Cerita Sahang, Si Emas Hitam yang Daya Pikatnya Merayu Negeri Ratu Elizabeth

Cerita Sahang, Si Emas Hitam yang Daya Pikatnya Merayu Negeri Ratu Elizabeth
info gambar utama

Sahang, demikian orang Bengkulu biasa menyebut lada menjadi komoditas primadona. Selama generasi ke generasi, rempah-rempah ini telah menghidupi sebagian masyarakat yang ada di Bengkulu.

Bahkan Sahang, menjadi alasan utama bangsa asing, yaitu Inggris menancapkan kekuasaannya di wilayah tersebut selama 140 tahun. Hal ini terjadi setelah mereka terusir dari Banten karena kalah dari Belanda.

Namun pada tahun 1685, Inggris mencari lada yang diperdagangkan di Banten ke pesisir barat Sumatra. Sampailah negara Ratu Elizabeth ini ke Bengkulu. Di sini, melalui kongsi dagangnya East India Company (EIC) mereka memonopoli lada.

Menjejaki Danau Dendam Tak Sudah yang Cantik Walau Berselimut Misteri

“Demi kepentingan dagangnya, EIC pun membangun pos pengumpulan lada di sepanjang pesisir barat Sumatra mulai dari Krui (Lampung), hingga Mukomuko, Bengkulu,” ucap Adhtiya Ramadhan dalam Sahang, Bumbu Kehidupan Warga Bengkulu yang Pudar yang dimuat Kompas.

Ketika zaman itu, Bengkulu yang masih bernama Bencoolen telah terkenal dalam kancah perdagangan rempah-rempah antar benua. Bahkan pada abad 16, Pelabuhan Selebar berkembang maju dan menjadi pusat perdagangan lada di Nusantara.

Kejayaan lada di Bengkulu ini masih bertahan hingga 1990-an, sebelum akhirnya hama penyakit menghancurkan tanaman tumpuan warga tersebut. Pemerintah tidak punya jalan keluar yang jelas atas persoalan ini.

Cerita masa jaya

Imrodili, pemuda asal Desa Sinar Jaya, Kecamatan Maje, Kaur menceritakan dahulu hasil panen lada menjadi sumber penghasilan keluarganya yang utama. Orang tuanya sangat mengandalkan hasil panen lada.

“Walaupun panen lada hanya setahun sekali, hasilnya bisa dinikmati hingga panen di tahun berikutnya. Saya bisa kuliah karena lada. Kami juga bisa membeli tanah 2 hektare untuk perluasan kebun hasil menjual lada,” kenangnya.

Panen lada telah memutar roda perekonomian desa. Penghasilan petani dari lada begitu memuaskan sehingga para pemuda yang menganggur bisa bekerja, pasar tradisional ramai, tingkat kriminalitas juga rendah.

Sejarah Hari Ini (14 Januari 1926) - Peneliti Dunia Buru Gerhana Matahari di Bengkulu

Ibarat sebuah “emas hitam”. lada menjadi sumber penghasilan keluarga selama berabad-abad lamanya. Karena itu hasil dari penjualan rempah-rempah ini bisa menjelma menjadi kendaraan, rumah, status haji dan gelar pendidikan.

“Hampir tidak ada pengangguran, anak-anak muda lebih suka bekerja di kebun lada daripada harus merantau ke kota yang hasilnya belum tentu menjanjikan,” papar Samel petani lada di Desa Muara Jaya, Kecamatan Maje.

Belum berani

Namun cerita manis itu akhirnya terputus sudah, masa keemasan lada Bengkulu berakhir ketika penyakit yang menyerang tanaman dadap sebagai batang panjat pohon lada merebak. Petani tak berdaya mengatasi penyakit ini.

Edison, petani dari Desa Tanjung Beringin mengatakan hingga kini belum berani lagi menanam lada. Dia khawatir bila memaksakan menanam tanaman lada akan habis karena ganasnya hama penyakit yang menyerang batang rambat lada.

Sementara itu Sukarni, petani asal Tanjung Beringin mengatakan awalnya hama penyakit menyerang batang rambatnya, tanaman dadap. Setelah diganti dengan dadap hijau, penyakit justri menyerang tanaman lada.

Sejarah Hari Ini (11 Mei 1873) - Pahlawan Bengkulu Burniat Berontak pada Belanda

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu Ricky Gunawan mengakui budidaya yang intensif membuat tanaman lada banyak yang terserang hama penyakit. Di saat bersamaan harga kelapa sawit dan karet naik sehingga petani kemudian beralih.

Dirinya juga menambahkan bahwa pemerintah daerah juga memiliki keterbatasan untuk kembali mengembangkan kebun lada. Apalagi masyarakat kini lebih berminat menanam sawit daripada lada.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini