Melihat Kejayaan Perniagaan Zaman Hindu-Buddha di Wilayah Ngawi Purba

Melihat Kejayaan Perniagaan Zaman Hindu-Buddha di Wilayah Ngawi Purba
info gambar utama

Aktivitas perniagaan zaman Hindu-Buddha hingga masa kolonial ditemui di Dusun Banjar, Desa Banjar, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tempat ini memang dikenal dengan kawasan Ngawi Purba.

Dimuat dari Kompas, tempat ini cikal bakal Kabupaten Ngawi. Hal ini antara lain tercermin dari artefak bangunan, termasuk makam Patih Ngawi RP Pringgokusumo. Beberapa peninggalan purba juga ditemukan di antara Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

Peninggalan itu di antaranya berupa serpihan keramik China, botol masa kolonial, mata uang Hindia Belanda berangka tahun 1896, hingga arca tanpa kepala yang dibiarkan terguling di samping rumah warga setelah ditemukan di sungai.

Pemanasan Meriam Tercanggih Indonesia: Jalan-jalan Keliling Ngawi

Arkeolog dari jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono menyebut di kawasan tersebut juga dijumpai bangunan tembok membujur lurus puluhan meter, tembok melingkar setebal 80 sentimeter hingga satu meter yang rapuh dan roboh.

Di sana juga ada fondasi tua yang di atasnya sudah berdiri bangunan baru atau kebun palawija dan jati. Dijumpai pula kompleks pemakaman China dan bangunan seperti tugu yang diperkirakan dibangun pada masa penjajahan Belanda.

“Meskipun ada beberapa data historis dan arkeologis yang tidak ditemukan, antara masa Majapahit hingga awal tahun 1800-an, tapi besar kemungkinan ada keberlanjutan budaya pada masa itu. Bahkan, berlanjut hingga sekarang,” ucapnya.

Peradaban maju

Berdasarkan penemuan itu, Dwi membuktikan di Desa Ngawi sudah terdapat kebudayaan masa Hindu-Buddha. Tetapi kondisi arca aus dan atribut atau laksananya tidak terlihat sehingga sulit menentukan tahunnya (tarikh).

Sementara bila dikaitkan dengan Prasasti Canggu (Trowulan I) yang bertarikh Saka 1280 (1385 Masehi), di dalamnya menyebut Ngawi sebagai salah satu desa penambangan, Penambangan itu, jelasnya, mengarah pada aktivitas penyeberangan sungai.

“Jika benar seperti itu, berarti Ngawi merupakan desa (thani) yang berstatus perdikan dengan kehidupan sosial budaya yang sudah maju pada zamannya,” katanya.

Alternatif Wisata, Yuk Menengok Kampung Kerbau di Ngawi

Sementara itu, keberadaan tambangan di Ngawi juga membuktikan bahwa kawasan tersebut sangat strategis. Hal ini di antaranya disebabkan keberadaan Ngawi di pertemuan sungai, ketika Bengawan Madiun memiliki akses jauh ke daerah pedalaman.

Dwi menjelaskan bahwa posisi strategis itu diperkuat dengan kehadiran pemerintah kolonial Belanda yang membangun kompleks benteng Van den Bosch (Benteng Pendem) tepat di titik pertemuan dua sungai.

“Di sana pula bermukim penguasa lokal, para pedagang China, dan masyarakat umum,” paparnya.

Penuturan warga

Warga menuturkan bahwa ada cerita turun temurun, lokasi yang mereka huni itu dahulu merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Ngawi. Di sana pula berdiri pertokoan, pegadaian, rumah sakit, hingga dermaga pendaratan kapal dagang.

Salah satu bukti kuat yang dikisahkan warga adalah keberadaan kompleks pemakaman China di desa itu. Warga juga memperoleh cerita dari leluhur mereka, di sana diketahui pernah berkembang penduduk China.

Tetapi kini, masyarakat tidak melakukan pencarian, penggalian atau pengumpulan benda-benda kuno di kawasan itu. Temuan warga lebih disebabkan ketidaksengajaan, mulai manik-manik, gelang kuno, koin, hingga fosil binatang.

Menjelajahi Wisata Ngawi, dari Alam hingga Tempat Bersejarah

“Saya pernah menemukan gelang perak berhuruf China, uang kuno, dan fosil gigi ketika membangun rumah ini. Tapi, enggak tahu sekarang di mana,” jelas Suparno, warga Desa Banjar.

Dirinya menunjukkan mata uang kuno Hindia Belanda temuannya yang berangka tahun 1896. Menurut Dwi, berbagai temuan di kawasan Ngawi Purba memperkuat pendapat arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta tentang Hari Jadi Kabupaten Ngawi.

“Di sana ditekankan, kawasan Ngawi purba merupakan cikal bakal menjadi Kabupaten Ngawi saat ini,” ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini