Mitos Azimat Pohon Dewandaru, Konon Tumbuh dari Tongkat Pengawal Diponegoro

Mitos Azimat Pohon Dewandaru, Konon Tumbuh dari Tongkat Pengawal Diponegoro
info gambar utama

Gunung Kawi terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Wilayah gunung berapi yang sudah lama tidak aktif ini kerap dikaitkan dengan aktivitas spiritual atau mistis, seperti pesugihan atau ritual meminta kekayaan.

Masyarakat setempat juga mengeramatkan berbagai benda dan tumbuhan, salah satunya dewandaru. Pohon bernama latin Eugenia uniflora ini dipercaya mampu mendatangkan keberuntungan.

Dewandaru dikenal juga sebagai ceremai belanda. Tumbuhan ini sebetulnya adalah koleksi Kebun Raya Purwodadi. Ia ditanam di sejumlah titik dan tumbuh cukup baik, padahal kebun tersebut terletak di dataran rendah beriklim kering. Hal ini dikarenakan dewandaru mampu beradaptasi dengan lingkungan apapun, sehingga bisa tumbuh di dataran rendah ataupun tinggi.

Di balik buah dewandaru yang mungil dan cantik, tersimpan sekelumit mitos kepercayaan yang masih ada sampai sekarang.

Singa sebagai Identitas Kota Malang: Berawal dari Kerajaan Singosari hingga Arema

Konon berasal dari tongkat yang ditancapkan ke tanah

Pohon dewandaru di Gunung Kawi dianggap masyarakat sebagai pohon keramat. Pohon ini berdiri di kompleks pesarean atau pemakaman Kanjeng Kyai Zakaria alias Eyang Djoego sang guru spiritual dan Raden Mas Imam Soedjono alias Eyang Sujo.

Dua tokoh ini adalah pengawal yang ikut melawan penjajah sekaligus menyebarkan ajaran Islam di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro. Mereka melarikan diri ke Gunung Kawi setelah kalah dalam Perang Jawa.

Area pemakaman ini diberi nama Pesarean Gunung Kawi dan sudah lama menjadi tempat wisata religius bagi para peziarah. Menurut histori, nama pohon ini sebenarnya ialah Dewa Aru. Pohon ini dikeramatkan karena konon berasal dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah, lalu tumbuh menjadi pohon sampai sekarang.

Mayoritas masyarakat lokal dan para peziarah meyakini bahwa dewandaru mampu mendatangkan keberuntungan. Peziarah biasanhya akan menunggu dahan, daun, atau buah tanaman ini berjatuhan. Ketika ada yang jatuh, sontak para peziarah akan berebut dan memanfaatkannya sebagai jimat.

Selain membawa keberuntungan, pohon dewandaru juga dipercaya bisa memberikan sinyal atau tanda suatu bencana akan terjadi. Contoh yang dianggap benar oleh masyarakat yaitu, beberapa hari sebelum tsunami Aceh 2004, pohon dewandaru tumbang diterpa badai sangat kencang.

Kisah Rimba Malang, Kota yang Berada di Tengah Alam Liar

Terlepas dari hal mistis, sebenarnya kaya manfaat

Menanggalkan hal-hal mistis menurut keyakinan masyarakat Gunung Kawi, dewandaru sesungguhnya sangat kaya manfaat. Tanaman ini telah lama digunakan sebagai obat oleh masyarakat Brasil. Daun dan buahnya dimanfaatkan sebagai obat demam, diare, rematik, dan hipertensi.

Tak hanya itu, daun dewandaru rupanya juga bisa diolah menjadi teh dan berkhasiat untuk mengobati batuk, bronkitis, dan cacingan. Ekstrak daun dewandaru juga ampuh mengurangi kadar enzim pemicu asam urat.

Sejumlah penelitian menemukan fakta bahwa ekstrak minyak esensial yang dihasilkan dari dewandaru bersifat antimikrob dan bakteri, seperti Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Bacillus licheniformis, B. subtilis, Enterococcus faecalis, dan bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, serta fungi Candida parapsilosis dan C. Albicans. Lalu, biji serta buah dewandaru yang masih oranye mengandung antioksidan tertinggi.

Sutari dan BSTC Malang Patroli Tiap Malam Demi Menyelamatkan Penyu di Pantai Bajulmati

Buahnya menggantung bak lampion

Dewandaru memiliki sedikitnya 46 nama di dunia. Tumbuhan ini sebetulnya berasal dari Amerika Selatan, mulai dari Suriname, Guyana dan Guyana Prancis hingga bagian selatan Brazil, Uruguay dan Paraguay. Tapi, sekarang sudah tersebar ke seluruh penjuru daerah tropis dan subtropis, seperti Asia Tenggara dan Pulau Karibia.

Tumbuhan yang masih satu keluarga dengan jambu ini berbentuk semak atau pohon dengan ketinggian sampai tujuh meter. Cabangnya menyebar, kadang melekuk, dan ramping. Kulit batang mengelupas, permukaan batang halus, daunnya tunggal berbentuk bulat telur sungsang, bagian pangkal membulat, ujung meruncing dan tumpul.

Ketika masih muda, daun dewandaru berwarna cokelat kemerah-merahaan, sedangkan kalau sudah tua berubah menjadi hijau gelap. Kala musim dingin atau kering, daun akan berubah warna lagi menjadi merah. Bunganya lumayan wangi, berjumlah 1-4 keping yang menyatu di ketiak daun.

Warna bunganya putih sedikit krem dan berdiameter satu sentimeter. Kelopak bunga berbentuk tabung dengan delapan rusuk dan 4 lekukan. Mahkota bunga putih dan panjang 7-11 milimeter/ benang sari berjumlah 50-60 helai.

Buahnya yang bulat dan pipih menggantung bak lampion. Warna buahnya hijau waktu masih muda dan berubah menjadi oranye, merah terang, atau gelap keungunan, ketika sudah tua. Kulit buah cukup tipis, daging buahnya oranye kemerah-merahan, berair, sedikit lengket, dan rasanya masam manis.

Sejarah Hari Ini (12 Januari 1936) - Johannes Latuharhary Dirikan Jong Ambon Malang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini