Kemasyhuran Barus yang Pernah Hilang Ditelan Gelombang Besar Tsunami

Kemasyhuran Barus yang Pernah Hilang Ditelan Gelombang Besar Tsunami
info gambar utama

Barus merupakan kota kecil di pesisir pantai barat Sumatra Utara, persis di sebelah utara Singkil. Kota ini kini hanyalah kecamatan kecil yang sepi, Namun sejarah Barus sebenarnya sangat tua, setua kapal-kapal asing pernah singgah mencari kapur barus dan emas.

Dituntun oleh catatan kejayaan masa lalu, kota-kota ini pudar cahayanya. Barus dan singkil telah tamat. Hal ini dipercaya karena terjangan tsunami yang menghilangkan kejayaan Barus hingga sekarang.

Barus di tepian pantai barat Sumatra pernah menjadi kota yang sedemikian populer. Para pelaut Arab pada abad ke 7 hingga 11 menyebut pelabuhan itu dengan berbagai nama yakni Barus, Fansur, Pansur, atau Panchur.

Jejak Barus Sebagai Titik Nol Peradaban Islam di Nusantara

Catatan lebih tua dari para pelaut China menyebut Barus sebagai P’o lu. Disebutkan, pendeta Buddha, I Tsing dalam perjalanan ke India pada abad ke 7 singgah di tempat bernama P’o -lu-shih di dekat Sribhoga.

Catatan tertua mengenai Barus juga terdapat dalam kitab Geographia yang dibuat Claudius Ptolomeus pada abad ke 2, berdasarkan keterangan para pedagang India. Ptolomeus menyebut Barus sebagai Barousai.

“Di pelabuhan yang berada di tepian Samudra Hindia itulah kapal-kapal dagang dari sejumlah negara mencari komoditas berharga, seperti kapur barus, emas, dan madu, di Barus saat itu diperkirakan berkembang komunitas dagang multietnis,” tulisnya yang dimuat Kompas.

Jejak yang hilang

Tetapi jejak Barus itu kemudian hilang sekitar abad ke 12. Pada abad itu, jejak peninggalan Barus yang sebelumnya tersebar luas tiba-tiba lenyap. Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu menyebutkan kehancuran Barus karena gergasi.

“Cerita lokal menyebutkan, gergasi adalah sosok raksasa yang datang dari lautan,” paparnya.

Setelah hilang tiba-tiba pada sekitar abad ke 12, Barus kembali muncul sekitar empat abad kemudian. Jane Drakard dalam An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus menyebutkan nama Barus pada abad 16 hingga abad 17.

Selama ini, hilangnya Barus secara tiba-tiba pada abad ke 12 masih menjadi misteri. Sosok gergasi juga mengundang banyak tafsir. Peneliti Puslit Arkenas, Sonny Ch Wibisono menyebutkan banyak ahli menafsirkan sosok gergasi adalah bajak laut.

Dari Perdagangan Hingga Ditulis Dalam Al-Quran, Inilah Cerita tentang Kapur Barus

Tetapi setelah gelombang tsunami menggulung pantai barat Aceh pada 26 Desember 2004, mulai muncul kesadaran baru bahwa bencana alam itu berperan penting mengubah sejarah di pantai barat.

Penelitian Kerry Sieh dari California Institute of Technology sejak 1994 menemukan wilayah zona subduksi pantai barat Sumatra memiliki riwayat gempa dan tsunami. Menurutnya gempa dan tsunami pernah terjadi di wilayah ini pada 1381, 1608, 1797, dan 1833.

Belakangan pada 2008, Widjo Kongko, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan enam peneliti lain menemukan jejak tsunami raksasa pernah terjadi pada tahun 1290-1400.

Dari temuan deposit tsunami yang tersebar luas, mulai dari Meulaboh hingga Thailand, Widjo memperkirakan tsunami pada tahun tersebut sekuat yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam.

“Bisa jadi memang tsunami pernah melanda Barus,” kata Wibisono.

Jejak tsunami

Wibisono juga menemukan ada perpindahan masyarakat Barus pada masa lalu ke arah bukit. Temuan yang berusia lebih muda, sekitar abad ke 14 kebanyakan ada di sekitar Bukit Hasang.

Dikatakan olehnya, jejak tsunami ini pula yang ditemukan saat melihat lokasi peninggalan arkeologi di Lobu Tua. Hamparan pasir laut memenuhi kebun kopi dan kelapa, sejarak 2 kilometer dari laut.

Selain itu, hampir semua peninggalan purbakala yang ditemukan terkubur lapisan pasir laut sedalam 1 meter. Wibisono juga menemukan runtuhan batu bata yang diperkirakan bekas bangunan. Lokasi penemuan berjarak 2 kilometer dari pantai.

5 Tanaman Berharga di Indonesia Yang Telah Terkenal Sejak Zaman Pertengahan

“Bisa saja Lobu Tua dulu pernah terkena tsunami besar. Tetapi, saat itu kami belum berpikir soal tsunami,” katanya.

Wibisono menjelaskan bahwa tsunami ketika itu belum populer dalam khazanah penelitian di Indonesia. Karena itulah, jelasnya, perlu pada penelitian lagi yang mengintegrasikan arkeologi dan geologi.

Widjo bersama tim juga melakukan pengeboran pada tahun 2007-2008 dan menemukan lapisan tanah yang diduga terbentuk akibat tsunami raksasa pada masa lalu. Tsunami ini diperkirakan terjadi pada tahun 780-990 dan 1290-1400.

“Data yang kami temukan ini terkonfirmasi dengan penggalian serupa yang dilakukan di Pulau Phra Thong, Thailand. Di sana, tim peneliti yang lain menemukan deposit tsunami dengan usia sekitar tahun 1300-1450,” kata Widjo.

Disebutkan dalam penelitiannya temuan di Thailand itu menunjukkan tsunami terjadi sekitar 600 tahun lalu berskala global. Temuan geologis tentang tsunami besar terjadi pada tahun 1290-1400 ini menarik dikaitkan dengan periode hilangnya di Barus.

“Bisa jadi memang peradaban kita pada masa lalu muncul dan hilang karena dipengaruhi oleh peristiwa alam gempa dan tsunami,” jelasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini