Ditemukan Rempah Indonesia di Romawi Kuno, Bukti Awal Pemicu Kolonialisme

Ditemukan Rempah Indonesia di Romawi Kuno, Bukti Awal Pemicu Kolonialisme

Ilustrasi Bangsa Romawi Kuno © Oleg Senkov/Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Sebuah hasil penelitian lagi-lagi menghebohkan dan menimbulkan banyak pertanyaan. Pada 2014 silam, penelitian sains di sebuah lokasi penggalian arkeologi di dekat Napoli, Italia Selatan, menemukan tanda-tanda ‘’keberadaan’’ Indonesia di sana.

Penelitian tersebut terfokus pada riset sisa-sisa makanan dari era Romawi Kuno yang dilakukan oleh tim dari Universitas Cincinnati di Amerika Serikat. Riset yang memakan waktu 10 tahun itu terkonsentrasi untuk meneliti dua komplek perumahan Pompeii yang sempat terkubur debu dan lava vulkanis dari letusan Gunung Vesuvius.

Salah satu hasil dari penelitian tersebut adalah mengungkapkan bahwa masyarakat di era Romawi Kuno sudah mengonsumsi berbagai jenis makanan eksotis.

Makanan-makanan eksotis tersebut diketahui adalah ikan asin dari Spanyol, daging jerapah dan burung pelikan, serta rempah-rempah khas Indonesia. Itu artinya masyarakat Romawi Kuno diperkirakan sudah mengimpor dan menggunakan rempah-rempah asal Indonesia sejak 400 tahun sebelum masehi.

Temuan hasil dari riset tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Pompeii di masa Romawi Kuno memiliki standar hidup yang tinggi.

Untuk diketahui, bangsa Romawi Kuno memang dikenal dengan kesenangannya akan kemewahan. Bahkan makan adalah sebuah kemewahan serta kesempatan untuk menunjukkan status sosial.

Menurut seorang filsuf Romawi Kuno, Saneca, mengatakan bahwa orang kaya Romawi bahkan memaksa untuk memuntahkan makanannya agar bisa makan lebih banyak lagi. Mereka bisa memuntahkannya ke mangkuk yang berada di sekeliling meja atau bahkan langsung ke lantai.

Setelah itu mereka akan melanjutkan perjamuan makan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Pertanyaannya adalah bagaimana bisa rempah Indonesia sampai ke bangsa Romawi Kuno? Padahal penjajahan negara-negara Eropa untuk memonopoli rempah Indonesia baru dimulai pada abad ke-15 masehi.

Mencoba Menelusuri Jalur Rempah yang Terselubung

Kedatangan Bangsa Arab ke Nusantara
Ilustrasi Kedatangan Bangsa Arab ke Nusantara © Google Image/Suaramuslim.net

Jika dibandingkan dengan ‘’Jalur Sutra’’, maka ‘’Jalur Rempah’’ tidak terlalu dikenal di dunia. Sudah dipercaya bahwa rempah memang telah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Ini bisa jadi hipotesis awal mengenai perjalanan rempah Indonesia sampai ke Bangsa Romawi Kuno.

Meski begitu, perdagangan rempah ini diketahui dimulai oleh para pedagang Arab dan China dengan menempuh perjalanan di Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa. Pada masa itu rempah-rempah memiliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, hingga mengawetkan mayat.

Bangsa Romawi diketahui sudah mengetahui soal rempah-rempah dunia—bukan hanya dari Indonesia. Awalnya, mereka mengirim pasukan ke Mesir untuk menguasai rute perjalanan yang sudah dimonopoli orang-orang Arab Selatan.

Menurut mereka, semenanjung Arab memiliki aroma yang sangat wangi yang dikenal berasal dari beberapa rempah seperti pohon gaharu, cendana, akassia, kayu manis, dan lainnya. Tidak heran jika Bangsa Romawi ingin memilikinya.

Ilmuwan Rusia, A.M. Petrov, mengatakan bahwa kayu manis yang diedarkan ke Romawi dipercaya berasal dari Asia Tenggara dan India Selatan. Hanya saja para pedagang Arab merahasiakan tempat asal rempah ini.

Mengapa penelusuran dimulai dari Arab?

Navigasi perjalanan perniagaan dari wilayah Barat ke Samudra Hindia, maupun sebaliknya, memang dipelopori oleh orang-orang Arab. Sepanjang sejarah, bangsa Arab memang terhitung sebagai elemen yang dominan dalam perniagaan maritim.

Dalam catatan Sumeria, sekitar tahun 2000 sebelum masehi, balok kayu diimpor dari India ke Megan—salah satu daerah di Oman—dan diangkut dengan kapal yang pembuatannya di daerah Megan juga. Dari sini dapat ditunjukkan bahwa para saudagar Arab Oman telah memiliki kapal-kapal layar dan navigasi.

Bahkan ada kemungkinan pula jika Persia dan Yunani memperoleh pengetahuan tentang navigasi dari orang-orang Arab.

Sejak berhasil memiliki dan mengembangkan ilmu bahari sendiri, tak heran jika bangsa Arab memegang kendali dalam perniagaan maritim yang dapat menghubungkan India dan Nusantara dengan Eropa, termasuk perdagangan rempah yang sampai ke Bangsa Romawi Kuno.

Apakah Bangsa Romawi Kuno mengetahui bahwa rempah itu dari Indonesia?

Nampaknya tidak. Kalaupun sudah mengetahui, Jalur Rempah tidak akan seabu-abu begini kisahnya. Tidak seperti kisah Jalur Sutra yang masih dapat ditelusuri perjalanannya.

Perjalanan Agresif Eropa Menemukan Rempah ke Nusantara

Portugis di Nusantara
Ilustrasi Portugis datang ke Nusantara © Donysetiawan.com

Kisah yang selama ini diketahui adalah dimulai pada abad ke-15, penduduk seluruh dunia—terutama Eropa—mulai dikenalkan dengan rempah oleh China. Kala itu, China sudah aktif melakukan jual beli dengan Nusantara kemudian menjualnya ke Eropa melalui Turki.

Sehingga kedua negara tersebut dikenal dengan negara pemasok terbesar rempah pada saat itu.

Merasa tersohor sebagai negara pemasok rempah terbesar dunia, tak jarang China dan Turki kerap menawarkan harga sangat tinggi untuk nilai jual rempah yang mereka pasok. Tingginya harga inilah yang mendorong bangsa Eropa untuk mencari sendiri asal rempah ke tempat asalnya langsung.

Di sinilah dimulai penjelajahan mencari pusat rempah ke Nusantara.

Ekspedisi penjelajahan bangsa Eropa dikenal sangat agresif. Di tengah kehidupan feodal masyarakat Eropa, penguasaan atas rempah dianggap penting agar pemiliknya dapat disejajarkan dengan golongan elit.

Masih ingat, bagaimana bangsa Romawi sangat menyukai kemewahan untuk menunjukkan status sosial?

Diawali dengan bangsa Portugis yang menuju pusat produksi rempah-rempah nusantara di Maluku. Kala itu terbentuk kesepakatan kerja sama perdagangan dan penjualan cengkeh dari Sultan Ternate, Abu Lais, dengan Portugis.

Alih-alih kesepakatan dagang, namun inilah awal mula periode kolonialisme di Indonesia. Dimulai dari ambisi penguasaan dagang rempah-rempah yang sangat melimpah.

Setelah Portugis, datang Spanyol, hingga akhirnya bangsa Belanda yang paling lama memonopoli semua sektor kekayaan yang dimiliki Nusantara. Pertama kali Belanda menginjakkan kaki ke Nusantara yaitu di Banten pada 1596.

Hingga abad ke-16, Belanda belum memiliki kekuatan penuh untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Baru di awal abad ke-17, secara bertahap Belanda mengusir para pesaing dari bangsa Eropa dan mendirikan Verenigde Oost Indische Campagnie (VOC) untuk secara utuh menguasai perdagangan rempah selama 3,5 abad kemudian.

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih38%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau13%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
6 Fakta Menarik Eks Bandara Kemayoran, dari Perselingkuhan, Tintin, Sampai Perang Dunia II Sebelummnya

6 Fakta Menarik Eks Bandara Kemayoran, dari Perselingkuhan, Tintin, Sampai Perang Dunia II

Lebanon, Negara Ke-3 yang Mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia Selanjutnya

Lebanon, Negara Ke-3 yang Mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.