Ritual Erpangir Ku Lau, Mandi untuk Mengusir Roh Jahat ala Suku Karo

Ritual Erpangir Ku Lau, Mandi untuk Mengusir Roh Jahat ala Suku Karo
info gambar utama

Ritual Erpangir Ku Lau merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Karo Sumatera Utara, tepatnya di Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo. Tradisi ini diajarkan leluhur dan dilakukan turun temurun.

Suku Karo adalah sub suku Batak yang memiliki peradaban dan pengetahuan yang tinggi. Masyarakat suku Karo dikenal pintar meramu obat-obatan dari tumbuhan secara tradisional. Selain itu, masyarakat suku Karo juga terkenal masih melestarikan budaya dari para leluhur.

Salah satu tradisi dari yang masih diwariskan adalah ritual Erpangir Ku Lau. Masuknya pengaruh agama membuat tradisi ini jarang ditemui di masyarakat Karo. Namun, masih banyak yang melakukan ritual ini sembunyi-sembunyi karena dikeramatkan.

Mau tahu lebih jelas mengenai ritual Erpangir Ku Lau? Simak informasi berikut ini, yuk!

Apa itu Ritual Erpangir Ku Lau?

Melansir dari karokab.go.id, Erpangir Ku Lau adalah upacara mandi pangir untuk mengusir atau menyucikan diri dari pengaruh roh jahat. Erpangir artinya mandi. Ku Lau berasal dari kata Maba Ku Lau, artinya 'membawa anak turun mandi'.

Ritual Erpangir Ku Lau telah ada sejak lama dan dilaksanakan setiap generasi. Selain mengusir roh jahat, ritual ini juga bertujuan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menolak bala, dan mengatasi berbagai masalah.

Menurut kepercayaan suku Karo, Erpangir Ku Lau sekaligus cara berdoa kepada Tuhan. Jadi, ritual ini harus dilaksanakan minimal satu kali setiap tahun. Apabila tidak melaksanakan Erpangir Ku Lau, masyarakat meyakini akan terjadi malapetaka.

Baca juga: Laliq Ugal: Ritual Mencari keberkahan dari Lahan yang Baru Ditanami

Bagaimana Cara Pelaksanaan Ritual Erpangir Ku Lau?

Pelaksanaan Ritual Erpangir Ku Lau | Foto: harianmetro.id
info gambar

Pelaksanaan ritual Erpangir Ku Lau tidaklah sulit. Tak seperti upacara adat yang meriah, Erpangir Ku Lau hanya dilaksanakan satu hari dengan hidangan sederhana.

Pemandian menggunakan beberapa jenis pangir atau ramuan. Bahan-bahan pangir untuk ritual berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Mulanya, ritual Erpangir Ku Lau menggunakan 11 jenis rimo (jeruk), yakni rimo mukur, rimo peraga, rimo malem, rimo gawang, rimo kayu, rimo kejaren, rimo kuku arimo, rimo manis, rimo nipis, rimo kersik, dan rimo bali. Namun, karena sebagian besar sulit ditemui, maka lima jenis rimo saja sudah sah. Paling penting ada rimo mukur (jeruk purut) yang disakralkan oleh suku Karo.

Beberapa jenis pangir yang sering dipakai dalam ritual, antara lain

  • Pangir selamsam untuk mimpi buruk, terdiri dari rimo mukur (jeruk puruk), baja (getah kayu besi), dan mangkuk putih.
  • Pangir sitengah, terdiri dari empat jenis rimo (jeruk). Biasanya dilakukan di Lau Sirang, di mana air mengalir terbelah menjadi dua aliran.
  • Pangir sintua (agung), terdiri dari penguras, tujuh jenis rimo (jeruk), dan wajan. Dilakukan di Lau Sirang dan diiringi Erkata Gendang atau alat musik Karo.
Baca juga: Ritual Seblang, Tarian Penghormatan kepada Leluhur untuk Hindari Bencana

Nilai-Nilai dalam Ritual Erpangir Ku Lau

Melansir jurnal berjudul Ritual Erpangir Ku Lau pada Etnis Karo di Desa Kuta Gugung
Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, ada beberapa nilai yang terkandung dalam ritual Erpangir Ku Lau, yaitu:

1. Nilai Sosial (Harmonisasi, Kesejahteraan, dan Hubungan Kekerabatan)

Terlihat dari kebersamaan dalam menyukseskan tradisi tanpa memandang kelas sosial. Ritual Erpangir Ku Lau membagi bagian berdasarkan kesanggupan ekonomi, yakni singuda, sintengah, dan sintua.

2. Berorientasi pada Lingkungan

Properti dan bahan-bahan untuk Erpangir Ku Lau berkaitan dengan lingkungan, terutama tumbuh-tumbuhan.

3. Nilai Ekonomi

Keunikan Erpangir Ku Lau mampu menarik perhatian wisatawan sehingga berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar.

Baca juga: Ritual Mangkuk Merah: Panggilan Perang Maut Masyarakat Dayak

Itulah penjelasan mengenai ritual Erpangir Ku Lau oleh suku Karo. Tradisi ini patut dilestarikan sebagai bagian dari budaya Indonesia. Semoga informasi ini menambah pengetahuan Kawan GNFI tentang Indonesia, ya!

Referensi:karokab.go.id | IDN Times | Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini