Si Kipo, Kue Mungil nan Manis Legit Khas Kotagede

Si Kipo, Kue Mungil nan Manis Legit Khas Kotagede
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Daerah Istimewa Yogyakarta masyhur sebagai daerah tujuan wisata favorit. Daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Gudeg ini, selalu ramai dengan wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Jika Kawan GNFI berencana ingin berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa juga untuk mampir ke Kotagede.

Kotagede merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kota Yogyakarta. Kotagede termasuk kawasan yang bersejarah karena pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Ada beberapa bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang masih bisa kita lihat hingga saat ini, seperti Watu Gatheng dan reruntuhan Benteng Cepuri. Selain itu, Kotagede juga terkenal dengan kerajinan peraknya. Oleh karena itu, Kotagede dijuluki sebagai Kota Perak.

Selain berwisata menikmati warisan bangunan bersejarah di Kotagede, tak lengkap rasanya jika tidak menikmati kulinernya. Kawan GNFI wajib mencicipi jajanan tradisional khas Kotagede yang sayang jika dilewatkan. Salah satu jajanan tradisional khas Kotagede yaitu kipo. Kawan GNFI, sudah tahu belum apa itu kipo?

Apa itu Kipo?

Kipo adalah jajanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan dengan isian unti kelapa atau enten-enten. Kue legendaris Kotagede ini memiliki rasa yang manis dan legit. Kue kipo berbentuk lonjong dan berwarna hijau yang berasal dari daun pandan atau daun suji. Kue hijau ini dapat dinikmati hanya dengan satu suapan, karena ukurannya yang mungil sebesar ibu jari orang dewasa.

Sekilas, kue kipo mirip dengan klepon, yaitu berwarna hijau dan dalamnya berisi enten-enten. Namun, perbedaannya adalah kue kipo dimasak dengan cara dipanggang dan dialasi dengan daun pisang. Kipo termasuk kue basah dan tidak bisa tahan lama, sebab masa kedaluwarsa kipo tidak lebih dari 24 jam. Mengutip dari Kompas.com, walaupun masa simpan kipo selama 24 jam, sebenarnya kipo ini tidak basi, hanya teksturnya menjadi keras. Sementara itu, isiannya berupa unti kelapa atau enten-enten dapat bertahan selama empat hari.

Sejarah Singkat Kue Kipo

Mengutip dari Kompas.com, ternyata kipo sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam. Namun, keberadaan kue ini sempat punah. Pada tahun 1946, kue ini kembali dibuat oleh Mbah Mangun Irono. Kala itu, Mbah Mangun menjajakan kue ini di depan rumah bersama anaknya, Djito Suharjo, dan banyak pembeli yang bertanya dengan bahasa Jawa, "iki opo?". Dari pertanyaan tersebut, pada akhirnya, kue hijau ini diberi nama kipo. Kipo merupakan akronim dari "iki opo" yang berarti "ini apa".

Cara Pembuatan Kipo

Satu Porsi Kipo | Foto : Hanang Andre/jogjadaily.com
info gambar

Berdasarkan video milik Arsip Kota Yogyakarta, bahan utama untuk membuat kipo antara lain tepung ketan, sari daun suji, parutan kelapa muda, dan gula Jawa. Tahap pertama pembuatan kipo yaitu tepung ketan diberi pewarna dari sari daun suji yang sudah dicampurkan dengan satu sendok kapur sirih. Untuk isiannya merupakan campuran parutan kelapa muda dan gula Jawa yang dicairkan, kemudian dimasak hingga tanak. Adonan tepung ketan berwarna hijau yang sudah dibuat sebelumnya, diambil sebesar kelereng, lalu dipipihkan dengan dialasi daun pisang yang sudah diolesi minyak goreng. Selanjutnya, diisi dengan enten-enten dan dibentuk seperti pastel mini, lalu dipanggang di alat pemanggang gerabah yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Adonan kipo yang dipanggang juga dialasi dengan daun pisang. Selama memanggang, kipo dibalik ke sisi satunya. Jika kue kipo sudah berubah warna, kipo bisa diangkat dan disajikan.

Biasanya saat proses memanggang, ada sekitar lima sampai enam butir kipo yang disusun berjajar di atas lembaran daun pisang. Daun pisang yang digunakan menghasilkan aroma sedap yang menambah kelezatan kue kipo.

Untuk bisa menikmati lezatnya kue mungil ini, Kawan GNFI tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Satu porsi yang berisi lima butir kipo dihargai Rp 2.500. Jika ingin membeli kue kipo, Kawan GNFI bisa mencarinya ke Jalan Mondorakan. Kue lawas yang bercita rasa manis, gurih, dan legit ini termasuk jajanan yang murah meriah dan cocok dijadikan sebagai camilan teman minum teh atau kopi. Bagaimana, tertarik untuk mencicipi lezatnya kipo?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini