Ritual Seblang, Tarian Penghormatan kepada Leluhur untuk Hindari Bencana

Ritual Seblang, Tarian Penghormatan kepada Leluhur untuk Hindari Bencana
info gambar utama

Gerak tari seblang dan barong ider bumi di tanah orang Using, Banyuwangi, Jawa Timur, bukan soal estetika, melainkan juga ritual penghormatan kepada leluhur. Doa purba Nusantara yang dinaikkan demi keselamatan desa.

Fadiyah Yulianti, seorang gadis yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar telah “ditunjuk“ sebagai penari. Ayah Fadiyah, Sunaryo mengatakan, Mak Nik, tetangganya, kesurupan dan mengatakan bahwa roh ingin Fadiyah jadi penari.

“Kalau sudah begitu, siapa yang dapat melawan,” ujar Sunaryo yang dimuat Kompas.

Menarik! Masyarakat Using Banyuwangi Kembali Gelar Tradisi Adat Seblang Olehsari

Selama seminggu, dia akan mengurus kebutuhan Fadiyah menyerahkan putri bungsunya kesurupan, menari berjam-jam, dan mengantar jemputnya ke tempat menari. Dia mengaku, kadang terselip rasa takut akan keselamatan putrinya.

Tetapi baginya, seblang itu kewajiban, suka atau tidak, lantaran merupakan ritual agar berencana tak singgah ke desa. Dia bercerita, dulu pernah terjadi pagebluk, orang yang sakit pada sore hari, keesokan paginya meninggal.

Tarian bagi leluhur

Pada siang hari, Fadiyah datang ke rumah Mbah Sahwa untuk dihias. Keluarga Mbah Sahwa telah turun temurun membuatkan omprok atau mahkota penari seblang. Di depan Fadiyah, gadis-gadis kecil lain menonton.

“Aku dadi (jadi) ratu,” ujar Fadiyah polos.

Sunaryo menjelaskan ketika tidak menari, Fadiyah tak ubahnya anak-anak biasa, belum kesurupan. Selesai dirias, Fadiyah akan didampingi pesinden, dukun, dan pembawa sesajen, di bawa ke arena menari.

Di sana omprok dipasang, dukun mengundang roh, dan penari diasapi dengan kemenyan. Gamelan dipukul, gending pengundang roh Seblang Lukinto dilantunkan, kemenyan ditiupkan ke arah Fadiyah, seperti memasukkan roh.

Intip Uniknya Tradisi Mepe Kasur Masyarakat Using Banyuwangi

Tubuh Faidiyah pun lunglai dan matanya terpejam. Dirinya mulai menari, mengibaskan tangan, dan selendangnya. Seperti menghela segala keburukan. Omprok yang terbuat dari bunga segar, pupus daun pisang, dan daun aren mengikuti tubuhnya yang terhuyung.

Dirinya menari mengitari lingkaran, melawan arah jarum jam. Ritmis. Dua penari lain dan seorang perempuan tua membayangi langkahnya, menjaganya. Beberapa putaran Fadiyah berhenti menari lalu duduk.

“Ketika itulah tungku kemenyan di putar-putra di atas kepalanya. Terdengar lagi suara sinden yang cempreng tetapi magis, musik berhasutan, dan Fadiyah pun kembali menari. Begitu terus hingga matahari terbenam,” ucap Siwi Yunita Cahyaningrum dalam Leluhur Menari di Tanah Using.

Upacara adat

Menurut Kepala Seksi Adat dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, seblang termasuk fungsi tarian upacara karena berunsur mistis atau magis dan biasa dilakukan masyarakat agraris.

Dijelaskannya seblang juga memiliki hubungan dengan kepercayaan masyarakat mengenai roh leluhur. Roh-roh leluhur diundang hadir di tengah masyarakat yang memakai raga yang telah dikosongkan jiwanya.

Baginya seblang mengandung kompleksitas seni yang utuh berupa teater, gerak, tari, nyanyi, dan kriya. Laku menghormati leluhur itu tak hanya tercermin pada seblang. Ada juga Barong ider bumi pada hari kedua lebaran.

Cepetan Alas, Tari Rakyat dari Kebumen yang Tercipta dari Penderitaan Penjajahan

Diiringi oleh musik, barong, pemusik warga berpakaian adat, dan perempuan berkain batik tua peninggalan nenek mereka berpawai di jalan utama desa. Di Kemiren, barong ider bumi semarak sejak 1999.

“Semula, hanya barong yang memutari desa diiringi alat musik dan berjalan terbirit-birit. Kadang motor lewat, mereka terpaksa minggir. Padahal ini untuk keperluan masyarakat Using,” ujar pemilik sanggar Genjah Arum, Setiawan Subekti.

Bagi sesepuh adat Desa Kemiren, Adi Purwadi, maraknya pawai barong untuk mengangkat harkat tradisi dan agar masyarakat menjaganya. Namun, ritual itu sebagai penolak bala tak akan pernah berubah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini