Bertamasya ke Pugung Raharjo, Taman Purbakala Peninggalan 3 Zaman

Bertamasya ke Pugung Raharjo, Taman Purbakala Peninggalan 3 Zaman
info gambar utama

Pugung Raharjo adalah Taman Purbakala yang berlokasi di Desa Pugung Raharjo. Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung timur. Tempat ini dijuluki situs tiga zaman karena telah melewati peradaban Praaksara, Hindu-Budha, dan Islam.

Benda-benda purbakala mulai ditemukan di taman ini ketika masyarakat Desa Batanghari yang tergabung dalam Biro Rekonstruksi Nasional, melakukan transmigrasi pada 1954.

Jika berkunjung ke Taman Purbakala Pugung Raharjo, Anda dapat melihat bukti penginggalan zaman prasejarah yang dikelompokkan menjadi empat, yakni paleolitikum atau masa berburu tingkat sederhana (45.000-15.000 SM), mesolitikum atau masa berburu tingkat lanjut (6.500-2.000 SM), neolitikum atau bercocok tanam (4.500-2.500 SM), dan masa perundagian (2.500-2.000 SM).

Negeri Katon, Desa Perajin Kemewahan Kain Tapis Khas Lampung

Zaman batu: megalitikum, mesolitikum, dan neolitikum

Sejumlah punden berundak berukuran besar dan kecil ditemukan di dalam benteng. Artefak ini dulu digunakan sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Benteng tersebut terbuat dari gundukan tanah berbentuk persegi panjang. Di sekitar Pugung Raharjo terdapat Sungai Pugung yang diduga dulu airnya sangat deras dam dalam, sehingga sering dipakai untuk tempat perlindungan dari gangguan binatang buas atau serangan musuh.

Berikutnya ada 19 buah batu berlubang, 2 buah lumpang batu, dan 4 buah batu bergores. Alat-alat ini berfungsi untuk melumatkan atau menghaluskan sesuatu dan diprediksi digunakan dalam upacara di sekitar sungai. Selain itu, ditemukan juga kapak batu atau beliung yang dulu digunakan untuk berburu.

Zaman berikutnya yang dilewati oleh Pugung Raharjo adalah mesolitikum, berburu dan mengumpulkan makanan. Manusia purba saat itu sudah memiliki tempat tinggal sementara di ceruk dan gua. Mereka pun sudah mampu membbuat alat pisau dari batu untuk berburu menangkap ikan.

Kemudian, masa neolitikum. Alat yang digunakan sudah mulai halus, misalnya beliung, belincung, dan pahat. Beberapa kapak batu pada era neolitikum ditemukan di desa Adiwarno, Kecamatan Batanghari Lampung Timur dan desa Margajaya Kecamatan Kibang Lampung Selatan.

Kemudian, ada juga kolam megalitikum yang menurut mitos setempat, kolam ini digunakan ratu dan para putri Pugung Raharjo untuk mencuci, meramu, mandi, atau ritual pemujaan. Air tersebut dianggap bertuah, dipercayai menyembuhkan penyakit, dan mencegah penuaan.

Di Pugung Raharjo juga bisa dijumpai peralatan rumah tangga dari batu andesit untuk menghaluskan biji-bijian, seperti batu pipisan, batu pengerik, sendok, batu dan lainnya. Di situs punden batu bata, ada jutaan manik-manik berbahan kaca dan tanah liat yang dulu dipakai sebagai aksesoris wanita dan perlengkapan upacara.

Peran Kesultanan Banten dalam Kejayaan Lada Hitam dari Lampung

Peninggalan Hindu Budha

Jejak masa Hindu-Budha di Pugung Raharjo dapat dilihat dari penemuan Kompleks batu Mayat atau batu Kandang. Situs ini berbentuk susunan batu tegak dan batu datar ditambah persegi panjang seperti kandang. Penemuan batu mayat didasari oleh temuan menhir berbentuk kemaluan laki-laki (phallus) di kawasan Pugung Raharjo.

Zaman Klasik/Hindu Budha juga ditandai dengan ditemukannya sejumlah arca. Pertama, Arca Bodhisatwa/Patung Putri Badariyah di bagian timur Pugung Raharjo pada 14 Agustus 1957. Arca Budhis ini terbuat dari batu andesit, posisinya patung duduk ddengan sikap Dharma Cakra Mudra di atas lapik berhias bunga lotus serta memakai hiasan lengkap dengan lembaran bunga lotus.

Arca Bodhisatwa diperkirakan berasal dari abad ke-12. Ttingginya mencapai 91 sentimeter, lebar 35 sentimeter, tebal 22 sentimeter, tebal lapik 18 sentimeter, dan garis tengah lapik 61 sentimeter.

Penemuan arca Putri Badariyah dikaitkan dengan tulisan Mpu Prapanca dalam kitab Negarakertagama (1365). Kerajaan Lampung berdiri sebagai sahabat kerajaan Majapahit.

Kedua arca tipe Polinesia yang ditemukan oleh Abdul Rahman pada 1963. Ketiga, prasasti bungkuk, ditemukan setelah penemuan artefak batu bata bertuliskan angka tahun Jawa 1257 saka atau 1335 M.

Lalu, ada keramik yang tersebar di Pugung Raharjo, jumlahnya sampai ribuan, diduga berasal dari abad ke-8, 9, dan 17 M. Keramik-keramik itu membuktikan bahwa nenek moyang telah melakukan hubungan perdagangan dengan Kerajaan Sriwijaya atau bisa jadi sampai ke Cina.

Di Pugung Raharjo terdapat Prasasti Dalung, terbuat dari lempengan tembaga dalam bentuk Piyagem, memuat perundang-undangan Kesultanan Banten yang mengatur hukum laut dan perdagangan.

Selain itu, ada batu nisan di sebelah selatan Pugung Raharjo, berbahan batu poros selebar 23,5 sentimeter dengan tinggi 63 sentimeter, ditemukan pada 1979 ketika pemugaran.

Hikayat Sihir Lada Hitam yang Antar Petani Lampung Berangkat ke Tanah Suci

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini