Melawat ke Panarukan: Cerita Pelabuhan Internasional yang Terkubur Senja

Melawat ke Panarukan: Cerita Pelabuhan Internasional yang Terkubur Senja
info gambar utama

Ketika senja turun di Pelabuhan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur suasana pelabuhan makin sepi. Para buruh tukang angkut garam atau kayu melepas lelah di emper mercusuar tua buatan tahun 1883.

Pemandangan ini kontras dengan ingatan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Di sana Pram mengaku tak pernah berjalan di atas Bumi Panarukan, kota yang menjadi akhir jalan Daendels.

“Pada masanya pelabuhan terpenting di bagian tertimur pantai utara Pulau Jawa.”

Mercusuar Cikoneng, Saksi Bisu Pembuatan Jalan Anyer-Panarukan

Dalam berita klasik, Panarukan telah menjadi sebuah bandar kuno tempat bersandarnya kapal-kapal yang memiliki peran penting di bidang sosial, ekonomi, bahkan politik. Panarukan menjadi strategis karena jadi penghubung antara Jawa dan Madura.

Pelabuhan ini juga menjadi jalur perdagangan yang ramai karena letaknya di “bibir” pantai utara Jawa. Bahkan karena begitu pentingnya, Raja Majapahit Hayam Wuruk juga pernah mengunjungi bandar ini tahun 1359 M.

Di masa silam, sepanjang daerah Situbondo merupakan daerah penting di pantai utara bagian timur Pulau Jawa. Sebab di kawasan Situbondo terdapat pelabuhan-pelabuhan penting yang menghubungkan antara Jawa dan Madura.

“Adapun pelabuhan-pelabuhan tersebut adalah Panarukan, Kalbut, dan Jangkar. Malah Kota Panarukan pada abad ke 14 merupakan salah satu pangkalan penting bagi Kerajaan Majapahit,” tulis Tri Chandra Aprianto dalam Panarukan: Pelabuhan Internasional yang Terlupakan.

Wilayah penting

Sejak abad ke 16, Panarukan telah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan penting di Jawa Timur. Secara jelas kawasan Pelabuhan Panarukan itu terletak di Pedukuhan Pesisir Kilensari.

Menurut catatan Masyhuri dalam Menyisir Pantai Utara yang mewarnai dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat pesisir di kota Pelabuhan Panarukan tidak saja nelayan lokal dari Jawa Timur dan Madura.

“Di pesisir tersebut hadir juga nelayan dari Makassar dan Bugis untuk ikut “mengais” ikan di wilayah ini. Tentu saja ini “memperkaya” dinamika sosial-budaya dan gerak sejarah di kawasan Pelabuhan Panarukan,” tulisnya.

Bali dan Surabaya di Antara New Ports of Call Oleh Oceania Cruises'

Sementara itu dalam catatan Thomas Stamford Raffles disebutkan bahwa kehidupan nelayan di Pantai Utara Jawa bagian timur pada awal-awal abad ke 19 sudah berkembang, salah satunya di Panarukan.

Usaha mengais nafkah dari laut ini sudah dilakukan dengan cara menangkap di lepas pantai. Para nelayan ini menggunakan perahu yang berukuran cukup besar yang bisa disebut dengan perahu mayang.

Semakin berkembangnya perkebunan di beberapa daerah belakang Panarukan, seperti Jember dan Bondowoso pada awal abad 19 menambah intensitas gerak sejarah Pelabuhan Panarukan.

Pelabuhan yang lenyap

Namun sejak tahun 1960-an, Panarukan tak lagi menjadi pelabuhan internasional. Kini, Panarukan hanyalah pelabuhan lokal, tempat singgah kapal antar kota atau pulau kecil di sekitarnya.

Awalnya pelabuhan ini dikelola Panaroekan Maatschappij yang didirikan tahun 1886. Sejak pendiriannya, Pelabuhan Panarukan sudah dikenal oleh pasar dunia melalui ekspor komoditas gula, kopi, tembakau, karet, dan jagung.

“Namun, pelabuhan ini makin sulit melayani pendaratan kapal karena pendangkalan,” tulis Tim Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan.

Menyambut Pelabuhan Sibolga yang Lebih Luas

Di sisi lain, perkebunan jawa pun terus menyusut, menurut guru besar IPB, Prof Endang Gumbira matinya perkebunan juga terkait erat dengan kebijakan pemerintah untuk menumbuhkan kota.

Kota-kota industri bermunculan dengan ditopang bahan baku dari kawasan yang jauh, bahkan impor. Lahan-lahan produktif, seperti tambak, sawah, atau kebun, diubah menjadi kawasan industri atau permukiman yang ternyata dikuasai pemodal.

Karena itu dalam catatannya, surutnya Pelabuhan Panarukan hanyalah contoh kecil dari banyak kisah pilu. Di Panarukan, sebuah renungan klasik kembali mencuat ke permukaan: perubahan memang menjadi kemestian.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini