Teh Indonesia dan Serba-Serbinya

Teh Indonesia dan Serba-Serbinya

Ilustrasi poci teh © Kowit Phothisan/Unsplash

  • Di acara "Icip Bareng Teh Indonesia", diperkenalkan teh di negeri ini beserta serba-serbinya.
  • Acara ini diadakan oleh Komunitas Belanga Indonesia di Conextea, Bogor.
  • Dijelaskan pula bagaimana cara terbaik menyeduh teh dan kapan waktu terbaik menyantapnya.

Komunitas Belanga Indonesia bekerja sama dengan Sila Tea House dalam acara “Icip Bareng Teh Indonesia” di Conextea, Bogor, Sabtu (4/5) menampilkan lima varian teh asli Indonesia. Kelima teh tersebut juga disandingkan dengan tujuh kuliner khas Bogor.

Dalam acara tersebut, mochi yang tidak terlalu manis dipadukan dengan white tea, sedangkan dodongkal yang terbuat dari tepung beras, kelapa, dan gula aren dinikmati bersama black tea dan red tea.

Kemudian laksa Bogor disandingkan dengan green tea. Lapis talas Bogor cocok berteman dengan white tea. Nasi kebuli dengan daging kambing berpasangan dengan black tea, sedangkan papais disajikan bersama yellow tea

Lasagna gulung berisi daging dijodohkan dengan red tea, yellow tea, dan levare black tea. Tinggal dipilih sesuai selera yang mencicipi, asal paham rumusnya.

BACA JUGA: Inilah Perkebunan Teh Tertinggi di Asia Tenggara

Secara umum, white tea cocok untuk menemapi kudapan ringan yang tidak terlalu manis, sedangkan green tea sempurna berteman makanan berlemak dan seafood.

Bagi yang suka pedas, tutup acara makan dengan minum black tea. Adapun red tea dan yellow tea, juga dikenal sebagai ‘teh oolong’-nya Indonesia juga cocok untuk makanan berlemak.

“Ini salah satu cara untuk mengapresiasi teh Indonesia yang kaya dan berkualitas tinggi,” ujar Redha Ardias, Tea Mixologist yang juga Co-Founder Sila Tea House, dalam rilis pers yang diterima GNFI.

Kuliner khas Bogor yang disandingkan dengan teh | Foto: Belanga Indonesia

Menurutnya, orang Indonesia merupakan peminum teh yang bisa mengonsumsi teh kapan saja, namun belum memiliki kultur minum teh yang bisa menjadi ciri khas. Padahal teh Indonesia punya kualitas kelas dunia.

"Teh terbaik itu ada di pucuk yakni daun teh pertama, kedua dan ketiga. Kemudian, kami mengolahnya menjadi green tea, white tea, yellow tea, red tea, dan black tea," tambah Redha.

BACA JUGA: Mencicipi Teh Termahal di Indonesia. Harganya Rp. 2 Juta per Kilogram Daun Tehnya

Redha melanjutkan, ada kategorisasi bagaimana sebuah teh bisa disebut sebagai specialty tea atau teh kualitas terbaik, yaitu tanaman teh pilihan, teh masih berbentuk daun, single origin, dan diproses dengan higienis.

Ia lantas mencontohkan kultur teh di Tiongkok. Dalam acara-acara penting, teh kerap dihadirkan. Salah satunya yakni tradisi Tea Pai dalam rangkaian pernikahan adat Tiongkok. Demikian juga dengan budaya nge-teh di Jepang.

“Di Jepang, kalau tuan rumah tidak menyuguhkan teh untuk tamu, artinya dia enggak respect terhadap tamu tersebut,” kata Redha.

Produk olahan teh dan kuliner yang disajikan | Foto: Belanga Indonesia

Adapun kultur minum teh poci yang familiar di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa, masih menambahkan gula batu untuk penambah nikmat rasa.

“Karena memang sejak dulu teh terbaik dari Indonesia selalu dikirim ke luar negeri. Jadi masyarakat kita enggak tahu nikmatnya teh berkualitas tinggi,” ujar Iriana Ekasari, Founder Sila Tea House yang juga anggota Dewan Teh Indonesia.

BACA JUGA: Kupas Tuntas Keindahan Kebun Teh Wonosari Lawang

Teh kualitas premium yang dinikmati tanpa gula menawarkan rasa dan manfaat kesehatan yang luar biasa. Misalnya White Peony, salah satu produk Sila Tea House yang diambil dari pucuk teratas tanaman teh.

“Kandungan antioksidannya 12 kali lebih banyak dari jenis teh lainnya,” jelas Iriana.

Ia juga menunjukkan cara konsumsi yang baik. Sebanyak satu sendok makan teh (sekitar 3 gram teh) diseduh selama 4 menit dalam 300 ml air panas. Saring, lalu simpan teh dalam keadaan kering, karena masih bisa diseduh dua kali lagi.

“Seduh lagi dengan 200 ml air, lalu seduh kembali dengan 150 ml air,” jelasnya.

Redha Ardias menjelaskan tentang Sila Tea House | Foto: Belanga Indonesia

Iriana menambahkan, menikmati teh dengan cara yang tepat dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap teh lokal. Ini akan berimbas panjang. Sebab, teh punya tiga fungsi utama yaitu untuk ekonomi, ekologi, dan sosial.

Dalam hal ekonomi, apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh akan meningkatkan kesejahteraan petani lokal sekaligus memberdayakan UKM. Teh juga memiliki fungsi ekologi karena bermanfaat bagi lingkungan. Dari sisi sosial, teh adalah sarana silaturahmi.

“Edukasi teh lewat acara icip bareng kuliner seperti ini menambah wawasan dengan cara yang menyenangkan,” ujar Alfredo Sihombing, pegawai swasta yang sengaja datang dari Jakarta.

Komentar serupa juga dilontarkan Anggrita Cahyaningtyas, pekerja NGO di bidang lingkungan. Menurutnya, pengenalan specialty tea Indonesia telah membuka kesadaran baru tentang teh lokal.**

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Hotel di Bali Masuk Jajaran ‘Wild Holiday’ Asia Sebelummnya

Hotel di Bali Masuk Jajaran ‘Wild Holiday’ Asia

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.