Sejarah Lumpia Semarang, Dari Kisah Cinta Menjadi Kuliner Khas Kota

Sejarah Lumpia Semarang, Dari Kisah Cinta Menjadi Kuliner Khas Kota
info gambar utama

Bicara soal Kota Semarang, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sebuah kuliner khas bernama lumpia. Bahkan, kota ini pun punya julukan sebagai Kota Lumpia.

Memang, makanan ini seakan telah membudaya di masyarakat Semarang. Bila para wisatawan yang datang dari luar kota berkunjung ke kota ini, maka salah satu kuliner yang kerap diburu atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh adalah lumpia ini.

Makanan ini sendiri memang terkenal sebagai kuliner adaptasi dari Tionghoa dan banyak berkembang di kawasan pecinan Kota Semarang. Lantas, bagaimanakah sejarah awal dari kuliner yang satu ini hingga menjadi sebuah ikon otentik dari sebuah kota?

Tak Melulu Lumpia, Hidangan Ini Jadi Incaran Saat Mampir ke Kota Semarang

Semarang dan etnis Tionghoa

Di zaman dahulu, Kota Semarang memang sudah terkenal sebagai pusat perdagangan. Pelabuhannya pun tergolong cukup sibuk dan banyak didatangi oleh para pedagang yang berasal dari berbagai penjuru.

Mereka pun tidak hanya dari daerah nusantara saja, melainkan juga ada yang berasal dari mancanegara. Yang mana, pada saat itu etnis Tionghoa pun menjadi orang-orang yang kerap mendatangi pelabuhan ini.

Mereka pun akhirnya banyak yang bermukim di kota ini, hingga akhirnya terbentuklah sebuah perkampungan yang berisikan masyarakat Tionghoa yang kini menjadi pecinan Semarang.

Perlahan kebudayaan mereka pun mulai menyatu dengan masyarakat sekitar dan membaur sebagai bagian dari kehidupan Kota Semarang.

Beberapa Ratus Tahun Lalu, Sebagian Kota Semarang adalah Lautan

Antara bisnis dan kisah cinta

Tentu, produk kebudayaan masyarakat Tionghoa juga menjadi sebuah hal yang semakin dikenal di kota ini. Termasuk salah satunya adalah mengenai kuliner. Banyak orang-orang Tionghoa yang saat itu berprofesi menjadi pedagang makanan.

Salah satu dari sekian pedagang tersebut ada yang bernama Tjoa Thay Yoe yang datang pada tahun 1800.

Saat itu, ia menjadi seseorang yang mencoba peruntungan dengan membuka tempat makan yang menyajikan kuliner khas negaranya, yaitu makanan berupa martabak yang diisi dengan daging babi dan rebung.

Di saat ketika ia menjadi pedagang tersebut, ada pula pedagang yang menjual makanan yang mirip dengan apa yang ia jual, hanya saja terbuat dari isian dari telur, kentang, dan udang. Cita rasanya juga menyesuaikan dengan rasa yang manis, sesuai dengan lidah orang-orang Jawa.

Pedagang ini bernama Mbak Wasih.

Meskipun bersaing, mereka tidaklah saling menjatuhkan satu sama lain. Bahkan mereka pun menjalin hubungan baik, hingga akhirnya timbul rasa cinta di antara mereka.

Akhirnya Tjoa Thay Yoe dan Mbak Wasih pun menikah. Hal ini pun membuat bisnis mereka akhirnya mengalami penyatuan operasional. Tak hanya itu, resep dari makanan mereka pun saling disatukan dan disempurnakan. Hal ini agar makanan yang mereka jual bisa semakin disukai oleh masyarakat.

Hingga akhirnya, makanan Tionghoa dari Tjoa Thay Joe pun dibuat dengan halal dengan mengganti babi dengan ayam atau udang. Sementara itu, kulit dari makanannya tetap menggunakan kulit khas Tionghoa. Rasa makanan juga dibuat sesuai dengan bagaimana racikan dari Mbak Wasih yang cenderung manis.

Dari hal ini pun, terciptalah kuliner baru yang kini dikenal sebagai lumpia Semarang yang menjadi favorit banyak orang.

Usaha ini pun diteruskan kepada anak-anaknya, Siem Gwan Sing dan Siem Hwa Noi yang akhirnya membuka cabang di daerah Jalan Mataram. Sementara anak lainnya yang bernama Siem Swie Kiem meneruskan tempat usaha aslinya yang berada di Gang Lombok

Perkumpulan Rasa Dharma dan Pluralisme dari Etnis Tionghoa Semarang




Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini