Taneyan Lanjhang, Rumah Adat Madura yang Menyimpan Banyak Keunikan

Taneyan Lanjhang, Rumah Adat Madura yang Menyimpan Banyak Keunikan
info gambar utama

Rumah adat Madura adalah rumah adat yang menjadi hunian mayoritas suku yang menempati Pulau Madura. Daerah yang mendapat julukan Pulau Garam ini dikenal dengan keunikan bahasa hingga budayanya yang tetap dilestarikan dan menyatu dalam kehidupan masyarakatnya dulu hingga kini.

Suku Madura dikenal sebagai suku yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan di mana biasanya keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga akan tinggal secara berdekatan dalam satu pemukiman yang disebut dengan Taneyan Lanjhang.

Taneyan Lanjhang, Pemukiman Suku Madura

Taneyan Lanjhang berasal dari bahasa Madura yang terdiri dari dua kata yaitu taneyan yang memiliki arti 'halaman' dan Lanjhang yang memiliki arti 'panjang'. Lalu, Taneyan Lanjhang dalam bahasa Indonesia bermakna halaman yang panjang.

Rumah adat Madura taneyan lanjhang
info gambar

Taneyan Lanjhang sendiri bukan sekadar rumah adat Madura yang terdiri dari satu rumah saja. Karena Taneyan Lanjhang merujuk pada pemukiman yang terdiri dari 2 hingga 10 rumah di mana akan ditinggali oleh beberapa keluarga yang masih berada dalam satu ikatan keluarga.

Satu Taneyan Lanjhang biasanya terdiri dari beberapa komponen, yaitu rumah induk, langgar (masjid/musala), lumbung, dapur, dan halaman (taneyan). Rumah pada Taneyan Lanjhang berjejer dari timur ke barat serta menghadap ke arah utara atau selatan.

Yang tinggal pada Taneyan Lanjhang ini adalah keluarga batih yang di dalamnya terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit, dan seterusnya.

Baca juga: Celurit - Senjata Tradisional Madura yang Jadi Simbol Perlawanan Petani

Gaya Arsitektur Bangunan Taneyan Lanjhang

Jika dilihat sekilas, bangunan pada Taneyan Lanjhang mengadopsi gaya arsitektur rumah Joglo. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunannya yang melebar dan memiliki atap menjulang yang berbentuk limas.

Menurut Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, terdapat beberapa bentuk atap dari Taneyan Lanjhang, di antaranya

  • Tegon, yaitu atap berbentuk limas dengan bagian ujung atap yang polos;
  • Bhangsal, yaitu atap berbentuk limas dengan hiasan tanduk di kedua ujungnya sehingga mirip kapal atau naga;
  • Jikar Empu, yaitu atap yang bentuknya seperti burung dara yang sedang mengepakkan sayap;
  • Sa lip lap, yaitu atap rumah yang hanya memiliki satu sisi saja;
  • Da lip lap, yaitu atap rumah yang memiliki dua sisi.

Bagian-Bagian Rumah Adat Madura, Taneyan Lanjhang

Sama halnya dengan rumah adat pada umumnya, rumah adat Madura ini juga terdiri dari beberapa bagian atau komponen. Berikut bagian-bagian dari Taneyan Lanjhang beserta penjelasannya.

  • Langghar (Musala)

Bukan hanya terkenal menjunjung tinggi nilai kekerabatan saja, masyarakat Madura juga dikenal sangat agamis dimana mayoritas penduduknya beragama Islam. Karenanya, setiap Taneyan Lanjhang wajib memiliki satu langghar atau langgar (musala) sebagai tempat beribadah.

Posisi langghar pada Taneyan Lanjhang sendiri umumnya berada di sebelah barat dan menghadap ke timur. Langghar ini fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu laki- laki, serta sebagai tempat bermusyawarah.

  • Roma Tongghuh (rumah induk)

Roma Tongghuh atau rumah induk biasanya dibangun di sebelah Utara dari Taneyan Lanjhang dan menghadap ke selatan. Rumah induk pada umumnya ditinggali oleh anggota keluarga tertua dalam keluarga besar di satu Taneyan Lanjhang.

Rumah induk juga memiliki ciri khas yang dapat membedakannya dari rumah anggota keluarga lainnya. Ciri yang paling mudah dilihat adalah ornamen jengger ayam pada rumah induk serta ukuran rumah yang lebih besar dan mewah dibandingkan rumah lainnya.

  • Taneyan (halaman)

Halaman atau taneyan berada di bagian tengah dari pemukiman keluarga atau Taneyan Lanjhang dengan bentuk memanjang.

Halaman ini berfungsi sebagai tempat bersosialisasi bagi para anggota keluarga. Selain itu halaman juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya berbagai aktivitas, seperti tempat bermain anak, upacara adat, menjemur hasil bumi dan kegiatan lainnya.

  • Dapur

Dapur pada Taneyan Lanjhang biasanya terletak di samping atau di belakang rumah serta dapat juga berada di samping kandang ternak.

Selain memiliki fungsi utama sebagai tempat mengolah makanan, dapur juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen. Untuk ukuran dari dapur biasanya tak terlalu besar dan disesuaikan dengan kebutuhan dari keluarga tersebut.

Baca juga: Carok Identitas Ksatria Orang Madura: Sebuah Tafsir untuk Generasi Milenial

Filosofi yang Terkandung dalam Taneyan Lanjhang

Taneyan Lanjhang bukan hanya menjadi rumah adat Madura yang disusun berderet, tetapi juga memiliki makna filosofis di dalamnya. Seperti pengurutan rumah dari timur ke barat yang melambangkan urutan usia penghuni rumah dari yang tertua sampai yang termuda.

Taneyan Lanjhang yang hanya memiliki satu pintu masuk dengan berhiaskan ukiran khas Madura dengan warna hijau dan merah pun juga memiliki makna yaitu kesetiaan dan perjuangan.

Secara garis besar, Taneyan Lanjhang melambangkan budaya masyarakat Madura yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat serta religius dimana tergambar jelas pada susunan rumah di Taneyan Lanjhang serta adanya musala sebagai tempat beribadah.

Baca juga: Keberadaan Barisan Tjakra: Melihat Sisi Masyarakat Madura dalam Pelukan Belanda

Rumah adat merupakan bentuk simbolis yang sejatinya dapat menunjukkan budaya setempat tanpa harus berkata-kata. Sama halnya dengan Taneyan Lanjhang yang berhasil membuat setiap yang melihatnya berdecak kagum lewat keunikan dan makna filosofis mendalam yang dimilikinya.

Referensi: Kompas.com | rumah.com | orami.com | berita.99.co | wikipedia | warisanbudaya.kemdikbud

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Raras Wenny lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Raras Wenny. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini