Pak Tatang : Tunanetra yang Berhasil Bangun SLB

Pak Tatang : Tunanetra yang Berhasil Bangun SLB

Sosok Pak Tatang, Tunaetra berusia 50 tahun yang berhasil membangun SLB ABCD Caringin | foto: kitabisa.com

Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin merupakan sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Lara Adam Mulya yang didirikan oleh Tatang yang juga merupakan seorang tunanetra. Sekolah yang diperuntukkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus tersebut berlokasi di Gang Farqih, RT 2/9, Kelurahan Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat.

Nama ABCD sendiri adalah penjelasan terkait jenis Sekolah yang dibangun Tatang. Sekolah tersebut ditujukannya bagi mereka yang terbagi dalam; A untuk murid tunanetra, B untuk murid tunarungu, C murid dengan kemampuan intelejensi dibawah rata-rata atau biasa disebut dengan tunagrahita dan D untuk murid tunadaksa.

Saat awal didirikan pada 2003 sekolah tersebut hanya memiliki lima siswa namun seiring berjalannya waktu kini sudah ada 40 orang yang terbagi dalam beberapa tingkatan mulai SD, SMP dan SMA. Saat ini sekolah tersebut juga telah diisi dengan 13 tenaga pengajar yang terdiri dari lima PNS dan delapan guru honorer termasuk Tatang.

Perjuangan Tatang membangun SLB ABCD Caringin

Beridirinya sekolah SLB ABCD Caringin didorong oleh keprihatinan Tatang akan lingkungan sekitarnya. Setelah lulus dari perguruan tinggi ia kembali ke Caringin dan mendapati belum adanya sekolah bagi penyandang disabilitas. Kondisi tersebut akhirnya memacunya untuk melakukan perubahan secara nyata.

Dengan dukugan dari kakaknya berbagai upaya dilakukan Tatang untuk merealisasikan mimpinya. Hal tersebut dimulai dengan menyulap rumahnya menjadi gedung sekolah. Selanjutnya ia juga melakukan sosialisasi ke warga sekitar khususnya bagi keluarga dengan anak berkubutuhan khusus terkait pentingnya pendidikan dan sekolah yang ia bangun.

Salah satu ruang kelas SLB Caringin yang berawal dari tempat tinggal Pak Tatang | foto: kitabisa.com

Dari berbagai usahanya banyak kendala yang ia alami dari penolakan warga sekitar akan keberadaan sekolah tersebut hingga penolakan dari orangtua yang belum mengerti bahwa anak berkebutuhan khusus juga perlu pendidikan.

Tak hanya itu masalah finansial juga dialami Tatang dalam mengelola sekolah yang ia dirikan. Diakuinya 70% muridnya berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga dana pendidikn tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh orangtua murid.

Untuk mengoperasikan sekolah Tatang pun mengandalkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), patungan dari para orangtua siswa dan kantung pribadinya.

Murid-murid SLB ABCD Caringin pada jam sekolah | foto: @kitabisacom/ twitter.com

Pada kompas.id Tatang megutarakan harapannya agar sekolahnya dapat memiliki lahan yang lebih luas dan layak dengan ruangan-ruangan kondusif agar siswanya bisa belajar dengan lebih baik lagi.

Sebelumnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi

Tatang terlahir di keluarga yang tak asing dengan gangguan pengelihatan, dari tujuh bersaudara ada empat orang yang merupakan seorang tunanetra, termasuk dirinya. Ia sendiri telah kehilangan pengelihatannya secara total sejak kelas 2 SMP. Sejak lahir ia sudah mengalami gangguan pada matanya sehingga akhirnya melakukan operasi saat remaja atas usulan dari dokter. Operasi yang tidak berjalan lancar tersebut ternyata mengalami kegagalan dan justru menyebabkan kebutaan total.

Untuk bangkit dari masa terpuruknya Tatang membutuhkan waktu satu tahun. Beruntung ia mendapat motivasi dari gurunya untuk tetap mengejar pendidikan dan terus berusaha untuk menghasilkan prestasi. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke SLB hingga tingkat SMA di Pajajaran.

Walaupun hingga kini belum ada peraturan kementrian ristek dan pendidikan tinggi RI terkait kuota bagi penyandang disabilitas dan failitas penunjangnya juga terbatas, setelah lulus SMA Tatang lulus dalam seleksi UNMPTN dan berhasil masuk ke Universitas Pajajaran (Unpad), Bandung. Di perguruan tinggi dirinya mempelajari Jurusan Antropologi yang dibawahi Fakultas Sosial dan Politik.

Dengan tema skripsinya yang mengambil tema dongeng rakyat, pada 1998 Tatang berhasil lulus dengan nilai A. Diakuinya pada kompas.id hal tersebut merupakan salah satu pencapaian terbesar yang berhasil diraih dalam hidupnya. Semangat dan kebanggan tersebut coba ditularkan Tatang dengan dedikasinya pada dunia pendidikan khususnya bagi penyandang disabilitas.

sumber : kompas.id | tribunnews.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Menuju Ranking 4 Ekonomi Dunia Sebelummnya

Indonesia Menuju Ranking 4 Ekonomi Dunia

Ketika Kain Tenun Mengangkasa Bersama Srikandi Bangsa Selanjutnya

Ketika Kain Tenun Mengangkasa Bersama Srikandi Bangsa

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.