Lupa Sandi?

Dua Dedengkot Perusahaan Rintisan Indonesia di Forum Teknologi Dunia

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Dua Dedengkot Perusahaan Rintisan Indonesia di Forum Teknologi Dunia

The Wall Street Journal (WSJ), surat kabar harian internasional asal New York, AS, selenggarakan konferensi internasional bagi pelaku bisnis bidang teknologi informasi. Agenda bertajuk The Wall Street Journal’s D.Live Asia Conference atau D.Live Asia ini, diadakan untuk pertama kalinya pada 8-9 Juni 2017.

Agenda ini mempertemukan CEO, pendiri, investor dan parapihak lain dari seluruh dunia, untuk menyusun agenda teknologi global. Para pembicara dan masyarakat umum yang mengikuti agenda ini, terlibat dalam eksplorasi penggunaan teknologi dan bagaimana Asia, dalam berbagai hal, memimpin teknologi dunia.

Dalam salah satu program utama, dua dedengkot perusahaan rintisan di bidang teknologi informasi asal Indonesia, Go-Jek dan Tokopedia, hadir sebagai pembicara. Mereka memberi perspektifnya dalam sesi "Memanfaatkan Ledakan Konsumen Baru di Asia Tenggara", yang dipandu oleh Editor Teknologi WSJ Jason Dean.

Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim (N) dan Tokopedia William Tanuwijaya (W) hadir sebagai pembicara. Pada Jason (J), mereka mendiskusikan tentang kesempatan dan tantangan dalam menjalankan bisnis mereka di Indonesia. Berikut laporannya, sebagaimana dirangkum The Wall Street Journal.

Memprediksi masa depan
J: Dahulu pasar teknologi Indonesia dibayangi raksasa regional seperti Cina dan India. Kini Indonesia miliki pasar sendiri yang sangat berkembang. Apa yang membuat Indonesia begitu menarik bagi industri teknologi?

W: Kita dapat mempelajari masa depan Indonesia melalui pengalaman pasar AS, Cina, Jepang dan India di masa lalu. Kondisi Indonesia kini sangat mirip dengan Cina di tahun 2008. Tinggal mengikuti pola tersebut.

J: Selain mengangkut penumpang, Go-Jek juga melayani jasa pembelian makanan, pengiriman paket, keperluan kecantikan, hingga jasa bersih-bersih. Apa yang menyebabkan anda berekspansi begitu luas?

N: Peluang di Indonesia sangat masif, diversifikasi penting untuk meminimalisir resiko. Cina dan India mengajarkan bahwa harga yang lebih murah akan diterima publik, dengan tetap mengembangkan platform teknologi yang kita miliki. Platform adalah pola pikir, sehingga pemikiran bisnis harus mengikuti kebutuhan konsumen. Jadi, diversifikasi adalah soal bertahan hidup, dengan berkembang sesuai kebutuhan.

J: Bagaimana mempertimbangkan, apa yang diperlukan maupun tidak diperlukan oleh konsumen?

N: Dengan mempelajari jenis transaksi utama yang dilakukan oleh kelas menengah dalam kehidupan sehari-hari, lalu memindahkannya ke dalam ponsel. Semua yang disediakan Go-Jek adalah yang dibutuhkan mereka, sehingga transaksi dapat dilakukan hanya melalui ponsel. Empat pilar inti Go-Jek adalah transportasi, logistik, makanan dan pembayaran.

Mengukur pasar
J: Dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, berapa besar yang dapat dijangkau oleh produk anda?

N: Kelas menengah adalah pasar terbesar, meski kelas menengah ke bawah juga merupakan konsumen yang tidak sedikit. Semua orang membutuhkan transportasi, makanan, barang dan seterusnya. Produk jasa ini memang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki Android dan IOS.

J: Jadi, apakah itu berarti terkait penetrasi ponsel pintar?

N: Saat ini penetrasi ponsel pintar mencapai 70-80 juta.

J: Tahun lalu Google melaporkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 100 juta. Dari jumlah itu, hanya 40 juta yang memiliki rekening bank, dan hanya 3 persen yang menggunakan kartu kredit. Ketika ada kesenjangan antara mereka yang bertransaksi online dan tidak, kami melihat ada peluang di sana. Maka kami lakukan inovasi dengan membuat sistem dimana pengguna konsumen yang tidak memiliki kartu kredit tetap dapat berbelanja secara online, meski membayar dengan cara tunai.

Rencana mengembangkan sayap ke luar negeri
J: Adakah rencana melebarkan sayap ke luar Indonesia?

N: Tentu kami selalu memikirkan hal tersebut. Namun prinsip kami, kita tak akan dapat memenangkan Asia Tenggara tanpa merebut pasar Indonesia. Kita harus nyaman di semua lini vertikal, sebelum kemudian berkembang. Prinsip lainnya, kami percaya pada kemitraan dengan perusahaan lokal.

W: Kami miliki prinsip sama. Dalam delapan tahun terakhir, Tokopedia hanya berfokus pada pasar Indonesia yang menurut kami merupakan pasar yang besar. Menjadikan teknologi perdagangan menjadi demokratis merupakan visi kami. Ketika itu beres, ekspansi ke luar negeri akan kami pertimbangkan.

Selengkapnya di The Wall Street Journal.

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau30%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata