Melihat Tinggalan Sejarah Sambil Mencicipi Kuliner Khas Madura di Kampung Lawang Seketeng

Melihat Tinggalan Sejarah Sambil Mencicipi Kuliner Khas Madura di Kampung Lawang Seketeng
info gambar utama

Kota Surabaya memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Beberapa di antaranya kental akan nilai sejarah. Salah satunya Kampung Lawang Seketeng, di dalamnya terdapat tempat Presiden Soekarno belajar mengaji waktu masih kanak-kanak. Terletak di Jalan Paneleh kecamatan Genteng, Surabaya, kampung ini telah diresmikan sebagai kampung wisata sejarah Surabaya pada 11 November 2019.

Kampung tertua di Surabaya ini terdiri dari enam gang, masing-masingnya menyimpan bermacam peninggalan sejarah. Di gang pertama, terdapat sebuah sumur jobong Majapahit berdiameter 60 sentimeter dengan lapisan dinding terbuat dari bebatuan padas yang disusun melingkar. Kedalaman sumur ini kira-kira 2,4 meter.

Di gang kedua ada makam ulama Syekh Zen Zini Assegaf dan lumpang batu besar di sekitar makam. Lalu, di gang ketiga terdapat sebuah sumur berumur 100 tahun lebih serta makam guru mengaji Bung Karno bernama Mbah Pitono.

Sumur Windu, Situs Keramat Kampung Gadel yang Dipercaya Bisa Cegah Bencana

Foto: Khoirotul Lathifiyah/Jatimnet.com

Kemudian, di gang keempat terdapat sebuah rumah bergaya yankee yang dibangun pada 1930. Rumah ini pernah digunakan sebagai lokasi syuting film “Terbang Menembus Langit” (2018). Sampai sekarang bentuk asli rumah yankee tidak pernah diubah dan selalu dijaga oleh penduduk setempat. Selain itu, ada juga rumah puing dengan arsitektur Belanda kuno, memiliki pilar besar, lengkungan di atas pintu, dan tidak punya atap. Rumah puing dulunya adalah rumah leluhur yang terkena tembakan pesawat tempur Belanda pada 1930-an.

Di gang kelima, terdapat terakota atau saluran air yang dibentuk pada 1930 menggunakan pipa tanah liat sepanjang 81 sentimeter, diameter 52 sentimeter, dan keliling 40 sentimeter. Terakota juga dapat ditemukan di gang ketiga, panjangnya 106 sentimeter, diameter sambungan 58 sentimeter, keliling 42 sentimeter.

Lalu, gang keenam terdapat rumah kayu beratapkan seng. Di atap itu masih terlihat bekas tembakan dari pesawat tempur pada 1930-an. Tak hanya itu, di gang terakhir ini juga berdiri sebuah tempat ibadah dua lantai bernama langgar dukuh kayu. Di sinilah Soekarno menuntut ilmu agama Islam dan belajar mengaji. Dari luar, musala tersebut tampak seperti sisik ikan.

Sejak dibangun pada Januari 1893 sampai sekarang, warga setempat masih meramaikan langgar ini dengan beribadah di sana. Lantai satu digunakan sebagai museum sekaligus tempat pertemuan warga Kampung Lawang Seketeng.

Museum itu menyimpan sejumlah peninggalan, seperti prasasti mimbar, gerendel (pengunci pintu berbahan logam), cungkup (bangunan pelindung makam), kentongan buatan tahun 1890-an, serta Alquran kuno yang ditulis tangan dengan bahan kertas terbuat dari kulit. Pada tiap halamanya, tertera tanda air (watermark) kerajaan Belanda.

Merasakan Suasana Kampung Jawa Kuno Di Kampoeng Djowo Sekatul Kendal

Terdapat ikon kuliner khas Madura

Persis di depan langgar dukuh ayu, terdapat sentra kuliner yang menjual berbagai makanan, seperti rujak topak, sate manggul, dan martabak mi. Ragam makanan tersebut sebetulnya berasal dari daerah asal mayoritas warga Kampung Lawang Seketeng, yakni Madura.

Sate manggul terdiri dari sate ayam dengan irisan lontong, dibaluri bumbu manggul yang kental berwarna kuning, dan ditaburi serundeng kelapa di atasnya. Makanan khas Madura ini telah menjadi ikon kuliner Kampung Lawang Seketeng karena mayoritas penduduknya berasal dari sana. Satu porsi sate manggul biasanya dijual seharga Rp12500.

Selain sate manggul, ada juga rujak topak alias rujak ketupat. Sekilas bentuknya mirip rujak cingur, tapi bedanya rujak topak memiliki kecambah dan kacang panjang rebus. Ciri khas rujak topak menggunakan petis madura, diberi irisan tahu, tempe, timun, dan remasan rempeyek. Rujak topak dijual seharga Rp8.000 per porsi.

Ikon kuliner terakhir di Kampung Lawang Seketeng adalah martabak mi. Jajanan seharga Rp2.500 ini terbuat dari tepung dengan isian mi. Sering kali para penjual membuat bermacam varian martabak supaya lebih menarik, misalnya martabak usus, martabak daging, dan martabak pedas, dilansir dari Unissula.ac.id.

Kampung Galung, Permata Tersembunyi Desa Barania

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini