Menelisik Sisa Galangan Kapal Terbaik Kala Zaman Majapahit dari Kota Rembang

Menelisik Sisa Galangan Kapal Terbaik Kala Zaman Majapahit dari Kota Rembang
info gambar utama

Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menuliskan tentang pernik kecil kota tua Lasem, di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sastrawan itu mencatat Lasem memiliki andil besar dalam sejarah maritim Nusantara.

“Di pantai Lasem masih tersisa galangan kapal. Tempat itu dinamai Dasun… Teluk Rembang juga menjadi tempat galangan-galangan kapal dan ekspor kayu jati,” tulis Pram.

Pengamat sejarah dan budaya Rembang, Edi Winarno mengatakan Lasem pernah menjadi galangan pembuatan kapal pada zaman Majapahit dan Demak. Dahulu lokasinya bukan di Dasun, namun di Dukuh Ketringan, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang.

Yang Terbaru Dari Museum Batik Tiga Negeri

Pembuatan kapal di Rembang diperuntukan bagi keperluan militer dan perdagangan. Pengawasan pembuatan kapal-kapal tersebut langsung dipimpin oleh Prabu Rajasa Wardana yang merupakan suami dari Bhre Lasem.

Bahkan pada masa Demak, Galangan Kapal Dasun masih tetap eksis. Diduga berhasil menyelesaikan 100 kapal bagi Kesultanan Demak yang melakukan ekspedisi ke Malaka untuk melawan Portugis yang dipimpin langsung oleh Adipati Unus.

Tetapi pada saat Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) masuk Lasem dan memonopoli perdagangan kayu jati sekitar tahun 1777, pelabuhan dan galangan kapal itu dipusatkan di Desa Dasun.

“Pengusaha-pengusaha Belanda mulai masuk dan mengelola industri pembuatan kapal tersebut,” tulisnya.

Galangan kapal terbaik

Kemampuan penduduk Rembang membuat kapal tidak diragukan. Bahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles mencatat bahwa orang Jawa bisa membuat perahu dengan baik dan yang paling terbaik ada di Distrik Rembang.

Raffles menjelaskan bahwa alasannya karena Rembang memiliki hutan jati dengan kayu jati terbaik. Ukuran jatinya besar-besar dan banyak kapal besar dibuat di sana. Raffles mencatat, pada sekitar tahun 1808 dari 8.800 batang jati yang ditebang.

“3.000 batang di antaranya dari hutan di Rembang,” jelas Raffles dalam bukunya The History of Java.

Solidaritas dan Hal Baik Lain tentang Aksi Petani Kendeng

Galangan kapal di Rembang telah memberikan andil cukup besar bagi perkembangan perkapalan dan pelayaran baik yang berlangsung di Rembang atau daerah sekitarnya. Pelabuhan Rembang jadi ramai salah satunya karena galangan kapal ini.

Pembuatan kapal di galangan kapal Rembang terus mengalami kemajuan baik dalam jumlah kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan semakin baik. Pada tahun 1813, di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal meriam.

Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan terdiri dari enam buah kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara, dasar didempul, lapisan kayu lengkap menutup papan kabin.

Mengalami kemerosotan

Pembuatan kapal di Rembang dapat berlangsung karena didukung keberadaan hutan jati di wilayahnya. Karena itu ketika pada tahun 1820 terjadi pengurangan terhadap ganti rugi pemotongan kayu jati, maka akibatnya pembuatan kapal segera mengalami kemerosotan.

Selain itu penggunaan kayu jati di Rembang sering difokuskan untuk pembangunan sarana dan prasarana sosial dan pemerintah. Sementara itu pemerintah sendiri tidak mendapatkan kayu jati di daerah lain.

“Dengan demikian penduduk mengalami kekurangan kayu, karena di samping tidak mau menggunakan kayu lain karena kurang baik, juga karena penduduk tidak terbiasa menggunakan kayu yang melengkung untuk pembuatan kapal,” tulis laman Dasun Rembang.

Dua Siswa SMK di Rembang Buat Kreasi Canting Elektrik

Pada abad ke 19, jumlah upah dan tenaga kerja untuk membuat kapal terus merosot. Pada saat seperti itu pembuatan kapal di Dasun Rembang hanya memberikan kehidupan yang baik pada sedikit pegawai.

Pada 1942, Jepang kesulitan mendapatkan kapal dari negaranya sebab menghadapi blokade sekutu. Oleh karena itu, Jepang berupaya membuat kapal di Lasem. Program pembuatan kapal ini melibatkan 44.000 buruh Indonesia.

Pada tahun 1942, galangan kapal Dasun menghasilkan 150 kapal yang kebanyakan menggunakan mesin diesel. Pada tahun 1943 menghasilkan 127 kapal. Sedangkan pada tahun 1944 direncanakan membangun 700 kapal walau yang terealisasi hanya 343 buah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini