Benteng Kuto Besak, Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang Dulu Berdiri di Atas Pulau

Benteng Kuto Besak, Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang Dulu Berdiri di Atas Pulau
info gambar utama

Sebagai wilayah yang dulunya terdiri atas berbagai kerajaan, Indonesia memiliki berbagai peninggalan bersejarah sebagai jejak dari kerajaan di masa lampau tersebut. Termasuk salah satu hal yang sangat penting dari sebuah kerajaan, yaitu istana sang raja.

Mengenai istana kerajaan yang masih berdiri, tentu Indonesia tak hanya punya Keraton di Yogyakarta dan Surakarta saja. Di Kota Palembang, ada sebuah istana megah yang masih berdiri hingga saat ini, yaitu Benteng Kuto Besak.

Istana ini berlokasi di jantung Kota Palembang, tepatnya di tepian Sungai Musi, tepatnya di Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil.

Mengapa Banyak Orang Palembang yang Mirip Orang Tionghoa?

Istana Kerajaan Palembang Darussalam

Tidak cuma terkenal sebagai pusat dari Kerajaan Sriwijaya di masa jayanya, ada satu lagi kerajaan besar yang berdiri ratusan tahun pasca Sriwijaya, yaitu Kesultanan Palembang Darussalam.

Kerajaan Palembang Darussalam sendiri adalah sebuah kerajaan islam besar yang berpusat di kota pempek ini. Nah, istana ini adalah sebuah bangunan yang dulunya digunakan oleh Kesultanan Palembang Darussalam sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat dari sang raja.

Menurut sejarahnya, istana ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1780 dan diteruskan oleh pemimpin selanjutnya, yaitu Sultan Mahmud Bahauddin.

Lalu, pada 1792 barulah sang sultan mulai berpindah dari Benteng Kuto Lama ke Benteng Kuto Besak.

Ratu Sinuhun: Tonggak Lahirnya Undang-Undang Ramah Perempuan di Palembang

Diapit empat sungai dikelilingi benteng

Dari segi lokasi ketika benteng ini pertama kali dibangun bisa dikatakan cukup unik, sebab berdiri dengan dikeliling oleh empat sungai yang saat itu menjadi pusat kehidupan di Palembang. Yaitu Sungai Tengkurung, Sungai Kapuran, Sungai Sekanak, dan Sungai Musi.

Namun, ketiga sungai selain Sungai Musi tersebut ditimbun oleh pemerintah Belanda untuk dimanfaatkan sebagai jalan utama dan lingkungan permukiman warga.

Sehingga, bisa dikatakan kalau istana ini berdiri di atas sebuah pulau di tengah sungai-sungai utama di sebuah kota.

Keraton ini berhadapan langsung dengan Sungai Musi dan berdiri di atas tanah yang luas. Di dalam wilayah istana sendiri terdapat sebuah halaman yang besar, gerbang yang megah, ruang pertemuan, paseban, dan tentunya tempat tinggal bagi anggota kerajaan.

Sesuai dengan namanya, istana atau keraton ini dikelilingi oleh sebuah benteng besar yang dilengkapi dengan selekoh, tempat untuk artileri persenjataan atau meriam.

Mengenai arsitek pembangunan keraton sendiri dilakukan oleh orang Tionghoa yang saat itu memang menjadi salah satu etnis pendatang yang sudah bermukim lama dengan masyarakat Palembang.

Secara material, Benteng Kuto Besak dibangun dari batu kapur yang dicampur dengan kulit kerang yang dihancurkan serta batu-batuan lainnya.

Sebagaimana dikutip dari situs Giwang Sumsel, ada pula penggunaan material tambahan untuk penguat seperti putih telur dan rebusan tulang serta kulit sapi dan kerbau.

Saat itu, Benteng Kuto Besak menjadi tempat dari Komando Distrik Militer Sriwijaya. Selain itu, istana ini juga menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Kota Palembang yang berkonsep kawasan wisata yang menyajikan berbagai daya tarik, termasuk salah satunya adalah bangunan yang kini difungsikan menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Kue Delapan Jam Palembang, Si Manis yang Filosofis

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini