Manusia Hanya Konsumsi 0,1 Persen dari Seluruh Tanaman Bumi yang Bisa Dimakan, Kenapa?

Manusia Hanya Konsumsi 0,1 Persen dari Seluruh Tanaman Bumi yang Bisa Dimakan, Kenapa?
info gambar utama

Hingga saat ini umumnya ada dua jenis sumber daya alam yang bisa dikonsumi sebagai sumber pangan manusia, yakni tumbuhan dan hewan. Lebih luas, ada ratusan ribu bahkan jutaan spesies dari masing-masing tumbuhan dan hewan yang hidup berdampingan dengan manusia

Dari miliaran spesies tersebut, sebagian masuk kategori yang dapat dimakan oleh manusia, sebagiannya lagi tidak. Entah karena alasan kandungan racun atau bahaya yang terdapat di dalamnya, atau memang tidak selayaknya menjadi sumber pangan.

Membahas mengenai tumbuhan, tercatat jika setidaknya ada sekitar 300.000 spesies tumbuhan atau tanaman yang sebenarnya dapat dimakan. Namun, terungkap jika sejak dulu hingga saat ini, rupanya tak sampai 0,1 persen dari total tersebut yang selama umum dikonsumsi manusia.

Manusia Hanya 0,01 Persen dari Kehidupan Bumi. Lalu Apa Saja Sisanya?

200 spesies tanaman yang dikonsumsi

Ilustrasi tanaman sayur yang umum dikonsumsi | Paulo O/Flickr
info gambar

Melansir New Scientist, tercatat jika dari sebanyak 400.000 spesies tanaman yang ada di bumi, lebih dari setengahnya ternyata bisa dimakan. Lebih detail, jumlah yang dimaksud adalah 300.000 spesies.

Namun, yang mengejutkan, ternyata baru sekitar 200 spesies tanaman yang selama ini lazim dikonsumsi masyarakat dunia. Ya, jika dikalkulasi angka tersebut bahkan hanya mewakili sekitar 0,06 persen, atau tak sampai 0,1 persen diri keseluruhan tanaman yang bisa dimakan.

Bahkan jika dikerucutkan lebih jauh, selama ini 75 persen makanan dunia umumnya hanya berasal dari 12 jenis tumbuhan dan 5 jenis hewan. Belum lagi dalam memenuhi kebutuhan asupan harian berupa protein dan kalori, manusia hanya mengandalkan tiga jenis spesies tanaman yang terdiri dari jagung, beras, dan gandum.

Mengapa demikian?

Melihat fakta di atas, ahli Geografi sekaligus penulis sains Jared Diamond menuliskan pengamatannya sendiri dalam buku berjudul Guns, Germs, and Steel (1997). Menurutnya, tanaman yang di masa kini banyak manusia makan sebenarnya adalah hasil seleksi dari generasi ke generasi.

Disebutkan bahwa petani yang berperan besar dalam bidang pangan hanya memilih dan menyukai tanaman yang paling enak. Selain itu, dilihat juga kandungan yang memiliki gizi terbesar serta hasil pertanian yang menguntungkan.

Meski sebenarnya di saat bersamaan, dunia telah kehilangan sekitar 75 persen keanekaragaman tanaman yang ada di bumi.

Selain itu, para ahli biologi juga percaya jika ada alasan lain yang membuat hanya sedikit spesies tanaman yang saat ini umum dikonsumsi. Alasan tersebut menyorot proses reproduksi atau pertumbuhan tanaman yang sebagian besar bersifat rumit.

Potensi Sukun Sebagai Alternatif Pangan Utama di Masa Depan

Menghindari tanaman yang bergantung pada serangga

Tanaman yang bergantung pada penyerbukan serangga | Daniela/flickr
info gambar

Lebih detail, maksud dari pertumbuhan tanaman bersifat rumit, adalah tanaman berbunga yang mengandalkan serangga untuk proses perkembangbiakkannya. Di mana proses perkembangbiakkan itu baru dapat terjadi dengan bantuan penyerbukan dari serangga.

Bayangkan jika umat manusia mengandalkan bunga dari tanaman berbunga sebagai sumber makanan pokok? Maka proses penanamannya sudah pasti tidak bisa dilakukan dengan pertanian atau perkebunan.

Perkembangbiakkan bunga sebagai sumber pangan nantinya hanya akan bergantung pada bantuan serangga, yang tak bisa dikendalikan.

Meski pada beberapa kondisi, sebenarnya tetap ada beberapa spesies tanaman bunga yang dapat dikonsumsi. Namun sifatnya hanya berupa tanaman yang diyakini berkhasiat atau dapat memberikan manfaat tertentu, bukan karena berstatus sebagai sumber pangan.

Adapun jenis bunga yang saat ini cukup banyak dikonsumsi terdiri dari mawar, yang banyak dijadikan teh. Mawar juga dipercaya memiliki ragam manfaat dengan berperan sebagai anti-inflamasi, dan baik bagi jantung.

Selain itu, beberapa jenis bunga lain yang bisa dikonsumsi berupa inti sarinya terdiri dari kecombrang, rosella, hibiscus, bunga matahari, dan safron.

Siasat Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini