Tren Sepekan: Jalur Mistis Rinjani hingga Sungai Biru di Tengah Hutan Papua

Tren Sepekan: Jalur Mistis Rinjani hingga Sungai Biru di Tengah Hutan Papua

Berkemah di salah satu sisi puncak Rinjani | Unsplash @Jonas Verstuyft

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI, tren media sosial GNFI dalam kurun sepekan kali ini salah satunya menyoroti soal jalur terjal di pendakialn Gunung Rinjani, Lombok, yang beraroma mistis.

Lain itu ada yang menarik soal perjalanan suku Baduy, Banten, dalam upayanya berdamai dengan perkembangan zaman.

Hal menarik lainnya tentang keberadaan sungai dengan air berwarna biru jernih yang berada di tengah hutan Warsambin, Raja Ampat, Papua.

Berikut ulasannya.

Jalur mistis Rinjani yang memesona

Gunung Rinjani (3.726 mdpl) memang menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki. Terlebih bagi mereka yang menyukai tantangan dalam pendakian.

Jika kawan GNFI yang memiliki hobi serupa dan ingin menjajal untuk menikmati pesona alam dari puncak Rinjani, kawan bisa memilih beberapa jalur pendakian yang disarankan, sebut saja jalur Senaru atau Sembalun.

Bagi pemula, jangan sekali-kali melintasi melalui jalur Torean. Meski begitu, masih banyak pendaki yang mencoba melintasi jalur ini. Alasannya, jalur ini memiliki pemandangan yang cukup elok ketimbang melintas di jalur lain.

Sementara alasan yang paling kuat mengapa jalur ini terlarang adalah titik di jalur ini yang harus melewati tebing curam. lain itu, jalur Torean juga kental dengan cerita mistis.

Jalur ini diapit dinding punggungan Gunung Rinjani dan Sangkareang. Di sana kawan dapat melihat hutan lebat, tebing, lembah, sungai, air terjun, dan sumber air panas alami, termasuk yang mengalir di dalam gua.

Pendaki profesional pun yang ingin melintasnya juga harus menggunakan jasa panduan penduduk sekitar atau pemangku adat sekitar.

Suku Baduy jalan-jalan ke kota

Mungkin bagi sebagian kawan GNFI pernah melihat beberapa orang yang bertelanjang kaki menyisir jalan trotoar Ibukota. Bisa jadi mereka adalah Suku Baduy, dari Lebak, Banten.

Untuk sampai ke Jakarta, mereka sama sekali tidak menumpang atau menggunakan kendaraan bermotor. Modalnya cuma dengan kekuatan kaki-kaki mereka sendiri. Dalam cerita yang diulas Kompas.com, disebutkan butuh waktu dua hari untuk sampai di Jakarta.

Lazimnya, mereka turun gunung dan menuju Jakarta setelah musim panen, karena saat itu tak banyak kegiatan di ladang. Ke Jakarta pun mereka tak dengan tangan kosong, melainkan membawa barang untuk dijual, sebut saja madu dan bahan kerajinan.

Selama di Jakarta, warga Baduy ini menumpang atau menginap di rumah-rumah orang yang bersedia memberikan tumpangan. Karakternya yang polos dan jujur, membuat tak sedikit warga Ibukota yang respek kepada warga Baduy.

Suku Baduy adalah suku yang memegang teguh keyakinan Sunda Wiwitan. Adat mereka melarang masuknya modernisasi hingga akhirnya memilih hidup bersahaja dan apa adanya.

Warga Baduy juga dilarang sekolah, menggunakan listrik, atau menggunakan barang elektronik. Lain itu, mereka juga dilarang naik kendaraan bermotor. itulah yang menjadi sebab fisik mereka begitu kuat dengan kaki-kaki yang terlihat kekar.

Kalibiru nan menggoda di tengah hutan Raja Ampat

Salah satu keindahan di Raja Ampat, Papua Barat, selain laut dan pantau, adalah Kalibiru. Sungai dengan air yang berwarna biru sebening kristal yang pastinya cukup menggoda untuk menyegarkan diri di sana.

Secara geografis, Kalibiru terletak di kawasan Teluk Mayalibit. Untuk mencapai Kalibiru, dibutuhkan seja perjalanan dengan menggunakan perahu cepat dari Kota Waisai, atau 15 menit dari Kampung Warsambin.

Sungai jernih yang berada di tengah hutan itu nyatanya juga menyediakan fasilitas dasar untuk pelancong, sebut saja gazebo dan toilet.

Fasilitas itu memang disediakan untuk kebutuhan berbilas seusai mandi atau berenang di kali tersebut. Menurut cerita yang diperoleh detik travel, bahwa air jernih di sungai tersebut berasal dari sumber mata air.

Cerita lainnya soal sungai ini adalah pada masa perang dulu, suku asli Teluk Mayalibit yang mampu bertahan dengan dinginnya mandi di Kalibiru maka dikatakan siap bertempur. Tak heran, jika Kalibiru juga dianggap keramat oleh warga sekitar.

Meski jernih dan memesona, namun pelancong perlu waspada, mengingat arus sungai yang cukup kuat pada kedalaman tertentu.

Pesona Kaliburu juga mendatangkan nilai ekonomi bagi warga sekitar yang menyediakan jasa wisata, yakni sewa perahu untuk dua orang dengan tarif Rp500 ribu untuk turis lokal dan Rp600 ribu untuk turis asing.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Teknologi Sepekan: Gim Kuntilanak hingga Lapak Ibu Buatan Telkom Sebelummnya

Teknologi Sepekan: Gim Kuntilanak hingga Lapak Ibu Buatan Telkom

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.