Nangkadak, Buah Gabungan Nangka dan Cempedak

Nangkadak, Buah Gabungan Nangka dan Cempedak

Buah nangkadak © Epicurious

Buah cempedak, sering kali disamakan dengan buah nangka. Sejatinya, buah ini merupakan buah asli Indonesia yang banyak ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Buah ini sudah menyebar di wilayah Asia Tenggara, seperti Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Myanmar.

Bentuknya yang lonjong menyerupai buah nangka, membuat masyarakat Jawa menjulukinya dengan nongko cino. Memang asing terdengar, karena buah ini mulai susah ditemukan. Masyarakat saat ini lebih memilih penggunaan nangka ketimbang membeli cempedak. Selain harganya yang terjangkau, buah nangka juga mudah ditemukan.

Dilansir dari Fimela.com, nangka dan cempedak mempunyai tekstur kulit dan buah yang mirip. Terlihat perbedaan mencolok dari kedua buah ini dari segi ukuran. Nangka cenderung lebih besar dan berisi, sedangkan cempedak umumnya berukuran lebih kecil.

Sumber: VideoBlocks

Saat kedua buah ini dibuka, daging dari buah cempedak akan nampak lebih kecil dan tekstur dagingnya lebih lembek, namun sangat mudah dikeluarkan dari porosnya. Lain halnya dengan nangka, buah yang mempunyai nama lain Artocarpus heterophyllus ini mempunyai tekstur padat besar pada dagingnya, sehingga sedikit sulit saat dikeluarkan dari porosnya.

Perbedaan yang paling mecolok yakni aromanya. Buah nangka mempunyai aroma yang terkesan manis dan lembut saat dibuka, sedangkan buah cempedak mempunyai aroma yang menyengat dan cenderung berbau seperti durian.

Saat sudah matang di pohon, buah dari tanaman cempedak akan berubah warna menjadi kekuningan. Beda dengan buah nangka yang warna kulitnya tetap berwarna kehijauan, jadi sulit untuk dideteksi kematangannya.

Secara jenis olahan, buah cempedak bisa diolah menjadi macam-macam makanan dari dagingnya hingga kulitnya. Di Kalimantan contohnya, kulit buah cempedak ini bisa diolah dan difermentasikan yang disebut mandai.

Mandai ini sangat populer untuk dijadikan hidangan sehari-hari, mulai dari ditumis, digoreng, hingga dimakan langsung, lho. Daging cempedak populer menjadi olahan goreng tepung layaknya pisang goreng.

Sebaliknya buah nangka, hanya daging buahnya yang bisa diolah dan dimakan. Daging nangka yang sudah matang mempunyai rasa yang manis dan cocok sebagai pencuci mulut, atau menjadi topping dari kuliner tradisional, seperti Serabi Solo dan Es Doger.

Tak hanya yang matang, buah nangka yang masih muda juga bisa diolah menjadi lauk yang lezat, seperti gudeg dan sayur lontong.

Lalu, apa jadinya ya kalau kedua buah ini digabungkan? Baru-baru ini, para petani dari Kota Banjarmasin berinovasi membuat persilangan dari buah tropis ini. Nangkadak, begitu mereka menamakannya. Rasanya memang tak jauh beda dari kedua induknya, namun para petani ini menjamin inovasi buah baru ini bisa dipanen sepanjang tahun.

Daging buah nagkadak | Sumber: SamudraBibit

Nangkadak ini baru bisa berbuah dan dipanen setelah berumur 2-3 tahun setelah ditanam. Berbeda dengan induknya, pohon dari nangkadak ini rata-rata mempunyai tinggi sekitar 3 meter, namun mampu menghasilkan 2-3 kg perbuahnya. Buah ini mempunyai keunggulan sendiri, yakni dagingnya yang lebih tebal dan biji yang kecil.

Saat matang, buah nangkadak mempunyai aroma yang tidak menyengat. Lain halnya dengan induknya. Inovasi ini mampu menjawab keluhan masyarakat tentang getah buah yang mempersulit proses pengolahan. Buah nangkadak mempunyai sedikit getah dan berwarna kuning menyala. Tak terpengaruh cuaca, buah asli Banjarmasin ini akan tetap manis sepanjang tahun, walaupun di musim penghujan.

Saat ini, Koperasi Tani dan Nelayan Sejahtera Kota Banjarmasin sedang menggencarkan promosi nangkadak di pasaran. Dengan harga Rp 20.000 per kilonya, dirasa sepadan dengan kualitas yang didapatkan dari buah ini. Koperasi ini juga menjual bibit nangkadak yang berkisar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 saja.

Bagaimana? Apa Kawan GNFI tertarik mencoba buah nangkadak ini?


Catatan kaki: kumparan.com | fimela.com

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi80%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Naik Suroboyo Bus Bayar Pakai Sampah Plastik. Hal Baik atau Sekadar Gimmick? Sebelummnya

Naik Suroboyo Bus Bayar Pakai Sampah Plastik. Hal Baik atau Sekadar Gimmick?

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia Selanjutnya

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.