Sepak Terjang Komite Olimpiade Nasional Antarkan Indonesia Jadi Bagian Olimpiade Dunia

Sepak Terjang Komite Olimpiade Nasional Antarkan Indonesia Jadi Bagian Olimpiade Dunia
info gambar utama

Euforia Olimpiade Musim Panas 2020 atau yang saat ini lebih banyak disebut sebagai Olimpiade Tokyo kian terasa di Indonesia, tentu hal ini semakin ramai diperbincangkan bersamaan dengan harapan masyarakat akan tercapainya prestasi baru yang berhasil diraih oleh para kontingen tanah air.

Terlepas dari segala pemberitaan yang ada tentang Olimpiade Tokyo, tak dimungkiri jika keikutsertaan Tim Garuda dalam gelaran olahraga sejagat ini bisa terlaksana berkat keberadaan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), yang memegang peran tak kalah penting.

KOI memiliki andil yang erat kaitannya dalam berkoordinasi dengan Komite Olimpiade Internasional, selaku penyelenggara dari Olimpiade Dunia bersamaan dengan Komite serupa yang beroperasi di setiap negara yang berpartisipasi.

Sekadar info, Komite Olimpiade Internasional (IOC) merupakan organisasi dunia yang didirikan pada tahun 1984 di Swiss dengan tujuan ingin menghidupkan kembali ajang olahraga terbesar di dunia yang sempat mati.

Karenanya, tak heran jika organisasi serupa juga turut dimiliki oleh berbagai negara lain dengan prinsip dan cara kerja yang sama. Indonesia sendiri baru diterima menjadi anggota dan bagian dari IOC pada tahun 1952.

Mengenal 28 Atlet Terbaik Indonesia yang Bakal Berjuang di Olimpiade Tokyo 2020

Sejarah pembentukan KOI dan partisipasi perdana Indonesia dalam Olimpiade

Logo Komite Olimpiade Indonesia
info gambar

Jauh sebelum KOI terbentuk dan ikut berpartisipasi dalam gelaran Olimpiade seperti saat ini, organisasi keolahragaan di tanah air baru terwujud lewat Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) pada September 1945.

PORI sendiri merupakan gabungan dari Gerakan Latihan Olahraga (GELORA), dengan pusat olahraga bentukan Jepang bernama Djawa Iku Kai. Peleburan tersebut dilakukan sebagai bentuk semangat olahraga yang muncul ketika Proklamasi Kemerdekaan terjadi.

Setelah melalui proses yang panjang, PORI akhirnya diresmikan pada tahun 1947 oleh Presiden Soekarno. Di saat yang bersamaan, dibentuklah cikal bakal KOI yang kala itu masih memiliki nama Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI), dan menunjuk Sultan Hamengkubuwono IX sebagai ketua umum, serta menetapkan Yogyakarta sebagai basis organisasi ini berada.

Pembentukan KORI dilakukan dengan mengemban tugas yang lebih spesifik, yaitu secara khusus menangani bidang keolahragaan yang berkaitan dengan lingkup internasional termasuk olimpiade. Kebetulan, saat itu berdekatan dengan momen Olimpiade tahun 1948 yang akan diselenggarakan di London, Indonesia memiliki keinginan untuk berpartisipasi mengirimkan jajaran atlet terbaiknya dalam gelaran tersebut.

Catatan Prestasi Atlet Indonesia di Ajang Olimpiade
Surat yang dibuat Hamengkubuwono IX untuk IOC
info gambar

Berangkat dari tekad yang dimiliki, Hamengkubuwono IX langsung melakukan berbagai upaya, salah satunya melakukan kontak kepada IOC dengan mengirimkan surat resmi berbahasa Prancis yang menyatakan keinginan Indonesia untuk bergabung dengan keanggotaan IOC.

Upaya ini dilakukan dengan sangat keras karena dianggap sebagai momen yang sangat penting, mengingat kala itu Olimpiade London 1948 akan menjadi olimpiade pertama yang diadakan kembali setelah Perang Dunia II.

Sayangnya, kondisi politik Indonesia yang saat itu masih dibayang-bayangi oleh pihak Belanda membuat situasi memburuk sehingga memutus komunikasi Indonesia dengan dunia internasional, debut Indonesia di olimpiade kala itu pada akhirnya ditunda.

Di tahun tersebut, Indonesia harus berpuas diri dengan capaian penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) perdana yang berlangsung di Solo. Pada tahun 1952, PON kedua digelar secara sukses di Jakarta, KORI yang saat itu akhirnya sudah berganti nama menjadi KOI termotivasi untuk kembali melakukan kontak dengan IOC sebagai upaya untuk bergabung di ajang olimpiade dunia.

Berbuah manis, Rektor IOC, Otto Mayer, menyampaikan tanggapannya atas surat yang diterima dan akhirnya pada 11 Maret 1952 KOI menjadi bagian dari IOC, hal tersebut sekaligus menandai momen pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi pada gelaran Olimpiade Dunia yang berlangsung di Helsinki, Finlandia.

Pada momen perdana tersebut, tiga atlet dari tiga cabang olahraga berbeda membentuk kontingen olimpiade pertama yang dimiliki Indonesia, jajaran atlet yang dimaksud adalah Maram Sudarmodjo (atletik), Habib Suharko (renang), dan Thio Ging Hwie (angkat besi).

Tentu, keberhasilan Indonesia untuk ikut berpartisipasi di Olimpiade Dunia sudah menjadi pencapaian yang membanggakan kala itu, sehingga tak heran jika belum mampunya kontingen tanah air membawa pulang medali masih dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

3 Agustus 1952 - Lifter Indonesia Thio Ging Hwie Unjuk Gigi di Olimpiade Helsinki

Jalan panjang perubahan KOI hingga saat ini

Pergantian Ketua KONI terakhir Erick Thohir
info gambar

Tak selalu berada di posisi yang pasti, walau sudah menjadi bagian dari IOC, keberadaan KOI sendiri di Indonesia sempat mengalami beberapa perubahan organisasi yang panjang.

Selama tahun 1959-1961, pemerintah membentuk berbagai jenis organisasi olahraga lain di antaranya Dewan Asian Games Indonesia (DAGI), dengan maksud untuk mempersiapkan keikutsertaan dalam penyelenggaraan Asian Games IV yang akan dilaksanakan pada tahun 1962, kala itu KOI ditunjuk sebagai badan pembantu DAGI dalam hubungan internasional.

Kemudian dibentuk juga Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) yang bertujuan mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia, dan top organisasi olahraga sebagai pelaksana teknis cabang olahraga yang bersangkutan.

Hingga pada tahun 1964, semua organisasi olahraga yang ada termasuk KOI, DAGI, dan KOGOR dilebur ke dalam organisasi olahraga bernama Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI).

Setahun setelahnya, diusulkan pergantian nama DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), sebagai organisasi yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik. Kala itu Hamengkubuwono IX ditunjuk sebagai ketua umum KONI.

Sejak tahun 1967, KONI diibaratkan sebagai organisasi olahraga yang memiliki peran ganda dan mengurusi persoalan olahraga di dalam negeri, namun di saat bersamaan juga bertanggung jawab dalam keberlangsungan olahraga tanah air secara internasional. Saat itu, IOC bahkan sudah menyatakan KONI sebagai Komite Olimpiade Nasional yang mewakili Indonesia.

Baru di tahun 2005, Pemerintah dan DPR akhirnya menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 yang mengatur tentang Sistem Keolahragaan Nasional, dan kembali menjadikan KOI sebagai organisasi independen yang bertanggung jawab dalam persoalan keolahragaan Indonesia secara internasional dan kembali mengemban tugas dan fungsi yang diberikan oleh IOC.

Sejak tahun 2007 hingga saat ini, KOI baru mengalami 3 kali pergantian pemimpin yang dimulai dari Rita Subowo yang menjabat hingga tahun 2015, kemudian digantikan oleh Erick Thohir hingga tahun 2019 yang harus mundur karena menjabat sebagai Menteri BUMN, dan digantikan oleh Raja Sapta Oktohari hingga saat ini.

Erick Thohir Terpilih Menjadi Anggota Komite Olimpiade Internasional

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini