Mungkin masih ada yang belum menyadari, bahwa kini Indonesia terdiri dari 34 propinsi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga pulau Dana. Di masa lalu, murid-murid SD (kadang hingga SMP) 'diwajibkan' untuk menghafal nama-nama propinsi di Indonesia, namun kini sepertinya 'kewajiban' tersebut tak ada lagi. 

Nah, propinsi yang termuda di Indonesia, adalah Kalimantan Utara. Seperti namanya, Kalimantan Utara (disingkat 'Kaltara) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan. Provinsi ini berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Negara Bagian Sabah dan Serawak.

Propinsi ini resmi disahkan menjadi provinsi dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 25 Oktober 2012, sehingga kini sudah berusia 5 tahun.  Dan dipilihlah Tanjung Selor, sebuah kecamatan di Kabupaten Bulungan, untuk menjadi ibukota propinsi baru ini. Tanjung Selor memang bukanlah yang terbesar di Kaltara, kota Tarakan yang berjarak 60 km lewat laut dari Tanjung Selor, memang lebih besar dan lebih maju secara ekonomi maupun infrastuktur.

Sayangnya, Tarakan yang seluas 250 km2 terletak di sebuah pulau kecil, sehingga ke depan, pengembangannya akan mengalami kendala, termasuk konektifitasnya dengan daerah-daerah lain di Kaltara. 

Sementara Tanjung Selor sendiri  terletak di pulau utama Kalimantan, dan terhubung di darat dengan kota-kota lain di Kaltara maupun propinsi lain di Kalimantan, bahkan ke Malaysia. Inilah alasan Tanjung Selor dipilih, karena propinsi ini punya rencana-rencana besar untuk pengembangan di masa depan. 

Saya berkesempatan mengunjungi ibukota baru ini, dan memang, Tanjung Selor memiliki potensi besar untuk berkembang di masa datang. Kota yang terletak di pinggir sungai Kayan ini terlihat cukup bersih dan teratur, dan sepertinya pemerintah sudah mulai menyadari pentingnya pengelolaan kota. Sepanjang sungai sudah mulai dibersihkan dan dibangun taman kota yang asri dan hijau. Pun masyarakatnya terkesan begitu dekat dengan pemerintah dan mempercayakan pengembangan propinsi dan kotanya kepada mereka.

Salah satu sudut Tanjung Selor | Foto by alamcerita.com
Salah satu sudut Tanjung Selor | Foto by alamcerita.com

Saya juga menyempatkan diri untuk melihat bandara. Bagaimanapun juga, konektifitas udara sangat penting bagi ibukota Kaltara ini, agar setidaknya bisa diakses lebih mudah dari kota-kota besar di kawasannya.

Selama ini,  akses udara dari luar memang masih harus transit di Bandara Juwata di Tarakan, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan laut selama 1.5 jam hingga 2 jam, atau bisa juga dilanjutkan dengan pesawat kecil jenis Grand Caravan yang dioperasikan Susi Air atau atau ATR-42 yang diterbangkan Kalstar Aviation, dan mendarat di bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor.

Kalstar ATR-42 | Prokal.co
Kalstar ATR-42 | Prokal.co

Bandara Tanjung Harapan kini memang masih lebih kecil dari bandara Tarakan, namun pemerintah bertekad bahwa bandara Tanjung Harapan akan terus dikembangkan.  Tanggal 8 Agustus lalu, Wings Air sukses mendarati bandara ini. Wings Air yang mengoperasikan ATR-72-600 mendarat tanpa kendala saat mengujicoba kelaikan landasan pacu bandara tersebut. 

Belum ada konfirmasi kapan Wings Air akan resmi beroperasi ke Tanjung Selor, tapi maskapai dengan pesawat dengan kapasitas 72 penumpang ini rencananya akan melayani rute Balikpapan-Tanjung Selor dan sebaliknya. Waktu tempuh dari Balikpapan ke Tanjung Harapan memakan waktu sekira 1 jam 30 menit.

Sebuah awal yang sangat menarik, inilah milestone penting bagi berkembangnya Tanjung Selor dan Kaltara di masa depan. 

Seperti apa?

Saya berkesempatan berkunjung ke kantor pengelola bandara Tanjung Harapan, dan ditemui langsung oleh Kepala Penyelenggara  Bandara Tanjung Harapan Andi Faisal Ali ST,MT yang didampingi oleh Kepala subseksi Teknik Keamananan dan Keselamatan Penerbangan, Robby Fajar Suryanegara ST untuk mengetahui lebih lanjut rencana dan visi ke depan bandara ini.

"Bulan depan, runway bandara ini sudah sepanjang 1600 meter dengan lebar 30 meter. Itu masterplannya. Tetapi nanti bisa diperpanjang lagi menjadi 1.850 meter" kata Faisal. 

"Kalau 1.850 meter, klasifikasinya naik menjadi kelas IV, Bombardier dan Boeing 737 Seri 300 masuk," tuturnya.

Bombardier yang dimaksud adalah pesawat Bombardier CRJ1000 yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. 

Bombardier CRJ1000 | Routesonline.com
Bombardier CRJ1000 | Routesonline.com

Robby Fajar menambahkan jika pengembangan tahap II bandara, adalah pengembangan runway Bandara Tanjung Harapan hingga sepanjang 2.500 meter. "Jika terealisasi, maka panjangnya akan melebihi runway Bandara Internasional Juwata Tarakan yang saat ini memiliki panjang 2.250 meter dan bahkan setara dengan Bandara Sepinggan Balikpapan" kata Robby. 

Sementara itu, mengenai potensi penumpang, Robby menyatakan bahwa di masa awal, pasar utama dari pengguna jasa penerbangan dari Tanjung Harapan adalah komuter, yang mereka yang melalukan perjalanan secara reguler untuk bekerja, terutama mereka yang bekerja di pemerintahan. "Perlu diketahui, 60% penumpang yang menggunakan Bandara Juwata di Tarakan, berasal dari Tanjung Selor" ungkap Robby. 

"Dan membangun bandara, itu memang sebaiknya sarananya dulu dibuat memadai, tanpa harus terlebih dahulu menunggu penumpang banyak" tambah Faisal. Faisal juga menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi juga sudah aktif berupaya mendatangkan investor. Jika episentrum ekonomi terbangun di Tanjung Selor dan sekitarnya, maka dengan sendirinya bandara Tanjung Harapan akan semakin berkembang. 

Propinsi Kaltara | Kaltaraprov.go.id
Propinsi Kaltara | Kaltaraprov.go.id

Lokasi Kaltara sendiri sangat strategis karena terletak pada lintasan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) yang merupakan lintasan laut perdagangan internasional serta berada pada kawasan pusat ekonomi dunia masa depan atau pacific rim dan langsung berhadapan dengan negara tetangga.  

Pemprov Kaltara juga sedang mempersiapkan pengembangan kawasan industri Tanah Kuning yang ditargetkan menyerap tenaga kerja sebanyak 60 ribu orang, akan didukung dengan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan internasional, jalan, jembatan, dan bandara. Selain itu, adanya rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 6600 mega watt di Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan .

Tarakan - Tanjung Selor | Arfi.com
Tarakan - Tanjung Selor | Arfi.com

"Propinsi ini punya potensi besar. Destinasi wisata, maupun pengembangan kawasan Industri, akan menjadi magnet bagi untuk untuk mengunjungi propinsi termuda ini"  pungkas Faisal. 

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga