Mulai Rajai Pasar Global, Kenali Potensi Ikan Dewa yang Dibanderol Jutaan Rupiah

Mulai Rajai Pasar Global, Kenali Potensi Ikan Dewa yang Dibanderol Jutaan Rupiah
info gambar utama

Beberapa daerah di Indonesia memiliki mitos ikan larangan. Salah satu yang paling terkenal adalah ikan dewa. Bermacam cerita rakyat melekat pada ikan yang satu ini. Namun, di balik itu semua, ikan dewa memiliki potensi ekonomi yang fantastis. Pasarnya bukan dalam negeri saja, tapi sudah merambah ke kancah internasional.

Ikan dewa bisa dibilang superfish yang berasal dari hasil domestikasi. Ikan dengan nama latin Tor Sp. ini punya banyak sekali nama, di antaranya: semah (Sumatra Tengah-Selatan), tambra (Jawa), sapan (Kalimantan), batak, kancra, atau jurong (Toba), mahseer atau kelah (Malaysia). Selain itu, orang Amerika Serikat menamai ikan dewa sebagai java salmon. Hal ini dikarenakan ikan dewa memiliki kemiripan dengan ikan salmon, mulai dari cita rasanya, warna daging, dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh.

Ikan dewa tersebar dari trans himalaya (meliputi Nepal, India, Myanmar, Pakistan), sampai Asia Tenggara (Malaysia, Kamboja, Laos, Thailand, dan Indonesia).

Bekasam, Fermentasi Ikan Khas Sumatra Selatan

Ikan larangan yang dijuluki "The King of The Rivers"

Jika Anda sering mendengar “ikan larangan”, inilah dia. Penamaan ikan dewa berkaitan dengan sebuah mitos dalam budaya Jawa Barat yang menyebut bahwa ikan dewa merupakan jelmaan prajurit pemerintahan Prabu Siliwangi yang membangkang, lalu dikutuk menjadi ikan. Maka dari itu, masyarakat setempat mengeramatkannya dan menganggapnya sebagai warisan leluhur yang mesti dijaga. Jika ikan-ikan tersebut mati, mereka dimakamkan dengan kain kafan.

Kemudian, ikan ini dianggap keramat karena dipercaya bisa membawa petaka pada orang yang memakannya. Bagi sebagian orang Indonesia, ikan ini lebih banyak dibudidayakan menjadi ikan hias di kolam-kolam masjid, petilasan, atau tempat suci lainnya.

Ikan dewa juga bersentuhan dengan aktivitas orang Batak Toba, Sumatra Utara. Masyarakat daerah ini bahkan menganggapnya sebagai ikan raja. Beberapa upacara adat dilengkapi dengan sajian ikan dewa, salah satunya debata jadi na bolon (pemberian persembahan makanan kepada Tuhan).

Kemudian, warga kampung Lubuk larangan, kota Sijunjung, Sumatra barat, hanya memperbolehkan ikan dewa ditangkap atau dimakan pada hari Maulid Nabi Muhammad saw.

Tak hanya itu, ikan dewa juga dekat dengan kebudayaan Tionghoa. Sama halnya dengan sapi atau kambing pada hari raya kurban, ikan dewa termasuk menu wajib dalam hidangan pada tradisi imlek karena melambangkan keberuntungan (hoki) serta panjang umur. Maka tak heran, pada momen ini permintaan ikan dewa akan melambung tinggi.

Ikan dewa bagi orang Tionghoa memiliki makna yang berbeda. Hal ini disinyalir karena bobot tubuhnya yang mampu mencapai 30 kilogram dengan panjang satu meter. Ikan ini bahkan dijuluki “The King of The Rivers” alias raja atau dewa sungai.

Celimpungan, Olahan Ikan Berkuah Santan yang Menjadi Simbol Semangat Masyarakat Palembang

Harga pasar global yang fantastis

Terlepas dari mitos atau legenda yang beredar di masyarakat, ikan dewa sebetulnya termasuk ikan kaum elite. Konon, ikan ini dipercaya sebagai sajian khusus untuk para raja pada zaman dulu. Maka tak heran, potensi bisnis ikan dewa sangat menjanjikan. Permintaan pasar global terhadap ikan yang terbilang langka ini sangat tinggi. Mulai dari yang masih hidup, beku, entah untuk dimasak, maupun sebagai hiasan akuarium.

Setidaknya untuk sekarang sampai 2028, Asia Pasifik dan Amerika Latin masih menjadi sentra terbesar dari bisnis jual beli ikan salmon secara umum, termasuk ikan dewa. Sementara Eropa dan Amerika Utara perlahan memperlihatkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan, meski belum sederas dua daerah sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya angka obesitas, hipertensi, aterosklerosis, dan strok. Khasiat dari ikan dewa cukup dibutuhkan untuk menurunkan angka penyakit tersebut, demikianlah prediksi Business Wire.

Di samping itu, restoran berkelas atau bintang lima dari sejumlah negara seperti Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Hongkong, menjadi pelanggan nomor satu yang membutuhkan pasokan ikan dewa. Hongkong, misalnya, memesan satu ton ikan dewa setiap bulan, sedangkan Malaysia 500 kilogram per bulan.

Tak hanya luar negeri, kebutuhan pasokan ikan dewa di dalam negeri juga cukup tinggi, khususnya bagi restoran kelas atas di Medan, Jakarta, Semarang, dan beberapa daerah lainnya.

Harga satu kilogram ikan dewa di luar negeri berkisar antara 65-380 dolar AS atau Rp1-5 juta, sedangkan di dalam negeri harganya Rp800 ribu sampai Rp1 juta per kilogram. Pada momen tertentu seperti imlek, harganya akan lebih tinggi lagi.

Keunggulan ikan dewa terdapat pada cita rasanya yang enak dan tekstur dagingnya lebih lembut daripada ikan mas. Selain itu, ikan ini dibanderol dengan harga tinggi karena khasiatnya yang luar biasa untuk kesehatan, misalnya mengandung albumin yang dapat mengembalikan sel tubuh, mampu menurunkan kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh dan daya ingat, mengobati anemia, serta mencegah risiko kanker dan strok.

Pantai Losari Makassar, Bekas Pasar Ikan yang Jadi Ikon Ibukota Sulawesi Selatan

Karakteristik ikan dewa

Tubuh ikan dewa terdiri dari cuping berukuran sedang di bibir bawah, jari-jari sirip punggung mengeras, dan panjang badannya sama dengan panjang kepala tanpa moncong. Bentuk tubuhnya pipih memanjang. Ikan muda biasanya berwarna keperakan, lalu berubah menguning kehijauan pada usia dewasa.

Habitat ikan dewa biasanya berupa perairan dalam di ketinggian 150-600 mdpl, berarus deras namun jernih, dengan suhu relatif rendah (20-25 derajat celsius), kandungan oksigen tinggi, dan dikelilingi hutan. Misalnya sungai-sungai pegunungan dan dataran tinggi berbatu.

Umumnya, ikan kecil sampai remaja suka berenang di bagian arus sungai dan bebatuan, sedangkan ikan dewasa berkumpul di lubuk sungai yang dalam. Kemudian, ikan dewasa yang akan berkembang biak biasanya tinggal di kawasan perairan dangkal dengan dasar batu koral berpasir dan aliran air jernih untuk menghindar dari ikan predator.

Ikan Marlin, Si Perenang Cepat Samudra Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini