Jauh dari Nagari, Rumah Gadang Ini Berdiri Megah di Kawasan Metropolitan

Jauh dari Nagari, Rumah Gadang Ini Berdiri Megah di Kawasan Metropolitan
info gambar utama

Jauh dari nagari atau Tanah Minang, Rumah Gadang ini berdiri di kawasan Metropolitan Jabodetabek, tepatnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Rumah gadang yang berdiri di atas tanah seluas 150 hektare ini mempunyai keunikan dari segi arsitektur. Selain itu dari fungsi bangunan, rumah gadang ini juga memiliki perbedaan dengan rumah gadang di Sumatra Barat.

Jika di tanah kelahirannya lebih diperuntukkan sebagai tempat tinggal, tempat melakukan musyawarah, dan upacara adat. Maka di TMII, rumah gadang justru berfungsi sebagai tempat promosi budaya Sumatra Barat.

"Rumah gadang adalah simbol dari ikatan kekerabatan dalam kaum Minangkabau. Rumah ini juga berfungsi untuk kegiatan sosial. Nah hadirnya di TMII, untuk promosi seni budaya Sumatra Barat," kata Staf Promosi Anjungan Sumatera Barat TMII, Leni Febriani pada Cendananews.com (4/2/2018).

Dengan fungsinya sebagai tempat wisata, alhasil pembangunan rumah gadang di TMII pun tidak memerlukan upacara adat tertentu. Seperti halnya, melakukan ritual batagok tonggak tuo, menaikkan kudo-kudo, sampai menyiram darah ayam ke tiang utama rumah gadang.

Pembangunan rumah gadang di TMII dalam prosesnya dilakukan seperti biasa. Mulai dari pemasangan pondasi, tiang, atap, hingga dekorasi rumah gadang.

Baca Juga76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung

Ada keunikan dari material bangunan rumah gadang TMII

Material rumah gadang di TMII dibuat serupa dengan yang asli. Tetapi ada beberapa bagian juga yang diganti demi mendukung fungsi utama bangunan.

Dimulai dari tampak luar, pada bagian dinding rumah gadang didapati material bangunan menggunakan kayu. Pada bagian ini terdapat ukiran juga yang diberi warna agar bangunan terlihat lebih menarik.

Ketika pengunjug hendak memasuki bangunan rumah gadang maka dapat dirasakan injakan tangganya terbuat dari keramik, bukan dari material papan kayu sebagaimana yang ada di Sumatra Barat. Adapun jumlah injakkan tangganya berjumlah ganjil, yakni ada 15 anak tangga.

Sesampainya di dalam rumah gadang, pengujung dapat merasakan lantai bangunan tidak menggunakan material berupa papan kayu atau pecahan bambu. Melainkan, lantai dicor kemudian dialasi dengan karpet.

Menariknya lagi, di rumah gadang TMII pengujung akan disuguhkan dengan beragam ruangan yang memiliki fungsi berbeda di setiap lantainya. Seperti pada lantai bawah bangunan rumah gadang, jika biasanya kolong bangunan digunakan untuk memelihara ternak atau menyimpan padi. Maka di TMII ruangan tesebut telah disulap menjadi perkantoran untuk mengelola anjungan Sumatra Barat.

Sedangkan, ruangan di lantai atasnya berfungsi untuk memperkenalkan berbagai pameran aspek tradisi seni dan budaya Sumatra Barat. Seperti menampilkan ragam busana adat, kain songket silungkang, pelaminan pengantin Padang Pariaman, peralatan musik tradisional Telempong, ragam asesoris kerajinan perunggu, dan lainnya.

Baca JugaSilek, Tradisi Minangkabau dalam Perkembangan dan Perubahan Zaman

Miliki tiang penyangga yang berbeda dari rumah gadang pada umumnya

Kini beralih memandang tiang-tiang di dalam rumah gadang TMII. Dari segi tampilan dapat terlihat penyangga bangunan tersebut berbentuk bulat dan dibalut dengan kain berwarna kuning.

Jika bangunan asli menggunakan kayu untuk tiang rumahnya. Maka beda pendapat dengan material dari bangunan rumah gadang TMII. Pada bagian ini, tiang penyanggaya dicor dengan maksud agar bangunan lebih awet dan tahan lama.

Sementara material dari atap dalam rumah gadang TMII sejatinya sama dengan kampung halamannya, yakni menggunakan ijuk. Dimana, gulungan ijik disusun rapi diatas kerangkan bambu, kemudian ditimpali lagi sampai dirasa menutupi bangunan.

Adapun bentuk atap dari rumah gadang ini, tentunya tetap memilik ciri khas melengkung menyerupai tanduk kerbau. Atapnya yang lancip dan runcing ke atas tersebut dinamakan dengan gonjong.

Referensi: Cendananews.com | Tamanmini.com | Kemendikbud.go.id

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini