Meraih gelar sarjana merupakan tujuan para mahasiswa yang saat ini sedang mengampu masa studi. Banyak lika-liku yang harus dijalani seperti sulitnya tugas, membuat presentasi, mempertahankan IPK yang diinginkan dan juga menghadapi dosen pembimbing. Di sisi lain, dunia perkuliahan juga dunia kita mencari jati diri dan memperbanyak pergaulan.

Dalam menghadapi masa perkuliahan untuk meraih gelar sarjana, tentunya ada beberapa mahasiswa yang merasa down  di tengah perjalanan para mahasiswa meraih gelar sarjana. Bisa jadi karena merasa kesusahan, merasa salah juruan atau bahkan kesulitan ekonomi melanda ketika kuliah. Namun begitu, perjuangan seorang mahasiswa yang satu ini mungkin bisa jadi membuat kita sadar bahwa kita perlu menuntaskan apa yang sudah kita mulai.

Setelah tahun lalu nama Asnawi, seorang penjual gorengan yang mampu meraih gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta meskipun faktor ekonomi memaksanya untuk berjualan gorengan disela waktu kuliahnya menjadi viral. Kini Muhammad Imam Bukhori, seorang mahasiswa dari kampus yang sama perlu kita jadikan penyemangat untuk menuntaskan kuliah kita.

Asnawi sang penjual gorengan yang berhasil meraih gelar sarjana (sumber : Kabarkampus)
Asnawi sang penjual gorengan yang berhasil meraih gelar sarjana (sumber : Kabarkampus)

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2011 ini memiliki kisah hidup yang membuat kita sadar bahwa sesulit apapun keadaannya, kita tetap harus berusaha untuk mencapai tujuan kita.

Perjuangan anak yang sering disapa dengan Ori ini dimulai ketika pada semester 4 ia harus menjadi tulang punggung keluarga lantaran ayah dan ibu nya  ditipu oleh pihak tak bertanggung jawab. Saat itu sang ayah yang bercita-cita untuk mendirikan tempat mengaji  untuk anak-anak sekitar rumahnya di Suryakarta, Sumatera Selatan. “Saat itu ayah ditawari untuk dibantu pengurusan proposal dan segala macam agar dapat dana dari Mekkah dan Madinah karena ayah tidak tahu menahu soal proposal”, Ujar Bukhori

Ori bersama adik laki-lakinya (kiri) dan ayah nya (kanan)
Ori bersama adik laki-lakinya (kiri) dan ayah nya (kanan)

Namun beruntung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Setelah berbagai macam proses yang mengharuskan sang bapak yang bernama Sugitno ini pergi bolak-balik ke Surabaya-Sumatera dan telah menghabiskan banyak uang untuk pembuatan proposal bersama pihak ketiga itu berujung penipuan. “Uang yang udah disiapkan untuk biaya sekolah saya dan adik-adik telah habis dan tak bisa kembali karena penipuan itu”, tuturnya.

Titik Balik Kehidupan Ori

Ori yang pada saat orang tuanya ditipu sebenarnya tidak tahu menahu tentang hal itu lantaran ia sedang ikut program exchange ke University Utara Malaysia. Namun kecurigaannya tentang suatu hal buruk yang menimpa keluarganya membuatnya harus membuktikan sendiri ketika ia pulang ke Indonesia. dan benar saja, kekayaan keluarga Bukhori termasuk rumah, kebun karet dan motor telah dijual. Keluarga pun pindah ke tempat yang terpelosok yang berada di daerah Sungai Lilin Sumatera Selatan, dimana akses ke rumah baru tersebut harus melalui medan yang sulit. Bahkan, rumah baru itu pun terbuat dari papan dan harus menggunakan genset untuk listrik. “rumah baru itu ngenes banget, bahkan kita harus pakai genset untuk listrik, itu pun baru sehari digunakan malah dicuri orang”.

Bak jatuh tertimpa tangga, uang sudah habis, pendidikan adik-adik Ori yang berjumlah 4 orang pun terlantar. Namun kondisi ini yang saat itu baru berusia 19 tahun ini memutar otak bagaimana membantu perekonomian keluarga sembari kuliah.

Awal mula Rumah Ori Management yang berjualan makanan ringan
Awal mula Rumah Ori Management yang berjualan makanan ringan

Tahun 2012  Merupakan realisasi dari keingan dari kakak dari 5 bersaudara ini. Ia mulai menata hidupnya dengan mencoba berjualan makanan ringan buatannya door to door dan membuka jasa catering untuk keperluan kampus dan sekitarnya. Makanan ringan buatannya ini ternyata mendapat respon positif serta jasa cateringnya juga sedikit demi sedikit berkembang. “Disini saya ingin untuk membawa keluarganya ke Jogja untuk memulai hidup baru,” Ujar pria yang baru saja mendapat gelar sarjana ini.

Ia pun mulai dari numpang di kontrakan teman dan kemudian berpindah ke rumah kecil tanpa kamar yang mana keluarganya mulai berpindah ke Jogja. “Rumah yang kita tempati waktu itu gak ada kamar, dan hanya sepetak kecil, namun kami tempati berdelapan termasuk sama embah,  dan  keponakan sambil tetap menerima pesanan catering dan makanan lainnya”.

Ori beserta keluarga yang berhasil dibawanya ke Yogyakarta
Ori beserta keluarga yang berhasil dibawanya ke Yogyakarta

Sedikit mulai sedikit cahaya kehidupan berpihak kepada Ori dengan Rumah Ori Management buatannya, ia berhasil mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Bisnis catering nya pun juga diurus oleh seluruh keluarga. “ya ada yang masak, ada yang bungkusin dan ada yang nganter kalau catering lagi ada pesanan” tambahnya.

Rumah Kontrakan Baru, Pergi ke Amerika dan Lulus Kuliah

Dengan meningkatnya perekonomian keluarga, Imam Bukhori yang sedang cuti kuliah dikarenakan faktor keluarga ini mulai gerakan baru, ia mengontrak rumah baru yang lebih luas dan tetap bisa dijadikan usaha di daerah Jalan Wates, Yogyakarta. Disinilah ia makin mengembangkan sayapnya, Ori pernah memiliki kesempatan untuk datang ke Amerika Serikat, di San Fransisco dan New York. Ia diundang untuk masak di beberapa kegiatan seperti Fundraising untuk pembuatan film dokumenter, serta berkunjung di beberapa restoran di Amerika Serikat guna belajar bagaimana restoran di Amerika Serikat itu beroperasi. Selain itu dia juga berkesempatan untuk berkunjung ke New York untuk melihat acara New York Fashion Week dengan seorang seniornya yang bekerja di KJRI New York.

Rumah kontrakan baru Ori sesaat setelah pindah
Rumah kontrakan baru Ori sesaat setelah pindah

Rumah  kontrakan Ori sekeluarga ini juga dijadikan warung Rumah Ori sekaligus dimana orang bisa memesan makanan melalui aplikasi Gojek. Rejeki tidak kemana, mungkin hal itu yang pantas untuk diungkapkan, dibalik kesulitan Ori yang dulu pernah dialaminya, kini Rumah Ori merupakan salah satu mitra Gojek terlaris di daerahnya. Berkat kerja kerasnya, ia pun sering diundang di beberapa acara seperti Young to Young dari BEM UMY yang mana dia satu panggung dengan Hanum Rais sebagai pembicara dan juga Future Leader Summit.

Ditengah keseimbangan ekonomi ini, Ori tidak lupa untuk menuntaskan kuliahnya. Ia kembali ke kampus dan membayar uang kuliah semester untuk melanjutkan skripsinya. Disaat yang sama Ori juga sudah mampu membiayai adik-adiknya sekolah di perguruan tinggi, SMK, SMP dan SD

berhasil menjejakkan kaki di Amerika Serikat
berhasil menjejakkan kaki di Amerika Serikat

Pun waktu mengerjakan skripsi, ia tetap harus memantau Rumah Ori bersama ibu dan ayahnya agar bisnisnya itu tetap berjalan baik. Dalam kondisi ini beberapa teman mau untuk membantu Ori untuk sekedar mengantarkan catering atau menjamu pelangan di rumah kontrakan tersebut. “Selain keluarga teman-teman juga lah yang berjasa banyak dengan support moril dan tenaga mereka. Terkadang mereka bersedia meminjamkan kendaraannya untuk mengantar catering,  saya merasa mereka sangat berarti untuk hidup dan bisnis saya", ungkapnya

Setelah berjuang beberapa bulan skripsi sembari mengurus bisnisnya, ia pun akhirnya mampu memasang Toga kebanggan dikepalanya, disaksikan oleh keluarganya dan teman-teman. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Perjuangan Imam Bukhori ini menunjukkan pada kita bahwa seberat apapun cobaan yang menimpa kita, kita tetap harus menuntaskan apa yang telah kita mulai. Terbukti dari ketika ia tertimpa masalah yang membuatnya hampir putus asa untuk berkuliah karena faktor ekonomi, namun hal itu menjadikannya sukses seperti sekarang.

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga