Tanaman Hotong, Panganan Lokal Simbol Jati Diri Masyarakat Pulau Buru

Tanaman Hotong, Panganan Lokal Simbol Jati Diri Masyarakat Pulau Buru
info gambar utama

Pulau Buru sebagai salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku menyimpan banyak sejarah pada masa orde baru. Selain itu Pulau Buru juga memiliki kuliner andalan bernama tanaman hotong.

Tanaman hotong memiliki mitos yang dipercaya oleh masyarakat Pulau Buru. Dikisahkan pada zaman dahulu ada sekumpulan orang yaitu putri dan keluarganya yang melakukan sebuah perjalanan dan kehabisan makanan serta minuman.

Putri tersebut kemudian berdoa kepada Oppolestala (Tuhan) untuk diberikan makanan. Bahkan dia pun merelakan salah satu bagian tubuhnya untuk dapat berubah menjadi makanan agar mereka bertahan hidup.

Mengenal Tanaman Paling Mematikan di Dunia yang Berasal dari Timur Indonesia

Oppolestala kemudian mengabulkan permohonan sang putri hingga mengubah salah satu bagian tubuhnya menjadi bulir-bulir hotong sehingga dapat diolah menjadi makanan. Sang putri pun dijuluki sebagai Boki Faten (Putri Hotong).

“Tanaman hotong ini mendapat perlakukan khusus dari orang Buru yang mengerti akan sejarah pengorbanan Boki Feten. Dalam setiap jamuan adat, Waji Hotong merupakan makanan yang wajib dihidangkan,” papar Umi Hidayati dalam Tari Boki Feten Ungkap Asal Usul Tanaman Hotong di Tanah Fuka Bupalo.

Makanan penduduk asli

Ketua Gabungan Kelompok Tani Wal Holobagut, di Waeperang, Ismail Ang menyebut sejak dahulu, hotong menjadi sumber makanan penduduk asli Pulau Buru yang hingga kini masih ada dan tinggal di pedalaman pulau.

Karena itulah sejak tahun 2004, Dinas Pertanian Kabupaten Buru mengambil bibit holong yang banyak tumbuh di Waepotih, pedalaman buru. Bibit itu kemudian akan ditanam di daerah pesisir yakni di Waeperang.

Greg Hambali, Bapak Aglaonema yang Bisa Hasilkan Tanaman Hias Rp600 Juta

Menurutnya budidaya hotong tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif. Hotong ini juga bukan tanaman manja sehingga dapat tumbuh dengan baik tanpa diberi pupuk. Hotong juga cocok di lahan kering, seperti di Waeperang atau di Buru.

Di awal penanaman, 153 petani Waeperang membudidayakan hotong di 153 hektare lahan kering. Dari setiap hektare diperoleh 1 ton biji hotong. Namun, sejak tahun lalu, hanya tersisa 10 petani, itu pun mereka menanam hotong dengan jenis sayuran lain.

“Kalau murni hotong sekitar delapan hektare saja,” ujar Ang yang dimuat Kompas.

Mempromosikan hotong

Pemerintah Kabupaten Buru juga sering membawa hotong saat pameran di luar Buru. Inilah yang mendorong orang-orang di luar Buru, kian mengenal hotong dan mencarinya. Karena minimnya pasokan, tidak mudah untuk memperoleh hotong di Buru.

Gregorius Magnus Finesso dan kawan-kawan menjelaskan bahwa dahulu hotong bukan sebatas makanan bagi penduduk Buru. Hotong juga menjadi bagian dari budaya masyarakat Buru karena bagian dari upeti kepada raja.

“Bahkan, konon, feten diibaratkan seperti seorang puteri karena bijinya yang halus dan ujung malai yang berubah merah seperti bibir puteri saat siap dipanen,” ucapnya.

Manusia Hanya Konsumsi 0,1 Persen dari Seluruh Tanaman Bumi yang Bisa Dimakan, Kenapa?

Tetapi kini, beras telah menggeser hotong. Padahal penelitian Institut Pertanian Bogor menyebut kandungan karbohidrat pada hotong sebanyak 81,32 persen atau lebih tinggi daripada beras yang hanya 70-80 persen.

Kandungan protein hotong mencapai 14,05 persen atau lebih tinggi daripada beras yang hanya 4-5 persen. Hotong juga dinilai memiliki kandungan antioksidan yang dapat mencegah kanker.

Hingga kini, masyarakat Buru biasanya mengolah hotong untuk menjadi bubur. Padahal selain bubur, hotong bisa juga diolah menjadi wajik, makanan ringan, mie, bahkan roti. BPTP Maluku telah menguji coba pengolahan hotong menjadi beragam makanan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini