Selamatkan Burung dengan Cara Unik Bersama Mas Kelik

Selamatkan Burung dengan Cara Unik Bersama Mas Kelik
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Di suatu pagi, saya menapaki jalan setapak di tengah hutan. Udara yang begitu sejuk ditambah kicauan burung menjadikan suasananya betul-betul menenangkan. Hutan sejatinya memberikan manfaat yang teramat banyak. Selain memberikan ketenangan, ia juga menyerap racun gas-gas karbondioksida dari napas kita maupun asap kendaraan bermotor.

Namun, sayangnya banyak manusia yang tidak peka dengan manfaat hutan dan cenderung merusaknya. Menebangi hutan hingga memburu berbagai satwa liar di dalamnya adalah tindakan yang masih sering kita baca beritanya hingga sekarang. Padahal dua hal tersebut selain merusak hutan, juga membahayakan kehidupan kita.

“Membahayakan manusia? Bagaimana bisa?”

Contoh yang seringkali kita dengar sejak kecil adalah hutan rusak akan menyebabkan banjir maupun tanah longsor. Namun, tidak terbatas pada itu saja ancaman yang kita dapatkan. Menurut Rainforest Alliance, hutan yang rusak karena penebangan liar maupun perburuan satwa liar di dalamnya dapat menyebabkan zoonosis (penyakit yang menyebar melalui hewan) lebih mudah berpindah kepada manusia.

Salah satu kelompok satwa liar yang sering diburu di Indonesia adalah burung. Menurut BirdLife International, Indonesia adalah negara dengan burung terancam punah tertinggi di dunia. Salah satu penyebab terbesarnya adalah perburuan burung.

Status Burung Indonesia 2022 | Dok. Burung Indonesia
info gambar

Meskipun Indonesia memiliki burung hingga mencapai 1.818 jenis, fakta “rangking 1” tingkat kepunahan burung tentu tidak boleh diabaikan. Berbagai upaya dilakukan para pemangku kebijakan untuk menekan perburuan burung seperti dengan mengadakan patroli hutan.

Tidak hanya pemerintah yang bertindak, komunitas pelestari lingkungan juga bergerak. Bahkan, ada juga mantan pemburu burung yang beralih profesi menjadi penyelamat burung, yaitu Kelik Suparno.

Dokumentasi oleh Rekam Nusantara
info gambar

Kelik Suparno atau yang akrab disapa Mas Kelik adalah seorang kader konservasi dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi Desa Jatimulyo Kulon Progo. Sebelumnya, beliau adalah pemburu burung ulung yang telah menangkap berbagai jenis burung liar.

Semakin banyak burung yang beliau tangkap, semakin sepi hutan di sekitar desanya. Pada akhirnya, Mas Kelik kehilangan kicauan merdu burung, khususnya burung sikatan cacing (Cyornis banyumas). Kehilangan kicauan burung di hutan menjadikannya berhenti sebagai seorang pemburu.

Burung Sikatan Cacing | Dokumentasi oleh Kelik Suparno
info gambar

Berawal dari niat yang baik untuk menghidupkan kembali melodi-melodi di dalam hutannya, berbagai pihak seperti Lembaga Swadaya Masyaratakat (LSM) datang untuk membantu pelestarian burung di desanya. Hingga di tahun 2014, Pemerintah Desa Jatimulyo menerbitkan peraturan desa (Perdes) No. 8 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Salah satu ayatnya menyebutkan semua jenis burung dan ayam hutan di desa Jatimulyo dilindungi dan bagi yang memburunya akan dikenakan hukuman.

Kehadiran perdes tersebut menjadi angin segar bagi Mas Kelik dan masyarakat Jatimulyo yang peduli dengan alam. Meski mereka tidak tahu bagaimana nasib burung di hutan mereka di masa depan, tetapi setidaknya sudah ada benteng hukum yang membantu menguatkan langkah mereka. Bahkan lahirnya Perdes tersebut menjadikan Jatimulyo dikenal sebagai Desa Ramah Burung.

Mendapat julukan Desa Ramah Burung tidak serta merta menjadikan burung-burung di desa Jatimulyo kembali melimpah. Burung sikatan cacing juga masih sulit dijumpai. Dua tahun sejak Perdes No. 8 Tahun 2014 diterbitkan, jumlahnya pun hanya tiga ekor.

Melihat kenyataan, Mas Kelik dan rekannya mencoba mencari cara agar populasi burung di desanya dapat bertambah secara nyata. Berkaca dari pengalaman ketika menjadi pemburu burung, Mas Kelik kala itu suka memburu burung yang masih anakan atau berada dalam sarang. Dari memori itulah, di tahun 2016 beliau dan kawan-kawannya memutuskan untuk menjaga sarang-sarang burung yang mereka temukan di desa.

Kegiatan menjaga sarang burung bertujuan untuk memastikan anakan burung dapat meninggalkan sarang dengan selamat. Untuk mencapai tujuan tersebut, Mas Kelik dan rekannya rela mengamati dan menjaga sarang burung selama berhari-hari sampai berminggu-minggu.

Menjaga sarang burung tidak hanya memerlukan waktu yang lama, tetapi juga beberapa perlengkapan untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Misalnya, para penjaga sarang memerlukan hide atau kain kamuflase yang menutupi mereka dari penglihatan induk burung. Ini penting agar induk burung tidak merasa terganggu oleh keberadaan Mas Kelik dan para penjaga sarang lainnya.

Menggunakan peralatan penunjang kegiatan berarti membutuhkan dana. Oleh karenanya, Mas Kelik dan teman-temannya menyepakati kegiatan menjaga sarang perlu melibatkan pihak lain sebagai sumber pendanaan. Skema kegiatannya di kemudian hari disebut dengan Program Adopsi Sarang Burung.

Skema Adopsi Sarang | Dokumentasi oleh KTH Wanapaksi
info gambar

Adopsi sarang burung ini sangat unik. Bahkan disebut-sebut sebagai program pertama di Indonesia. Konsepnya pun sederhana. Jika ada sarang burung yang ditemukan, Mas Kelik akan mengumumkannya untuk mencari adopter (pihak donor) yang berkenan mengadopsi anakan burung tersebut. Mengadopsi anakan burung bukan berarti mengambilnya dari sarang lalu dibesarkan di sangkar ya, hehe. Namun, menjaga anakan burung tetap berada di dalam sarang dan selamat dari para pemburu.

Manfaat adopsi sarang burung tidak hanya untuk alam berupa kelestarian burung, tetapi sosial masyarakat di Jatimulyo juga mendapat manfaatnya. Dana dari adopter mengalir pada beberapa lini, seperti kas KTH Wanapaksi untuk membeli peralatan penunjang program, infrastruktur RT RW, hingga dialokasikan sebagian untuk diberikan kepada pemilik lahan di mana sarang burung ditemukan.

Tujuan aliran dana pada perbaikan infrastruktur RT RW dan untuk pemilik lahan agar semakin banyak masyarakat Jatimulyo yang sadar bahwa melestarikan alam itu banyak manfaatnya, bahkan hingga membantu perekonomian mereka.

Capaian Adopsi Sarang Burung | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Adopsi sarang burung yang konsisten dilakukan menetaskan hasil yang memuaskan. Berdasarkan penuturan Mas Kelik, untuk jenis burung sikatan cacing yang di tahun 2016 hanya tersisa 3 ekor, semenjak dilakukan adopsi sarang hingga di tahun 2020 jumlah anakan yang terselamatkan mencapai 22 ekor. Selain sikatan cacing, per bulan Oktober 2021 program ini telah mengadopsi sembilan jenis burung lainnya dengan jumlah sarang yang dijaga hingga 47 sarang.

Hasil lain dari adopsi sarang dan program konservasi lainnya di Jatimulyo adalah Mas Kelik mendapatkan penghargaan Wana Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Terbaik III Nasional kategori Kader Konservasi Alam di tahun 2018.

Tentu di awal perjalanan pelestarian alam yang Mas Kelik lakukan, beliau tidak terbayang seorang mantan pemburu burung akan mendapatkan penghargaan nasional. Penghargaan dari pemerintah bukanlah tujuan atau pegangan beliau. Hal yang beliau pegang adalah saat berusaha melestarikan alam, maka masyarakat Jatimulyo akan mendapat kehidupan yang lebih baik misalnya dengan terjaganya sumber air. Nilai itu pula yang Mas Kelik sebarkan kepada warga lainnya hingga saat ini.

KTH Wanapaksi Berbagi Semangat Konservasi | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini