Tak Hanya Bajakah, Inilah Tanaman Obat Andalan Suku Dayak

Tak Hanya Bajakah, Inilah Tanaman Obat Andalan Suku Dayak
info gambar utama

Belakangan ini Indonesia ramai membincangkan pohon bajakah yang menjadi inovasi obat kanker payudara. Hasil penelitian dari dua siswa SMAN 2 Palangka Raya ini menang dalam lomba World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan bulan Juli lalu.

Pohon bajakah, tepatnya pada bagian batang dari tanaman asal pedalaman hutan Kalimantan ini yang menjadi obat untuk menyembuhkan kanker. Penemuan ini diawali dari cerita pribadi Yazid, bahwa keluarganya sembuh dari kanker dengan meminum bajakah.

Dua siswa SMAN 2 Palangka Raya yang menemukan inovasi bajakah untuk kanker | Sumber: Detik Health
info gambar

Namun ternyata penggunaan tanaman sebagai obat berbagai jenis penyakit sudah dilakukan suku Dayak jauh sebelum penemuan khasiat pohon bajakah ini. Bahkan menurut riset, suku Dayak tercatat memanfaatkan 47 jenis tumbuhan dengan kegunaan yang berbeda-beda pula.

Ini disebabkan oleh pendirian suku Dayak di Kalimantan Timur yang mempertahankan tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tetap memanfaatkan tumbuhan sebagai obat maupun untuk menjaga kesehatan. Berikut beberapa tanaman andalan suku Dayak:

Rumput Bulu

Suku Dayak menggunakan bagian akar dan daunnya untuk mengobati sakit perut. Tanaman Ageratum conyzoides ini diremas-remas dan diseduh. Setelah itu dibalurkan di sekitar pusar untuk mengurangi rasa sakit. Beberapa manfaat lain dari tanaman ini adalah mengobati demam, sakit tenggorokan, hingga diare.

Rumput Bulu | Sumber: Wikipedia
info gambar

Tumbuhan ini juga digunakan oleh masyarakat Sunda untuk menyembuhkan luka dan bisul. Seluruh bagian tanaman ditumbuk dan dicampur dengan kapur sirih. Kandungan utama yang ada dalam tanaman ini adalah asam amino yang baik untuk tubuh.

Halalang

Tanaman ini digunakan oleh suku Dayak untuk mengobati pendarahan dan sakit gigi. Bagian tanaman yang digunakan adalah akar. Ini disebabkan karena kandungan asam kersik dan logam alkali di dalamnya. Nama ilmiah tanaman ini adalah Imperata cylindrica.

Halalang | Sumber: Wikimedia
info gambar

Hasil penelitian di Jepang juga menunjukkan bahwa masing-masing tumbuhan ini bisa digunakan sebagai obat berkat kandungannya yang kaya dan dapat menjaga kesehatan tubuh.

Bopot

Akar dan daun tanaman Jasminum pubescens ini diyakini suku Dayak dapat menyembuhkan muntaber. Tanaman asli Indonesia ini memiliki banyak khasiat dengan sebutan yang berbeda-beda pula. Sering dikenal dengan sebutan gambir hutan dan masih satu keluarga dengan melati.

Star Jasmine atau Bopot | Sumber: Richard Lyon
info gambar

Jika tanaman ini diramu dengan daun sembung, daun meniran, dan temulawak maka dapat dikonsumsi untuk obat sakit kuning. Tidak heran tanaman ini juga terkenal di Jawa dengan sebutan Poncosuda dan di Sunda dengan sebutan Malati Areuy.

Sengkepok

Physialis minima | Sumber: tropical the ferns
info gambar

Tanaman ini tumbuh liar di kebun atau tanah yang lembap. Masyarakat suku Dayak menggunakan akarnya untuk mengobati penyakit cacar. Bahkan seluruh bagian Physalis minima ini dapat digunakan untuk obat gusi berdarah, bisul, dan mulas. Kandungan flavonoid dan polifenol di tumbuhan ini berkhasiat untuk antioksidan.

Beluntas

Suku Dayak merebus daun beluntas dan meminum airnya sebagai obat keputihan. Dengan nama ilmiah Pluchea indica, tanaman ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara dan Cina Selatan.

Beluntas | Sumber: Flickr
info gambar

Bahkan semua bagian dari tumbuhan ini dapat dimanfaatkan, baik segar maupun setelah dikeringkan. Khasiat lain yang bisa didapatkan dari tumbuhan ini adalah mengobati kencing darah dan gangguan pencernaan.

Ini membuktikan bahwa suku Dayak di dalam hutan Kalimantan Timur selain melestarikan tradisi, juga berkontribusi untuk perkembangan obat-obatan herbal di Indonesia.


Catatan kaki: CNN Indonesia | Media Neliti

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NG
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini