Perlu digali lebih jauh mengapa di Flores atau NTT tidak ada gajah, tetapi masyarakat zaman dulu memilih batang gading gajah sebagai mahar. Ini menarik untuk dibahas dan diteliti lebih serius. Gading sangat langka sehingga harganya sampai ratusan juta per batang,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, Jawa Timur dimuat Kompas.

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Karena sulit menyediakan mahar dalam jumlah besar, kadang pihak laki-laki dapat menyerahkan simbol gading hasil pinjaman. Namun hal tersebut bergantung pada kesepakatan pihak laki-laki dan perempuan.

Adapun gading itu bisa dipinjam dari lingkungan keluarga laki-laki sendiri atau dari keluarga kalangan bangsawan yang mempunyai banyak gading, bahkan dari pihak perempuan atau calon si istri sendiri.

“Istilahnya, mete rerong balik rema, dibawa siang pulang (dikembalikan) malam. Di lingkungan desa kami, ada yang melakukannya meskipun hal semacam ini diupayakan disimpan rapat-rapat. Hanya pihak perempuan dan laki-laki yang mengetahui, jangan sampai diketahui orang luar,” kata Frans de Rosari, Kepala Desa Hurung, Kecamatan Adonara Barat.

Disesuaikan zaman

Disebutkan oleh Frans, sudah saatnya beban belis yang terlampau berat diringankan. Alasannya, untuk memenuhi belis yang sangat mahal, ucap Frans, keluarga laki-laki bisa jatuh miskin.

“Kalau untuk meniadakan tradisi belis tak mungkin sebab ini warisan budaya leluhur yang sulit dihilangkan karena sudah berakar ratusan tahun. Apalagi yang menentukan belis ini juga tua-tua adat. Kalau tua adat sudah bicara, keputusan tak bisa lagi diubah,” jelasnya.

Disebutkan oleh Frans, tidak mudah mengubah adat belis ini karena pertimbangan gengsi atau status sosial keluarga besar. Namun kesadaran untuk tak lagi mencari gading hingga ke luar Adonara, sudah semakin besar.

Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental

Rektor Universitas Katolik Santo Paulus, Ruteng, Pastor Yohanes Servatius Lon SVD mengatakan perkawinan adat di Manggarai tidak menggunakan gading gajah, tetapi kerbau dan sapi.

Jumlah hewan ini sesuai kesepakatan kedua pihak, keluarga pria dan perempuan. Selain itu masih ada pemberian dari keluarga pria sebagai ganti “air susu ibu” dalam bentuk uang berjumlah Rp50 juta-Rp100 juta.

Saat ini, mas kawin di Manggarai sudah mulai bergeser, yakni dengan pemberian kendaraan roda empat atau roda dua. Pasalnya, mas kawin yang disebut belis ini dinilai sebagai kalangan masyarakat Manggarai cukup membebani keluarga pria.

“Karena itu, banyak laki-laki dari Manggarai mencari pasangan hidup di luar daerah itu,” papar Kornelis Kewa Ama yang dimuat Dilematis Belis Gading Gajah Suku Lamaholot di Nusa Tenggara Timur.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini