Aprilani Soegiarto dan Kisah Berdirinya Lembaga Oseanografi Indonesia

Aprilani Soegiarto dan Kisah Berdirinya Lembaga Oseanografi Indonesia
info gambar utama

Jika bicara mengenai kelautan, hingga saat ini sejatinya ada peran khusus yang sangat dibutuhkan sebagai tenaga ahli dalam pengelolaan kehidupan kelautan, yakni ahli kelautan atau yang dikenal juga dengan istilah oseanografer.

Seorang ahli kelautan bekerja dengan melakukan penelitian tentang kondisi laut di berbagai wilayah. Tak jarang, seorang ahli kelautan juga bertanggung jawab mengelola kawasan konservasi di perairan.

Tentu, sebagai negara kepulauan yang sekeliling wilayahnya juga dilingkupi wilayah perairan, peran tenaga ahli di bidang ini sangat penting. Biasanya mereka dibutuhkan untuk melakukan riset, observasi, dan pemantauan potensi kelautan tanpa merusak alam.

Di Indonesia, tenaga ahli kelautan mengalami regenerasi yang cukup panjang sejak awal keberadaannya.

Ada satu nama yang hingga saat ini dikenal sebagai pionir dalam hal tenaga ahli kelautan, yakni Aprilani Soegiarto.

Prospek dan Pentingnya Profesi Ahli Kelautan di Indonesia

Perjalanan bidang oseanografi di Indonesia

Angkatan pertama oseanografi Indonesia | Dok. LIPI
info gambar

Lahirnya ilmu kelautan atau oseanografi di tanah air bermula saat Indonesia mulai memperjuangkan kemerdekaan dan mengusir semua orang Belanda keluar wilayah.

Keputusan tersebut di sisi lain membuat seluruh tenaga ahli Belanda yang bekerja di lembaga-lembaga penelitian Indonesia harus hengkang. Hal tersebut menyebabkan lumpuhnya lembaga-lembaga penelitian utama, karena Belanda tidak menyiapkan SDM pribumi sebagai peneliti sejak awal.

Adapun lembaga penelitian yang terdampak salah satunya adalah Lembaga Penelitian Laut di Pasar Ikan, Jakarta, yang secara kelembagaan bernaung di bawah Kebun Raya Indonesia.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, Prof. Kusnoto Setjodiwirjo selaku Kepala Kebun Raya Indonesia, segera memutuskan untuk mendirikan Akademi Biologi tahun 1955 yang kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta.

Pada tahun 1957, akademi tersebut membukan pendaftaran dengan proses seleksi yang ketat. Mereka yang lolos akan mendapat beasiswa ikatan dinas, dalam artian setelah lulus wajib berdinas di lembaga penelitian yang telah diarahkan.

Salah satu jurusan yang dibentuk di bawah naungan Kebun Raya Bogor adalah penelitian laut (oseanografi). Jurusan tersebut dibuka dengan mengandalkan pengasuhan dari oseanografer ternama.

Para mahasiswa pilihan angkatan pertama itu diasramakan dan digembleng oleh para pengajar ahli, bukan saja oleh guru besar Indonesia tetapi juga oleh para pakar yang didatangkan dari berbagai negara antara lain dari Jerman, Denmark, Canada, Hongaria, dan Amerika. Dalam pengajarannya, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar.

Di sinilah cikal bakal lembaga oseanografi Indonesia di mulai. Saat itu jurusan penelitian laut dibuka di bawah asuhan oseanogafer ternama asal Jerman, yakni Prof. Klaus Wyrtki. Saat itu tercatat ada empat orang yang memilih jurusan ini, yakni Aprilani Soegiarto, Kasijan Romimohtarto, Subagjo Soemodihardjo, dan Syarmilah Syarif.

Mereka berempat menjadi generasi pertama oseanografer Indonesia yang berpendidikan akademi. Karena pada saat itu belum ada satupun perguruan tinggi lainnya di Indonesia, yang membuka fakultas atau jurusan ilmu kelautan/perikanan.

Lulus dari akademi, keempat orang tersebut kemudian ditugaskan di Lembaga Penelitian Laut, yang sekarang dikenal sebagai Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Kampung Akuarium, Jejak Laboratorium Oseanografi Terbesar di Asia Tenggara

Peran Aprilani Soegiarto

Aprilani Soegiarto | Dok. LIPI
info gambar

Dari ke-empat nama yang telah disebutkan di atas, satu yang paling berperan di antaranya adalah Aprilani. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan cerdas dan tekun di bidang oseanografi.

Kiprah Aprilani sebagai peneliti oseanografi telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di bidang kemaritiman. Dedikasi darinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan bahkan juga telah diakui di tingkat nasional dan internasional.

Pada tahun 1972 Aprilani dipercaya menjadi Direktur Lembaga Oseanografi Nasional (LON), yang merupakan cikal bakal Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Ia mengungkap jika kala itu oseanografi di Indonesia masih sangat terbatas.

“Saat itu oseanografi masih sangat kecil. Kami belum punya Ph.D. Anggaran yang kami terima hanya Rp 50 juta. Mau meneliti apa coba?” ujarnya, mengutip Kompas.com.

Namun ternyata dengan anggaran kecil, Aprilani tetap bisa memberikan kontribusi yang nyata. Dalam bidang pembinaan sumber daya manusia, ia berhasil mengorbitkan sebanyak 16 Ph.D. ahli di bidang terkait, selama masa kepemimpinan di lembaganya.

Lain itu dia juga berhasil menghasilkan karya penelitian yang diakui oleh dunia dan bahkan diaplikasikan secara luas.

Aprilani beberapa kali mendapat penghargaan internasional seperti ilmu pengetahuan Sarwono Award 2003, WorldFish Achievement Award 2003, Silver Medal dari Wageningen University and Research Center pada April 2003, dan masih banyak lagi.

Meski sudah wafat pada tahun 2018 silam, oleh seluruh peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, ia dipandang sebagai sosok yang berjasa besar bagi bidang oseanografi di Indonesia.

Berkat Teknologi Ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan Bakal Bisa Awasi Kapal di Laut Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini