Carok Identitas Kesatria Orang Madura: Sebuah Tafsir Untuk Generasi Milenial

Diki Febrianto

Membaca dan menulis

Carok Identitas Kesatria Orang Madura: Sebuah Tafsir Untuk Generasi Milenial
info gambar utama

Selain sate, makanan khas Madura dari olahan daging sapi yang ditusuk dan dipanggang beserta aksen bahasanya yang unik, Madura memiliki budaya yang dikenal dengan istilah Carok.

Carok adalah istilah kebudayaan lekat dengan orang Madura, khususnya warga Jawa-Timuran, kata ini sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Secara bahasa, carok berarti tarung bebas. Lebih jauh lagi, bagi orang Madura carok adalah jalan terakhir bagi para lelaki untuk menyelesaikan permasalahan, dengan cara tarung bebas menggunakan celurit secara kesatria.

Banyak stereotipe yang mengatakan bahwa orang Madura itu kasar atau keras, hal itu sepenuhnya tidak dapat dibenarkan, akan tetapi dalam karakternya orang Madura dikenal tegas dan berani dalam mengambil keputusan.

Pada awalnya, Carok menjadi adalah sarana menyelesaikan konflik antara kedua-belah pihak yang bertikai.

Pertikaian yang menjadi penyebab munculnya Carok di antaranya berkaitan dengan persoalan; perselingkungan, sengketa warisan, fitnah, dan tuduhan pencurian.

Prinsipnya, Carok terjadi ketika seseorang yang harga dirinya dipertaruhkan dan tidak ada jalan lain untuk menyelesaikannya selain dengan tarung bebas.

Secara historis, Carok sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Beberapa catatan seperti surat kabar Java Post (1912) menyebutkan bahwa orang Madura suka membawa celurit di jalanan.

Lelaki Madura suka membawa pisau tajam atau celurit ketika bersitegang dengan lawannya. Celurit bagi mereka merupakan bagian penting yang tak terpisahkan.

Bagi para Belater (jago: orang yang dianggap memiliki keberanian lebih) bahkan menjadikan celurit sebagai sekep atau senjata andalan yang selalu dibawa kemana mereka pergi.

Melihat Peran Hewan Kurban dalam Tradisi Masyarakat Bajawa, Flores

Nilai sakral carok

Tujuan daripada Carok sebenarnya tidak sekedar menebas atau membunuh orang tanpa alasan, aksi tersebut diawali konflik yang sudah tidak bisa lagi dibacarakan dengan kepala dingin.

Proses terjadi carok tidak ujug-ujug saling bunuh, ada kebiasaan yang tidak tertulis yang mereka lakukan sebelum menuju arena pertarungan.

Tahapan awal yang harus dilakukan sebelum duel pertarungan adalah rembhek atau diskusi dengan keluarga besar masing-masing.

Selanjutnya mereka meminta izin kepada orang tua dan istri, karena mereka yang akan ditinggalkan. Para petarung carok menyadari bahwa di antara mereka akan meninggal, akan ada yang kalah dan menang.

Keluarga inti maupun keluarga besar dengan berat hati mengizinkan para petarung melakukan Carok, karena itu bagian dari budaya dan harga diri yang harus dijaga.

Setelah pembicaraan dengan keluarga besar selesai, mereka selanjutnya menyepakati arena pertarungan. Di antara mereka memahami dan sekaligus kedua keluarga besar bahwa carok adalah jalan terakhir.

Mereka bersepakat bahwa apapun hasilnya tidak melakukan balas dendam, karena carok adalah akhir bagi kedua belah pihak yang berkonflik.

Ketika konflik yang mengarah pada harkat dan martabat atau harga diri, Carok kemungkinan besar akan terjadi.

Bagi sebagian kelompok di Madura bahkan menganggap bahwa orang yang tidak melakukan carok padahal dirinya dilecehkan dianggap bukan lelaki sejati.

Sebagian lain lebih ekstrem lagi, mereka yang tidak melakukan Carok tidak dianggap sebagai orang Madura.

Carok adalah harga diri, ‘maloh’ atau malu jika harga dirinya diinjak-diinjak tapi pilihannya diam-diam saja, atau tidak mengambil tindakan.

Ada ungkapan yang jamak didengar oleh orang Madura “Angok pote tolang katembeng pote matah” yang berarti lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.

Ada prinsip lain yang sejalan namun lebih tegas yaitu “Tambhenah todus, mateh” yang berarti untuk mengobati malu yaitu harus mati.

Pesan yang lebih dalam adalah lebih baik mati dengan mempertahankan harga diri daripada hidup tetapi marwah dijatuhkan.

Ragam Tradisi Unik Ala Masyarakat Adat yang Ada di Kalimantan Timur

Carok dari masa ke masa

Ilustrasi pertarungan Trunojoyo tokoh kebanggaan Madura melawan VOC oleh Willem Steelink - J. Hendrik van Balen (1890) | Public Domain
info gambar

Pada perkembangannya, semua jenis pembunuhan di Madura dikaitkan dengan istilah Carok. Meskipun tidak melalui proses dan tradisi, ketika ada yang meninggal dibacok atau pertengkaran yang tidak jelas penyebabnya disebut Carok pula.

Carok mengalami peyorasi dan kehilangan makna di antara masyarakat Madura. Kendati demikian, berdasarkan hasil penelitian Program Kreatif Mahasiswa (PKM-Soshum, 2016) Universitas Airlangga menyebutkan bahwa Carok kehilangan maknanya disebabkan oleh media informasi.

Tim peneliti menemukan bahwa media berperan penting ketika memberikan penamaan judul atau istilah dari judul dan redaksi kata setiap kejadian pembunuhan mereka sebut "carok".

Padahal idealnya carok tidak sembarangan dilakukan dan melalui proses yang sakral. Terlalu mudah melabeli semua kejadian kekerasan sebagai carok menjadikan aksi tersebut yang murah dan mudah terjadi.

Di sisi lain, bagi generasi muda carok sudah mulai asing dan tidak mudah mereka temui lagi tidak seperti tahun-tahun 2000-an dan tahun 1990-an ke bawah.

Kampung Miduana, Dihuni Keturunan Kerajaan dan Punya Tradisi Unik

Memaknai carok ala gen milenial

Bagi logika masyarakat hari ini dan nilai budaya yang berkembang tentunya Carok barangkali merupakan budaya yang tidak relevan.

Namun, tidak arif rasanya jika kita tidak memahami secara mendalam akar historis dan nilai-nilai yang terkandung bagi masyarakat Madura pada saat itu.

Kita menyadari bahwa Carok adalah aksi kekerasan yang tidak dapat dibenarkan dan dilanjutkan, tidak semua produk budaya diteruskan dan dikembangkan begitu saja.

Produk budaya masa lalu juga merupakan pengembangan atau bahkan pengganti dari budaya sebelumnya. Tetapi kita tidak boleh serta merta membuang begitu saja, kita pelajari sebagai bagian dari kisah masa lalu yang benar pada masanya.

Persoalan Carok, baik bagi generasi muda Madura atau pemuda Indonesia pada umumnya, bahwa ada nilai yang bisa kita ambil dari budaya tersebut.

Carok tidak dapat dilepaskan dengan harga diri, maka harga diri pemuda saat ini adalah harus memiliki kontribusi nyata bagi bangsanya-spirit nilai tersebut yang dapat kita konversi untuk pemuda saat ini.

Malu, bagi kita orang Madura, jika kita tidak berpendidikan, makna pendidikan luas, tidak hanya sekolah di bangku formal. Kita terus belajar dan menyebarkan pendidikan ke seluruh pelosok negeri.

Mereka yang terpelajar akan berdiri di atas kaki sendiri, mampu mengolah sumber daya yang mereka miliki, dan tentunya punya harga diri.

Malu, bagi kita generasi muda jika tidak berkarya. Platform digital, infrastruktur untuk maju saat ini cukup memadai. Setidaknya, kita tidak tertekan melawan penjajah seperti generasi muda di zaman dahulu.

Carok secara budaya mungkin tidak boleh diteruskan, tetapi secara spirit, bisa kita ambil sebagai sebuah nilai yang dapat kita aplikasikan ke dalam berbagai kehidupan.

Carok adalah spirit untuk memiliki harga diri, menjadi pemuda yang memiliki dayar tawar.

Harga diri bagi orang Madura adalah malu jika tidak melakukan apa-apa untuk bangsa Indonesia.

Petirtaan Ngawonggo dan Tradisi Warga Melestarikan Situs agar Bermanfaat Ekonomi

Referensi:

Latief, A.Wiyata. 2013. Carok; Konflik Kekerasan & Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS.

Henry Arianto, Krishna. 2012. Tradisi Carok Pada Masyarakat Adat Madura. Fakultas Hukum, Universitas Esa Unggul Jakarta.

Universitas Airlangga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diki Febrianto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diki Febrianto.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

DF
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini