Situs Internet Paling Sering Dikunjungi Saat Pandemi Covid-19

Situs Internet Paling Sering Dikunjungi Saat Pandemi Covid-19
info gambar utama

Kawan GNFI, Pandemi Covid-19 di Indonesia sedikit banyak mengubah perilaku masyarakat Indonesia di dunia maya. Hasil riset yang dilakukan Lifepal, mencatat penurunan kunjungan yang drastis pada Februari-Maret 2020 ke situs-situs penyedia jasa perjalanan bersamaan dengan merebaknya pandemi Covid-19 di Tanah Air. Hal itu boleh jadi dampak menurunnya jumlah masyarakat yang bepergian dan berwisata.

Meski begitu, sejak April 2020 jumlah kunjungan situs-situs tersebut mulai mencatatkan pertumbuhan kunjungan, namun trennya masih menurun.

Hal yang serupa juga ditunjukkan situs-situs pencarian lowongan kerja. Meski mulai membaik sejak bulan Juni, namun, jumlah pengunjungnya belum kembali normal seperti sebelum masa pandemi. Ini cukup berlawanan dengan fakta bahwa jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan justru kian banyak akibat tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi.

Yang tak kalah menarik adalah kunjungan ke laman broker penyedia jasa asuransi yang menunjukkan tren naik. Ini berlawanan dengan jumlah pengunjung ke situs-situs kesehatan yang justru trennya menurun. Nampaknya, orang lebih memilih “mencegah” ketimbang “mengobati”.

Secara umum, dari hasil riset data lalu-lintas kunjungan terhadap sejumlah situs penyedia jasa dengan kategori industri travel, belanja online, kesehatan, broker asuransi, dan lowongan pekerjaan, diperoleh hasil yang bervariasi antara satu kategori industri dengan kategori industri lainnya.

Ada yang menunjukkan tren kenaikan, namun ada pula yang menunjukkan tren sebaliknya. Berikut penjelasannya.

Kunjungan ke situs broker asuransi meningkat

kunjungan ke situs asuransi
info gambar

Lifepal menggunakan data trafik dari empat broker asuransi di Indonesia sebagai sampel, yakni Lifepal.co.id, Bandingin.com, Futuready.com, dan Cekpremi.com.

Dari data keempat sampel tersebut menunjukkan pertumbuhan trafik, meski sempat mencapai titik terendah pada bulan Mei 2020. Kenaikan grafik terjadi pada Juli hingga Agustus 2020 sebesar 9 persen. Tentunya pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya minat pengguna internet terhadap produk asuransi di masa pandemi.

Soal informasi mengenai asuransi, meski mengalami penurunan cukup drastis di awal 2020, pendapatan premi asuransi jiwa di bulan Juni 2020 menjadi yang tertinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu (Januari-Juni 2019).

Hasil riset lainnya menunjukkan bahwa kinerja bulan Juni 2020 mengalami pertumbuhan sebesar 23,7 persen jika dibandingkan dengan pendapatan di bulan Juni 2019.

Meningkatnya minat masyarakat akan produk asuransi jiwa online juga dirasakan Astra Life yang mencatatakan kunjungan hingga hampir tiga kali lipat sejak masa pandemi, dan mencapai tujuh kali lipat sejak dibukanya laman ini pada April 2019.

Direkstur Astra Life, Sri Agung Handayani, menjelaskan melalui laman ilovelife.co.id, bahwa calon nasabah tetap dapat melakukan pembelian produk layaknya belanja online dan tanpa harus melakukan medical check-up, sehingga proses pembelian bisa dilakukan lebih cepat.

Tidak hanya soal proses pembelian, nasabah juga dapat melakukan proses klaim secara online melalui fitur yang tersedia pada laman tersebut. Pendek kata, konsuman makin diberikan kemudahan terkait hal ini.

“Astra Life yakin bahwa dengan fitur online yang memungkinkan nasabah membeli asuransi tanpa ke luar rumah, jalur distribusi digital ini dapat terus tumbuh dan menjadi pilihan masyarakat,'' tandasnya.

Kunjungan ke situs kesehatan cenderung menurun

data kunjungan situs kesehatan
info gambar

Berbanding terbalik dengan kunjungan ke situs layanan asuransi, justru kunjungan ke situs-situs layanan atau konsultasi kesehatan trennya cenderung menurun. Dari grafik di atas, tercatat penurunan teris terjadi sejak Maret hingga Juli 2020, kemudian naik sedikit saat Agustus.

Sebagai gambaran, situs-situs kesehatan yang hadir saat ini menawarkan berbagai jasa, dari jasa konsultasi dokter via online, pemesanan obat-obatan, penebusan resep dan pengiriman obat, hingga artikel-artikel berisi informasi kesehatan dan penyakit.

Beberapa situs terkait yang menyediakan layanan yang disebutkan di atas antara lain; Alodokter.com, Doktersehat.com, Klikdokter.com, Halodoc.com, Hellosehat.com, dan SehatQ.com.

Puncak kunjungan terlihat pada bulan Maret 2020, tepat pada saat ditemukannya kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia. Namun setelah itu, kunjungan ke situs-situs tersebut terus menurun. Hal ini menunjukkan minat dan kebutuhan masyarakat akan layanan-layanan memang cenderung stagnan di masa pandemi.

Merujuk data itu, kunjungan ke situs-situs kesehatan hanya meningkat saat awal pandemi Covid-19, dan semakin berkurang antusiasnya. Hal ini sejalan dengan volume pencarian dengan kata kunci “corona” yang hanya memuncak di bulan Maret 2020 di Google Trend.

Kunjungan ke situs penjualan tiket transportasi dan hotel membaik, meski trennya menurun

data kunjungan situs travel
info gambar

Sejalan dengan menurunnya mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19, situs-situs penyedia jasa penjualan tiket transportasi dan pemesanan hotel pun terdampak. Dari data di atas tercatat penurunan drastis yang terjadi sejak Februari hingga April 2020.

Meski demikian, terpantau sejak mei 2020 hingga Agustus 2020 terlihat mulai ada kenaikan, meski pertumbuhannya tak terlalu signifikan. Per Agustus 2020, angka kunjungannya hanya membukukan 13.050 kunjungan, jauh dari catatan pada Februari yang mencapai 25.100 kunjungan. Pendek kata, kunjungannya berkurang hingga 48 persen.

Sementara kunjungan terendah terjadi pada April 2020 yang terkoreksi akivitas kunjungannya hanya 6.800 kunjungan. Ada tiga situs tiketing yang dijadikan sampel oleh Lifepal, yakni Traveloka.com, Tiket.com, dan PegiPegi.com.

Soal kenaikan kunjungan, diprediksi akan terus terjadi menyusul diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru di berbagai daerah. Namun, bukan tidak mungkin juga yang terjadi justru sebaliknya, karena sudah ada penerapan PSBB kembali di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta dan Banten.

Kunjungan ke situs belanja online cenderung stabil dan meningkat

data kunjungan situs belanja online
info gambar

Pandemi Covid-19 yang sudah bergulir sejak awal Maret 2020 di Indonesia juga diprediksi banyak pihak akan memicu lonjakan jumlah pengunjung situs-situs belanja online. Pasalnya, diyakini makin banyak orang yang memilih membeli berbagai keperluan dari rumah menggunakan aplikasi belanja daring tersebut.

Grafik di atas menunjukan bahwa sejak Februari 2020 sampai Agustus 2020 terlihat adanya tren peningkatan cukup pesat, terutama pada Mei 2020. Sepanjang tujuh bulan terakhir, tercatat pertumbuhan berada di angka 21.6 persen.

Secara umum, Lifepal menggunakan data trafik dari lima situs e-commerce paling populer sebagai sampel, yakni Tokopedia.com, Shopee.co.id, Bukalapak.com, Lazada.co.id, dan Blibli.com.

Peningkatan tren belanja online semaa pandemi juga disampaikan oleh Handhika Jahja, Direktur Shopee Indonesia. Handika menjelaskan bahwa selama kuartal II tahun 2020 pihaknya mencatat adanya perubahan perilaku masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan transaksi, khususnya di e-commerce.

PSBB dan pembatasan aktivitas masyarakat, disinyalir menjadi salah satu faktor semakin banyaknya transaksi online yang dilakukan. Demikian ungkapnya dalam diskusi konferensi pers yang dilakukan Shopee pekan lalu.

Berdasarkan riset dari App Annie, dari segi transaksi Shopee mencatatkan pencapaian lebih dari 260 juta transaksi selama kuartal II. Yang artinya jika di rata-rata dalam sehari e-commerce ini berhasil mencatatkan lebih dari 2,8 juta transaksi. Angka itu meningkat 130 persen ketimbang tahun 2019 pada periode yang sama.

Kunjungan ke situs lowongan kerja trennya menurun, meski ada perbaikan trafik

data kunjungan situs lowongan pekerjaan
info gambar

Yang menarik dari data yang dikumpulkan Lifepal adalah soal kunjungan ke laman pencarian lowongan kerja yang ternyata catatannya trennya menurun.

Pandemi Covid-19 memang menyebabkan puluhan ribu perusahaan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau merumahkan karyawannya. Hingga 31 Juli 2020, menurut kementerian ketenagakerjaan, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai lebih dari 3,5 juta orang.

Logikanya, maka dengan catatan otu bakal semakin banyak orang yang membutuhkan pekerjaan, maka semakin tinggi pula minat orang untuk mencari kerja dari sumber-sumber informasi lowongan pekerjaan. Salah satuya mengakses situs laman pencari kerja, seperti Id.Indeed.com, Jobstreet.co.id, JobsDB.com, Urbanhire.com, dan Karir.com.

Situs-situs lowongan pekerjaan itu adalah sumber yang dapat memberikan informasi semacam itu. Namun data menunjukan kunjungan ke situs situs lowongan pekerjaan Indonesia justru tercatat menurun cukup dalam pada bulan Februari hingga Mei 2020.

Boleh jadi, kondisi perekonomian yang tak menentu membuat orang ragu untuk mencari pekerjaan baru. Di sisi lain, tingginya angka pekerja yang terdampak Covid-19 pun tak lantas membuat kunjungan ke situs pencarian kerja meningkat, melihat lebih besarnya jumlah karyawan yang dirumahkan ketimbang yang mengalami PHK.

Meski begitu, pemulihan trafik mulai terjadi pada Juni hingga Agustus, meskipun kenaikannya tipis. Hal lain yang menarik adalah beberapa orang yang terdampak PHK menemukan aktivitas baru dan sumber pendapatan baru, yakni membuat usaha sendiri dan menjualnya via online. Melihat, banyak sekali orang yang membeli produk apapun secara online.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini