Pengguna Instagram di Indonesia Didominasi Wanita dan Generasi Milenial

Pengguna Instagram di Indonesia Didominasi Wanita dan Generasi Milenial
info gambar utama

Kawan GNFI, tak bisa dimungkiri jika salah satu platform yang paling sering digunakan saat ini adalah Instagram (IG). Keunikan platform ini adalah dapat digunakan untuk kepentingan pribadi, korporasi, maupun sebagai media iklan (adsense) merek dagang tertentu.

Lain itu, Instagram juga digunakan sebagai penyebar dan sumber informasi untuk kalangan tertentu. Tak heran pemasangan iklan di platform ini baik menggunakan adsense maupun menyewa jasa pendengung (influencer) kian marak.

Tapi, tahukah kawan bahwa pengguna platform Instagram di Indonesia didominasi wanita dengan segala bentuk alasannya dan kalangan milenial dengan segala macam aksinya.

Sebelum kita masuk ke bagian itu, mari kita telusuri dulu bagaimana penggunaan Instagram di Indonesia secara umum pada periode Januari hingga Mei 2020.

Berikut penjabarannya.

Pengguna Instagram di Indonesia terus meroket

Menurut data yang dirilis Napoleon Cat, pada periode Januari-Mei 2020, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 69,2 juta (69.270.000) pengguna. Pencapaian itu merupakan peningkatan dari bulan ke bulan atas penggunaan platform berbagi foto ini.

Pada Januari tercatat sekitar 62,23 juta pengguna, lalu naik pada Februari menjadi 62,47 juta pengguna. Kemudian di bulan berikutnya (Maret) penggunanya semakin membeludak dan mencapai 64 juta pengguna.

Selang sebulan kemudian diperoleh data pengguna yang mencapai 65,7 juta, hingga ditutup pada Mei dengan catatan 69,2 juta pengguna.

pengguna instagram indonesia

Meroketnya penggunaan platform tersebut juga tak lepas dari kebijakan work from home (WFH) yang dilakukan perusahaan kepada karyawannya di tengah pandemi Covid-19.

Pendek kata, karyawan dapat lebih bebas bekerja di rumah sambil aktif berinteraksi melalui Instagram sepanjang waktu. Berbeda tentunya ketika mereka berkerja di ruangan kantor yang boleh jadi terbatas untuk mengakses platform tersebut.

Dalam situasi pandemi ini, Instagram juga mengambil momentum dengan meluncurkan fitur baru yang mereka beri nama Co-Watching pada Maret 2020 lalu.

Fitur ini yang merupakan layanan video chatting yang dapat digunakan oleh enam pengguna sekaligus. Ini tentunya mendukung interaksi antar pengguna yang membutuhkan diskusi atau obrolan antar-pemilik akun.

Milenial dominasi pengguna Instagram di Indonesia

Tak juga dimungkiri juga para pengguna Instagram di Indonesia didominasi oleh golongan usia produktif, yakni pada rentang 18-34 tahun, atau lazim disebut generasi milenial.

Tengok saja pada tabel di bawah, bahwa pengguna dari golongan generasi tersebut mendominasi hingga 25 juta pengguna atau mendominasi 36-38 persen (usia 18-24). Sementara untuk rentang usia 25-34, mendominasi dengan 21 juta pengguna (31-33 persen).

Wajar saja tentunya karena pada rentang usia tersebut, secara kemampuan generasi ini ramah dengan dunia digital dan mahir mengekplorasi gawai/gadget.

Lain itu, selain mereka produktif dan haus akan hal baru, secara emosional mereka juga merupakan generasi yang aktif dalam berinteraksi antara satu sama lain.

jumlah pengguna instagram Indonesia

Seperti dipapar Liputan6, generasi milenial adalah generasi yang lahir saat teknologi di dunia sedang berkembang pesat.

Hadirnya beragam perangkat seperti komputer, video games, serta gawai/gadget yang tersambung dengan kecanggihan internet membuat generasi ini mudah mendapatkan informasi secara cepat.

Hal lainnya, kebanyakan generasi ini juga menyenyam pendidikan yang lebih tinggi ketimbang generasi sebelumnya, sehingga generasi ini boleh dibilang penuh ide-ide visioner, inovatif, untuk melahirkan pengetahuan dan penguasaan ilmu pengetahuan berbasis teknologi (IPTEK).

Para psikolog menilai, generasi ini cenderung ambisius dalam bekerja. Di samping kerja kantoran, sebagian juga membuka bisnis sendiri untuk menuju kesuksesan. Mereka memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneur) yang tinggi.

Dengan dukungan tren gaya hidup yang terus berkembang, generasi ini cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung berhenti dari pekerjaan tersebut.

Generasi ini jugal tercatat sebagai generasi yang paling konsumtif ketimbang generasi lainnya.

Wanita dominasi pengguna Instagram di Indonesia

Sementara jika dikategorikan jumlah pengguna Instagram di Indonesia, maka tak bisa dimungkiri jika Kaum Hawa yang paling mendominasi. Dominasinya bisa mencapai selisih 1-2 persen ketimbang pria.

jumlah pengguna instagram Indonesia

Grafik di atas menggambarkan pengguna wanita terus mendominasi sepanjang Januari hingga Mei 2020. Sementara dari sisi kategori usia, wanita juga mendominasi penggunaan Instagram di Indonesia.

Meski begitu ada catatan lain, bahwa pada rentang usia 25-34, pengguna wanita masih kalah banyak ketimbang pria dengan selisih yang sangat tipis.

jumlah pengguna instagram Indonesia

Ada studi yang membuka tabir soal alasan mengapa platform Instagram menjadi salah satu aplikasi favorit Kaum Hawa.

Salah satu sebabnya adalah platform ini mampu mengakomodir para wanita untuk menyuarakan hati mereka serta menjadi media untuk mengungkap sisi emosional mereka.

Setidaknya ada tujuh alasan lain mengapa platform ini begitu akrab dengan para wanita. Hal-hal tersebut adalah:

  • Ruang obrolan. Pada dasarnya wanita memang suka bergosip membicarakan beberapa hal mulai dari yang kecil hingga besar.
  • Suka stalking. Instagram juga dijadikan tempat wanita untuk memantau (stalking) atas beberapa hal yang membuat mereka penasaran. Misalnya, jika mereka tertarik dengan lawan jenis, langsung mereka akan memantau Instagram si objek.
  • Mereka peduli. Meski terlihat lemah, nyatanya wanita merupakan mahluk yang peduli antar-sesama. Mereka tak sungkan untuk menggalang suatu kebaikan untuk tujuan tertentu melalui platform ini.
  • Mereka narsis. Tak dimungkiri jika mereka suka mengeksplorasi diri melalui swafoto, dan kemudian mengunggahnya ke Instagram.
  • Butuh perhatian. Sebagai bagian dari sisi emosional, wanita tentu membutuhkan perhatian, dan semuanya mereka tumpahkan di media sosial.
  • Suka belanja. Tak usah dijelaskan kawan, soal yang satu ini tentu tak ada yang membantahnya.
  • Bekerja sebagai pengelola akun media sosial. Hal terakhir yang menjadi alasan platform ini digandrungi para wanita adalah soal pekerjaan wanita yang tak jauh-jauh dari media sosial. Lihat saja di era sekarang, admin pengelola media sosial--termasuk Instagram--sebuah perusahaan, umumnya dikerjakan oleh wanita.

Dalam catatan lain, tak sedikit pula Kaum Hawa yang memiliki dua akun Instagram untuk mengeksplorasi jati diri mereka dalam ruang lingkup sosial.

Kemudian ada temuam menarik yang diungkap Hansal Savla, Senior Director TNS Indonesia, sebuah perusahaan market research, beberapa tahun lalu.

Ia menjelaskan pihaknya menemukan fakta dari hasil survei yang mereka lakukan, bahwa sekitar 63 persen wanita cenderung aktif menggunakan Instagram setiap harinya. Hal itu kontras dengan jumlah pria yang rutin mengggunakan platform tersebut sebanyak 37 persen.

Lain itu, sambung Savla, juga ditemukan data bahwa mayoritas pengguna Instagram merupakan pengguna yang ‘well educated’. Artinya, mereka pintar dan berasal dari kalangan lulusan perguruan tinggi.

''Dari riset kami, 69 persen pengguna berasal dari lulusan perguruan tinggi. Bahkan, mayoritas pengguna Instagram bisa kami nilai lebih ‘pintar’ 11 kali lipat daripada pengguna smartphoneIndonesia pada umumnya,'' jelas Savla dalam Liputan6.

Soal Aktivitas media sosial, apa kata psikolog?

Jika membicarakan media sosial, tentunya tak lepas dari dampak psikologis yang ditimbulkannya.

Dalam artikel yang dimuat Kompas.com pada 2013, perilaku narsisme di media sosial berlaku universal dan dilakukan oleh semua kalangan, baik dari kasta terendah maupun tertinggi, baik ia jelata maupun penguasa.

Ada survei dari Pew Internet & American Life Project yang menyebut 54 persen pengguna internet memiliki kebiasaan mengunggah swafoto (selfie) mereka di media sosial.

Sementara menurut psikolog dan direktur Media Psychology Research Center, Dr Pamela Rutledge, bahwa keinginan memotret, mem-posting, dan mendapatkan "likes" dari media sosial merupakan hal lazim bagi setiap orang.

''Keinginan ini dipengaruhi rasa kita pada hubungan sosial. Hal ini sebetulnya sama dengan saat orang mengatakan betapa bagus baju yang kita kenakan. Secara biologis, pengakuan sosial merupakan kebutuhan, bahkan ada area pada otak yang dikhususkan untuk aktivitas sosial,'' demikian katanya.

Di Indonesia, sebuah penelitian menunjukkan bahwa perempuan Indonesia enggan mengakui dirinya cantik. Meski banyak perempuan yang juga merasa puas dengan penampilan fisik dan wajahnya.

Akan tetapi jika di dalami, banyak sekali perempuan yang mengunggah foto dirinya ke media sosial dengan berbagai pose. Bukankah ini bagian dari menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya mempunyai sisi cantik tersendiri?

Menurut psikolog, Efnie Indrianie, perempuan yang mengunggah foto dirinya bukan merupakan bentuk ekspresi menampilkan kemolekan, tapi justri lebih kepada pengakuan.

''Cantik itu adalah the state of mind. Bedakan dengan butuh pengakuan'' kata Efnie dalam CNN Indonesia.

Efnie mengatakan, mencapai usia remaja atau masuk pada periode eksistensi sosial adalah hal yang sangat penting bagi wanita. Nah, salah satu media untuk menuangkan semua itu adalah melalui platform media sosial.

Dalam beberapa riset mengenai keterbukaan diri, banyak orang yang melakukannya justru di media sosial. Bahkan Efnie menyebut bahwa orang yang aktif di media sosial, umumnya dikehidupan nyatanya adalah pendiam.

Dampak lain dari media sosial dalam memengaruhi psikologis juga memiliki konsekuensi negatif.

Dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Nuri Sadida, M. Psi, dalam Fimela menulis, beberapa studi menjelaskan bahwa semakin sering orang mengakses media sosial, maka semakin tinggi potensi seseorang mengalami depresi, ketergantungan (adiksi), hingga menjadi penyendiri.

Dominasi wanita atas media sosial juga memberikan dampak buruk atas psikologis. Ia mencontohkan, jika kawan berselancar di media sosial, maka kawan akan mudah menemukan wanita yang menulis status tentang ketidaksukaannya terhadap pilihan wanita lain.

Pun, jika mereka melihat wanita lain lebih unggul ketimbang dirinya maka akan cenderung menghakimi, baik secara langsung maupun dengan sindiran.

Oleh karenanya, Nuri menilai bahwa interaksi media sosial tentunya juga perlu dibatasi, diiringi dengan meningkatkan literasi diri.

Menurutnya, meningkatkan literasi diri di media sosial juga bermanfaat untuk menjaga diri dari curhat secara berlebihan, karena sekali lagi curhat berlebihan membuat penggunanya rentan dengan gunjingan orang lain.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini