Lupa Sandi?

Tingkatkan Literasi Baca ala Pusing Deprok

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Tingkatkan Literasi Baca ala Pusing Deprok

Membaca adalah mempersenjatai diri, begitu bunyi pepatah lama. Jika demikian maka buku adalah senjata dan perpustakaan merupakan gudang senjata, begitu yang dipercayai gerakan Pusing Deprok.

Kata pusing merupakan singkatan dari perpustakaan keliling, sedangkan deprok  atau ngedeprok berasal dari Bahasa Betawi yang berarti duduk di bawah atau lesehan. Jadi, Pusing Deprok dapat diartikan sebagai perpustakaan keliling yang digelar lesehan. Biasanya komunitas ini menggelar buku yang dibawa dengan alas seadanya, seperti plastik, kertas koran, ataupun tenda ketika hujan datang. Orang yang ingin memilih buku harus ikut ngedeprok sebelum mencari tempat nyaman untuk membaca.

Pusing Deprok menyebut diri sebagai gerakan, bukan komunitas. Dengan menjadi gerakan, bentuknya menjadi lebih cair sehingga siapa pun bisa bergabung tanpa syarat. Begitu penjelasan Yazid Fahmi, salah satu dari empat inisiator Pusing Deprok yang berbincang dengan GNFI beberapa waktu lalu.

Ngedeprok bersama Pusing Deprok. © Pusing Deprok
Para pengunjung yang ingin membaca duduk ngedeprok. © Pusing Deprok

Suatu hari Yazid, begitu ia biasa disapa, membereskan tumpukan buku di rumah. "Banyak buku yang sudah dibaca, sayang rasanya jika diloakin (dijual ke pengepul barang bekas--Red)," maka terlintas ide membuka rumah baca. Setelah ide muncul, datang persoalan lain: Mau membuka perpustakaan di mana? Mengingat ia tidak memiliki tempat yang cocok untuk dijadikan rumah baca. Maka lagi-lagi muncul ide yang menjadi solusi: Perpustakaan keliling!

Baca Juga

Untuk membuka perpustakaan, Yazid dan ketiga rekannya memilih taman kota. Tiap pekan di hari Minggu, mereka menggelar koleksi buku. Dua pekan berturut-turut digelar di satu taman yang sama, di sekitar Jabodetabek. Lapak buku digelar sejak pukul 11.00 hingga 18.00, yaitu di jam ramai pengunjung taman. "Sebab taman ramai di hari Minggu," serunya ketika ditanya alasan memilih taman.

Jika memilih tempat ramai, mengapa bukan di pusat perbelanjaan yang jumlahnya sangat banyak di Jabodetabek? "Mal itu kan kesannya menjual, kita gak jualan," jelasnya. Keistimewaan taman bagi Yazid, adalah profil pengunjungnya. "Semua golongan masyarakat main ke taman, dari mereka yang tidak berada sampai orang berpunya," tambahnya.

Pedagang minuman (atas) dan tisu (bawah) keliling ikut membaca di lapak Pusing Deprok.
Pedagang minuman dan tisu keliling ikut membaca. © Pusing Deprok

Memberi kesempatan pada mereka yang tak dapat mengakses bacaan, merupakan tujuan khusus yang ingin dicapai Pusing Deprok. Tak sedikit pedagang asongan yang mampir ke lapak bukunya, duduk tekun membaca buku yang mungkin tak mampu dibelinya. Tujuan utama dari gerakan ini adalah membuat lebih banyak kantung baca. "Jika ada banyak kantung baca, minat membaca akan lebih tinggi," kata Yazid mengingat rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia.

Hasil literasi Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2015 yang dirilis Desember 2016 lalu menempatkan siswa Indonesia di peringkat 62 (ilmu pengetahuan), 61 (membaca) dan 63 (matematika) dari 69 negara yang dievaluasi. Meski setiap tahun terjadi peningkatan, angka tersebut masih sangat menghawatirkan. PISA merupakan studi internasional bagi siswa sekolah berusia 15 tahun, yang digagas oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Yazid (berbaju biru) bersama pegiat Pusing Deproksatt menggelar lapak buku. © Pusing Deprok
Yazid (berbaju biru muda) bersama pegiat Pusing Deprok lainnya saat menggelar lapak buku. © Pusing Deprok

Selain koleksi milik pribadi, gerakan ini juga mendapat sumbangan buku dari orang lain yang tergerak untuk membantu. Ada pula yang memberinya uang, meski kemudian ditolak. "Takut membiasakan terima uang, kami lebih baik diberi buku," terangnya. Tempat pertama menggelar lapak buku adalah Taman Suropati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sendiri Yazid menggelar 30 judul buku yang dibawanya, hari itu hanya dua anak yang mampir membaca. "Cuma bisa menghibur diri, sambil refleksi apa yang musti diperbaiki," kisahnya.

Lambat laun pembaca lapaknya makin bertambah. Tak hanya anak, namun juga pengunjung lintas usia. Diantara ratusan pengunjung yang sudah membaca di lapaknya, adapula pegiat perpustaakaan, termasuk perpustakaan keliling. "Dari perkenalan dengan sesama pegiat perpustakaan keliling, akhirnya agenda ngelapak (membuka lapak--Red) makin ramai," jelas Yazid.

Agenda bersama komunitas Perpustakaan Keliling Bandung, adakan pelatihan cukil kayu. © Pusing Deprok
Bersama komunitas Perpustakaan Keliling Bandung adakan pelatihan cukil kayu. © Pusing Deprok

Kini di nyaris tiap gelarannya, ada saja komunitas yang ikut membuka bersama lapak buku bacaan. Salah satu yang kerap bergabung adalah Perpustakaan Jalanan. Pusing Deprok juga mengajak sejumlah komunitas hobi di luar dunia buku untuk bergabung membuat agenda bersama.

Biasanya Pusing Deprok membawa buku anak-anak dan dewasa dengan jumlah sekitar 50 judul. Jika saja masing-masing komunitas membawa 50 judul buku, bayangkan berapa banyak judul yang bisa dinikmati tiap orang secara gratis?

Namun meski buku yang digelar dipinjamkan secara gratis, jumlah rata-rata pembaca lapak di tiap hari gelaran hanya berkisar lima orang. menurut Yazid, hal ini bisa dikarenakan sejumlah alasan. "Mungkin buku yang mereka cari gak ada, atau buku yang ada tidak menarik," tebaknya. Bisa pula, tambah Yazid, mereka merasa bahwa membaca di tempat gelaran tidak seru, sebab jika belum selesai dibaca, buku tidak bisa dibawa pulang.

Faktor lain, "Masih ada yang mikir kita menjual, bukan meminjamkan, sehingga tidak ada yang mendekat," jelasnya. "Ketika mereka tanya harga, kita jelasin kalau ini tidak dijual dan dipersilahkan membaca, eh malah gak mau baca," lanjutnya. Alasan terakhir tentu saja yang menjadi pekerjaan rumah semua orang, yaitu minimnya minat baca.

Yazid (dua dari kanan) saat diundang berbicara tentang Pusing Deprok di stasiun TVRI. © Pusing Deprok
Yazid (dua dari kanan) saat diundang berbicara tentang Pusing Deprok di stasiun TVRI Jakarta. © Pusing Deprok

Nyaris setahun sudah, Pusing Deprok mantapkan diri sebagai gerakan yang hadirkan bacaan bagi khalayak. Minimnya minat baca hingga di satu tahun gelaran perpustakaannya, tidak membuat Yazid patah arang. "Selama menjalankan ini gak pernah kepikiran kapan harus berhenti sih," pungkasnya. Memperingati satu tahun usianya 28 Maret mendatang, Pusing Deprok adakan Kemah Literasi. Ikuti akunnya di Facebook dan Instagram untuk memperoleh info lanjut.

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi44%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

Artikel Terkait

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata