Sekitar satu bulan ke depan, dari tanggal tulisan ini dipublikasi, Indonesia akan genap berusia 27 tahun kurangnya dari seabad. Hal menarik dalam usianya yang ke-100 nanti, orang nomor satu di Indonesia menyatakan bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi yang terbesar keempat di dunia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bukan tanpa alasan mengungkap hal tersebut.

Pada 2017, Jokowi menyampaikan hitung-hitungan dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution [1].

Dalam 28 tahun mendatang, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 309 juta jiwa. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5-6 persen per tahun, pendapatan penduduk akan mencapai US$ 29 ribu per kapita. Sehingga, pada 2045, Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa mencapai US$ 9,1 triliun.

Proyeksi positif tersebut tentunya merupakan kabar gembira untuk Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dengan menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar berarti sudah tercapai pula pemerataannya? Belum bisa terjawab.

Bahkan pemerintah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), turut mempersoalkan ketimpangan pendapatan penduduk. Menurutnya hal tersebut masih menjadi masalah bersama yang harus diselesaikan seluruh pemangku kepentingan [2].

Dari pihaknya sendiri, Kominfo menyediakan dua terobosan, salah satunya adalah melalui optimasi ekonomi digital di Indonesia.

Optimasi Ekonomi Digital Untuk Pemerataan Ekonomi Indonesia

Ekonomi digital sendiri nyatanya memang berdampak baik terhadap perekonomian Indonesia. Menurut laporan “Berita Resmi Statistik” dari Badan Pusat Statistika (BPS) yang dikeluarkan pada 7 Mei 2018, bisnis digital ini memberi pertumbuhan ekonomi yang positif.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Foto: Laporan BPS "Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal I-2018

Dari data tersebut, terlihat bahwa ekonomi Indonesia triwulan I-2018 dibanding dengan triwulan I-2017 (y-on-y) tumbuh 5,06 persen. Dan pertumbuhan tertinggi dicapai dari lapangan usaha Informasi dan Komunikasi, yaitu sebesar 8,69 persen. Lapangan usaha informasi dan komunikasi tentunya tidak lepas dari adanya e-commerce di Indonesia.

E-commerce sendiri juga sudah cukup menjamur di Indonesia. Bahkan beberapa penyedia platform tersebut menyandang gelar startup Unicorn. Di antaranya adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Keempat startup ini juga membuat Indonesia menjadi salah satu primadona di kawasan Asia Tenggara.

Infografis: Tirto.id
Infografis: Tirto.id

Perkembangan e-commerce yang pesat di Indonesia ini ternyata tak lepas dari perilaku pengguna internet di Indonesia yang dapat dilihat melalui survei oleh Lembaga Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016 lalu.

Hasil survei tersebut menyatakan bahwa sebesar 62% (82,2 juta pengguna) mengunjungi konten komersial belanja online. Hal ini membuktikan bahwa selain memenuhi kebutuhan masyarakat, e-commerce juga meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pelaku pengguna internet berdasarkan survei
Pelaku pengguna internet berdasarkan survei APJII 2016

Perilaku penggunaan internet dalam konten komersial beserta dampak yang bisa dilihat dari perkembangan ekonomi Indonesia terkini tentunya sangat mendukung pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika, yaitu dengan pemanfaatan bisnis melalui digital, pemerataan ekonomi bisa dicapai.

E-Commerce dapat Menghapus Rantai Distribusi yang Panjang

Meskipun terlihat menjanjikan, ternyata dalam eksekusinya tidak begitu mudah. Banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk mendapat manfaat e-commerce dalam menunjang pemerataan ekonomi Indonesia. Salah satunya dengan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Namun tidak hanya UMKM yang menjadi fokus sasaran pemanfaatan e-commerce, sektor ekonomi lokal lainnya juga perlu dirangkul untuk ikut bermain aktif dalam perdagangan berbasis elektronik ini. Sektor tersebut di antaranya adalah pertanian, perkebunan, perikanan, atau sektor ekonomi lokal lainnya.

Kominfo juga menargetkan 1 juta nelayan dan petani untuk Go Online 2019 | Foto: 8villages.com
Kominfo juga menargetkan 1 juta nelayan dan petani untuk Go Online 2019 | Foto: 8villages.com

Tentu akan sangat menguntungkan bila bisnis digital ini bisa tersentuh oleh mereka. Hal ini dikarenakan dengan aktifnya petani dan nelayan dalam e-commerce, konsumen akan semakin mudah menjangkau produsennya secara langsung tanpa harus melalui mata rantai distribusi yang panjang.

Hal ini juga berdampak bagi kedua pihak, yaitu harga yang baik dan sehat untuk konsumen maupun produsen sendiri. Dengan begini, pelaku usaha lokal bisa memperluas usahanya sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraannya.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya dapat merangkul pelaku usaha lokal tersebut?

Internet Menyentuh Pelosok Indonesia

Bukan fakta yang baru bila hingga kini internet sendiri belum merata di seluruh daerah di Indonesia. Hal ini tentunya menghambat pemanfaatan e-commerce bagi pelaku usaha lokal di pelosok atau pedesaan.

Pemerintah sendiri pun tidak menutup mata terhadap tantangan ketersediaan infrastruktur internet hingga ke pelosok yang masih terbatas. Akan tetapi, usaha-usaha penyediaan infrastruktur internet sudah dilakukan.

Salah satunya dari PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel) yang merupakan anak perusahaan Telkom Indonesia. Perusahaan operator ini memiliki komitmen untuk membangun Indonesia, terutama dalam bidang telekomunikasi.

Dalam komitmennya, Telkomsel menggelar jaringan dari Sabang sampai Merauke melalui Proyek Merah Putih (Menembus Daerah Perdesaan, Industri Terpencil, dan Bahari). Dalam proyeknya ini, perusahaan telah membangun 551 unit base transceiver station (BTS) di 568 desa tanpa sinyal di Tanah Air [3].

BTS 4G Telkomsel di Dessa Tolo'oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, NTB | Foto: www.telkomsel.com
BTS 4G Telkomsel di Dessa Tolo'oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, NTB | Foto: www.telkomsel.com

Selain Telkomsel, pemerintahan Indonesia juga melaksanakan pembangunan infrastruktur melalui Proyek Palapa Ring Untuk Internet Lebih Cepat. Proyek ini nantinya akan menjadi tulang punggung internet pita lebar bagi 33 provinsi dan 460 Kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk paket tengah, meliputi 17 kota dan kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara, Menkominfo memastikan dapat selesai September 2018.

Menurutnya, jika paket tengah rampung, semua kabupaten di Indonesia akan terhubung dengan jaringan tulang punggung serat optik. Dengan demikian, layanan yang ada di Jawa dan daerah lain tidak memiliki gap yang besar [4].

Infografis proyek Palapa Ring Kominfo | Foto: kominfo.go.id
Infografis proyek Palapa Ring Kominfo | Foto: kominfo.go.id

Ternyata tidak hanya usaha dalam negeri, raksasa internet Google juga turut memberi sumbangsih terkait akses internet di Indonesia. Melalui kerja sama dengan perusahaan lokal, CBN dan FiberStar, Google membangun Google Station di Indoensia.

Google Station ini merupakan area akses WiFi gratis untuk publik buatan Google. Rencananya akan disediakan hingga 400 titik WiFi gratis dari Google untuk Indonesia [5].

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Google Station sudah di Indonesia dan India | Foto: Tekno Jurnal

Melihat upaya-upaya tersebut, bukan suatu yang mustahil bila internet secara perlahan akan menyentuh penduduk Indonesia hingga ke pedesaan serta pelosok lainnya. Tentunya ini menjadi harapan positif akan partisipasi aktif dari pelaku usaha lokal untuk menggunakan e-commerce dalam menunjang bisnisnya.

Dengan begitu, pemerataan ekonomi saat 100 tahun Indonesia, yang diproyeksikan menjadi negara memiliki kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia, akan berangsur-angsur terbentuk.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu