Pembuatan Bom Atom di Indonesia, Amerika Meradang

Pembuatan Bom Atom di Indonesia, Amerika Meradang
info gambar utama

Pada 24 Juli 1965 Presiden Sukarno mengumumkan bahwa Indonesia akan memproduksi dan memiliki bom atomnya sendiri. Pernyataan ini sendiri menyambung dari penelitian yang sudah dilakukan 200 ilmuan yang dikordinir oleh Direktur Pengadaan Senjata Angkatan Darat Brigjen TNI Hartono dan akan langsung melakukan uji coba pada 1969.

"Sudah kehendak Tuhan, Indonesia akan segera memproduksi bom atomnya sendiri," ujarnya sebagaimana dikutip dari Robert M Conerjo dalam "When Sukarno Sought The Bomb : Indonesian Nucklear Aspiration In The Mid-1960s," The Neoproliferation review Vol.7 tahun 2000 I Historia.id.

Bagi Sukarno, bom atom ditunjukan untuk "menjaga kedaulatan dan menjaga tanah air."

Menjaga kedaulatan ini, merupakan respon dari uji coba hidrogen (termo nuklir) AS di Kepulauan Marshall (Pasifik) pada 1954 membuat Soekarno khawatir wilayah Indonesia Timur terkena dampak radiasi. Dia lalu mencari ahli radiologi dalam negeri untuk melakukan penyelidikan. Sukarno mengeluarkan Keppres No.230/1954 tentang pembentukan Panitia Negara untuk penyelidikan Radio-Aktivitet pada 23 November 1954. Panitia ini dipimpin ahli radiologi dalam negeri, G.A.Siwabessy.

Gerrit Agustinus Siwabessy (1914-1982) lebih dikenal sebagai tokoh kesehatan Indonesia. Ia merupakan tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan). Siwabessy lahir di Saparua, Ambon. Ia menempuh pendidikan sekolah dokter bumiputera di Surabaya, dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia memperdalam radioterapi di Universitas London, Inggris.

Sementara itu, Badan Tenaga Atom Nasional, disingkat Batan, dibentuk tahun 1964. Tetapi sesungguhnya kegiatan yang berhubungan dengan tenaga atom di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1954. Ketika pemerintah RI membentuk panitia negara untuk menyelidiki radioaktivitas. Pada tahun 1958, panitia negara itu ditingkatkan menjadi Lembaga Tenaga Atom (LTA), dan pada tahun 1964 lembaga ini diubah menjadi Badan Atom Nasional.

Batan mengadakan perjanjian kerja sama dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet sejak tahun 1960, dengan Perancis sejak 1969, dengan Jerman Barat sejak 1976, kemudian juga dengan Italia dan Rumania. Bahkan Batan mendapatkan dana penelitian nuklir dari kerja sama Amerika Serikat di bawah program "Atom for Peace".

Selain memberi dukungan dana sebesar 350 dolar untuk pembangunan rektor nuklir, dan 141 dolar untuk riset pengembangan, AS juga mengirim tenaga ahlinya. Meski menuai pro-kontra, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertamanya, Triga-Mark II, pada 1961. Namun, kerja sama itu perlahan berubah bentuk seiring berubahnya hubungan Indonesia-AS. Kematian Presiden Jhon F Kennedy membuat Indonesia-AS tak lagi mesra.

Kematian Jhon F Kennedy yang mengubah Hubungan Indonesia-AS

Kerjasama yang awalnya baik kemudian merenggang setelah meninggalnya Jhon F Kennedy. Apalagi dengan usaha Sukarno yang semakin lantang menentang neokolonialisme dan imperialisme oleh negara barat. Kondisi semakin memburuk ketika amerika berperang dengan Vietnam dan Inggris mendorong Federasi Malaysia. Sukarno pun memikirkan cara lain untuk mengembangkan senjata nuklir. Maka ia kemudian beralih ke Tiongkok. Walaupun harus diam-diam mengirim ahli-ahli nuklir dan petinggi militer Indonesia ke Tiongkok karena ada kerja sama dengan AS.

Keinginan Indonesia ini ternyata membuat negara-negara tetangga melayangkan protes. Menteri Pertahanan Australia mengungkapkan kekhawatirannya. Bahkan Perdana Menteri Malaysia juga merasa terancam dan meminta penyelidikan serius tentang niat Indonesia ini. Amerika Serikat sendiri gerah dengan ulah Indonesia ini, dan diplomat-diplomat di Jakarta mulai menyelidikinya.

September 1965, Amerika dan Indonesia kembali membuat perjanjian kerjasama nuklir. Ada beberapa hal yang ditambahkan dalam perjanjian tersebut seperti Indonesia harus mengizinkan rektor nuklirnya diinspeksi IAEA. Tujuan dari pasal tambahan tersebut adalah untuk mengendalikan Indonesia. Meski begitu, Amerika masih belum bisa mengatasi keinginan ambisius Indonesia.

Barulah ketika kepemimpinan Soekarno jatuh pada 1965, rencana pembuatan bom atom ini pupus sendirinya. Ketika Soeharto berkuasa, pemerintah sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk mengembangkan bom atom. Perjanjian nuklir yang ada dengan Amerika akhirnya hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan pertanian dan perekonomian. Pada masa itu, Indonesia merupakan kekuatan yang ditakuti oleh negara-negara lain walau baru merdeka. Saat ini, meskipun tidak memiliki bom atom, pasukan militer Indonesia tetap disegani di dunia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini