Mengenal Taekwondo: Dari Sejarah, Teknik Dasar, hingga Tingkatan Sabuk

Mengenal Taekwondo: Dari Sejarah, Teknik Dasar, hingga Tingkatan Sabuk
info gambar utama

Taekwondo adalah olahraga beladiri modern dari Korea Selatan yang sering dipertandingkan di ajang olimpiade. Seperti beberapa beladiri lainnya, taekwondo juga memiliki unsur gerakan kaki dan tangan, serta tingkatan sabuk.

Menurut Ria Ristina lewat bukunya yang bertajuk Dr. Olahraga Mengajarkan Tae Kwon Do (2012), taekwondo berasal dari tiga kata bahasa Korea Selatan, yaitu tae yang berarti “kaki”, kwon yang berarti “tangan”; dan do yang berarti “seni”. Dari tiga kata itu, dapat disimpulkan kalau taekwondo berarti “seni beladiri dengan menggunakan kaki dan tangan kosong”.

Taekwondo bisa dipelajari sejak berusia 6 tahun. Ada berbagai manfaat kesehatan dari mempelajari taekwondo, yaitu:

  • Membantu meningkatkan rasa percaya diri, fleksibilitas, dan mobilitas pada anak-anak.
  • Meningkatkan kekuatan otot.
  • Meningkatkan stabilitas dan koordinasi gerak tubuh.

Di Indonesia, taekwondo berada di bawah induk organisasi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Adapun induk organisasi taekwondo dunia adalah World Taekwondo Federation (WTF) yang sekarang berganti nama menjadi World Taekwondo (WT).

Sejarah Taekwondo

Menurut catatan sejarah, taekwondo sudah ada di Korea Selatan sejak tahun 37 Masehi. Saat itu, taekwondo punya tiga nama sebutan berbeda, yaitu Taekkyon, Subak, dan Taeyon. Taekwondo sering dijadikan sebagai pertunjukkan untuk acara ritual. Sementara itu, kalangan ksatria dari Korea sering menjadikan taekwondo sebagai senjata beladiri.

Saat Korea Selatan meraih kemerdekaan pada 1945, masyarakat Korea Selatan berupaya keras supaya taekwondo bisa dikenal di seluruh dunia. Upaya tersebut membuahkan hasil pada tahun 1973. Hal itu bisa dilihat dari berdirinya World Taekwondo Federation (WTF) dan kejuaraan taekwondo dunia pertama yang dihelat pada tahun tersebut.

Di Indonesia, taekwondo mulai diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Mauritz Dominggus di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mauritz sendiri adalah orang Ambon yang belajar taekwondo di Belanda dan berhasil meraih sabuk hitam.

Sebelum Mauritz memperkenalkan taekwondo ke masyarakat, Indonesia saat itu sudah mengenal beladiri karate, utamanya karate aliran Shindoka. Untuk mempermudah perkembangan taekwondo di Indonesia, Mauritz lantas mengajak para tokoh karate terkemuka saat itu dengan membentuk perguruan KATAEDO (Karate dan Taekwondo).

Pada 15 Juli 1974, KATAEDO resmi berganti nama menjadi INTINDO (Institut Taekwondo Indonesia) atas saran Prof. Kim Ki Ha. Selain mengganti nama KATAEDO, Pro. Kim Ki Ha juga mengupayakan supaya INTINDO bisa menjadi bagian WTF.

WTF sendiri menerima INTINDO sebagai bagian mereka, asalkan INTINDO mengganti namanya menjadi Federasi Taekwondo Indonesia (FTI). Pada 17 Juni 1978, INTINDO resmi berganti nama menjadi FTI dan bergabung menjadi bagian WTF.

Berkembangnya taekwondo di Indonesia membuat Indonesia memiliki dua organisasi taekwondo, yaitu FTI dan PTI (Persatuan Taekwondo Indonesia). Untuk menyatukan keduanya, diadakanlah Musyawarah Nasional I pada 28 Maret 1981. Pada musyawarah tersebut, akhirnya kedua organisasi taekwondo terbesar Indonesia itu bergabung menjadi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) yang diakui WTF dan KONI.

Teknik Dasar Taekwondo

Seperti beladiri lainnya, taekwondo juga memiliki teknik dasarnya sendiri. Teknik dasar taekwondo mencakup berbagai aspek, yaitu kuda-kuda (seogi), pukulan (jireugi), tendangan (chagi), tangkisan (makki), tusukan (chireugi), sabetan (chigi).

Kuda-Kuda (Seogi)

Pada taekwondo, kuda-kuda atau seogi terbagi menjadi empat, yaitu: sikap kuda-kuda terbuka (neolpyo seogi); sikap kuda-kuda tertutup (moa seogi); sikap kuda-kuda khusus (teuksu poom seogi); dan sikap kuda-kuda jalan (ap seogi).

Pukulan (Jireugi)

Ada sembilan teknik pukulan pada taekwondo yang harus dikuasai, yaitu:

  • Yeop jireugi (pukulan samping).
  • Chi jireugi (pukulan dari bawah ke atas).
  • Pyojeok jireugi (pukulan dengan sasaran).
  • Dolryeo jireugi (pukulan mengait)
  • Momtong jireugi (pukulan mengarah ke tengah atau ke ulu hati).
  • Are jireugi (pukulan ke bawah).
  • Eolgol jireugi (pukulan ke atas atau mengarah ke kepala).
  • Sambion jireugi (pukulan ke bawah, perut, dan kepala).
  • Oreon jireugi (pukulan dengan tangan kanan yang dilakukan sambil menendang/ap chagi).

Tendangan (Chagi)

Dibanding pukulan, gerakan tendangan pada taekwondo terhitung lebih banyak, yaitu 15 gerakan. Sebagian besar tendangan tersebut dilakukan sambil melakukan gerakan lainnya. Misalnya twieo ap chagi yang dilakukan sambil melompat atau sip chagi an chagi yang dilakukan sambil melompat dan melakukan gerakan tangkisan are maki.

Tangkisan (Makki)

Seperti halnya tendangan, gerakan tangkisan pun terhitung banyak. Jumlah tangkisan sendiri satu angka lebih sedikit dari tendangan, yaitu 14 gerakan. Semua gerakan tangkisan pada taekwondo menggunakan kedua tangan taekwondoin alias pemain taekwondo. Fungsi dari gerakan tangkisan sendiri adalah untuk melindungi diri dari serangan lawan, baik berupa pukulan, tendangan, tusukan, maupun sabetan.

Salah satu contoh dari gerakan tangkisan adalah are maki. Tangkisan ini dilakukan ke arah bawah dan berfungsi untuk menangkis tendangan lawan.

Tusukan (Chireugi)

Tusukan adalah salah satu teknik dasar gerakan pada taekwondo yang harus dipelajari. Semua gerakan tusukan pada taekwondo menggunakan telapak tangan dan jari. Hanya ada empat gerakan tusukan pada taekwondo, yaitu:

  • Pyeonsonkeut sewo chireugi (tusukan dengan menggunakan telapak tangan tegak).
  • Pyeonsonkeut upeo chireugi (tusukan dengan menggunakan telapak tangan mendatar).
  • Hanson keut chireugi (tusukan dengan 1 jari ke arah mata lawan).
  • Kawison keut chireugi (tusukan dengan 2 jari ke arah mata lawan).

Sabetan (Chigi)

Selain tusukan, taekwondoin juga bisa menyerang dengan teknik sabetan. Gerakan ini biasanya dilakukan dengan pisau tangan, siku tangan, dan lutut. Ada sekitar 9 gerakan sabetan dengan tingkat kerumitannya masing-masing. Adapun beberapa contohnya adalah:

  • Mureup chigi (sabetan dengan lutut).
  • Han sonnal mok chigi (sabetan dengan pisau tangan).
  • Palkup dollyo chigi (sabetan memutar dengan menggunakan siku tangan).

Tingkatan Sabuk Pada Beladiri Taekwondo

Ada enam tingkatan sabuk pada beladiri taekwondo, dimana sabuk yang terendah adalah sabuk putih dan tertinggi adalah sabuk hitam. Tiap tingkatan sabuk tersebut rupanya memiliki makna filosofis di dalamnya, yaitu:

  • Putih yang melambangkan kesucian, permulaan, dan dasar dari semua warna. Atlet taekwondo (taekwondoin) dengan sabuk ini akan fokus mempelajari jurus dasar (Gibon) 1.
  • Kuning yang melambangkan bumi. Taekwondoin dengan sabuk ini akan belajar jurus dasar Gibon 2 dan 3. Jika berhasil mempelajarinya, taekwondoin sabuk kuning akan mendapatkan sabuk kuning strip hijau, lalu naik level ke sabuk selanjutnya, sabuk hijau.
  • Hijau yang melambangkan pepohonan yang hijau. Taekwondoin dengan sabik ini akan lebih banyak jurus taekwondo Taegeuk 2. Sebelum naik ke sabuk selanjutnya, taekwondoin sabuk hijau akan mendapatkan sabuk hijau strip biru terlebih dulu.
  • Biru yang melambangkan langit biru yang menyelimuti bumi dan seisinya. Pada sabuk ini, taekwondoin akan mempelajari Taegeuk 4 dan mendapatkan sabuk biru strip merah sebelum naik level.
  • Merah yang melambangkan matahari. Pengguna sabuk ini harus bisa menjadi pedoman dan bisa mengontrol diri. Sebelum naik ke sabuk hitam, taekwondoin sabuk merah akan naik dulu ke sabuk merah strip dua dan strip satu.
  • Hitam yang melambangkan akhir, kematangan dalam berlatih, penguasaan diri terhadap rasa takut, serta melambangkan alam semesta. Ini adalah tingkatan sabuk paling tinggi pada beladiri taekwondo.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Taekwondo

https://www.kompas.com/sports/read/2021/12/16/16400058/taekwondo--pengertian-sejarah-dan-teknik-dasar-?page=all

https://www.solopos.com/simak-manfaat-belajar-taekwondo-untuk-anak-anak-seperti-jan-enthes-1196502#:~:text=Namun%20demikian%2C%20kebanyakan%20ahli%20berpendapat,kecil%20sejak%20usia%206%20tahun.&text=Pada%20usia%20tersebut%2C%20sebagian%20besar,sudah%20mulai%20bisa%20berpikir%20kritis.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Anggie Warsito lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Anggie Warsito. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini