Orang Utan dalam Catatan Kelam Masa Silam

Orang Utan dalam Catatan Kelam Masa Silam
info gambar utama

Berasal dari Bahasa Melayu, orang utan secara harfiah artinya manusia dari hutan. Menurut penelitian, manusia dan orang utan memiliki kemiripan DNA hingga hampir 97 persen.

Orang utan dapat dikenali dari rambut panjang berwarna kemerahan yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Sebagian besar--sekitar 90 persen--populasi satwa ini menghuni hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatra, sisanya hidup di Sabah dan Sarawak.

Kisahnya tercatat dalam perjalanan Kapal Eagle Galley yang berlayar dari Inggris ke Pulau Borneo (Kalimantan). Kapten Daniel Beeckman memimpin ekspedisi yang ditugaskan oleh Serikat Dagang Inggris (EIC). Tujuan perjalanan itu membuka kembali perdagangan Inggris dengan Kesultanan Banjarmasin untuk komoditas lada maupun produk tropis lainnya

Pada 29 Juni 1714, rombongan Beeckman berlabuh di Banjarmasin, pesisir selatan Kalimantan. Selain lada, Beeckman juga menyaksikan banyak hewan khas wilayah tropis. Monyet, kera, dan babon, ditemukan dalam berbagai jenis dan bentuk. Tetapi yang paling luar biasa adalah primata yang disebut “Oran-ootan” alias orang utan yang dalam bahasa penduduk lokal berarti manusia hutan.

Dalam amatan Beeckman, panjang tubuh orang utan bisa mencapai enam kaki. Mereka berjalan tegak lurus, memiliki lengan yang lebih panjang ketimbang manusia. Giginya besar, tidak memiliki ekor maupun rambut, kecuali yang tumbuh di daerah tertentu.

"Mereka sangat gesit dan kuat. Mereka akan melempar batu besar, tongkat, dan kayu besar, ke arah orang yang mengganggunya,” tutur Beeckman, sebagaimana ditulis sejarawan University of Malaya Chin Yoong Fong dalam A Voyage to and from the Island of Borneo, in the East Indies, yang dilansir dari Historia.

Penduduk setempat mengisahkan banyak cerita mengenai orang utan. Mereka percaya jika orang utan adalah keturunan manusia tetapi berubah menjadi binatang karena menghina Tuhan. Karena penasaran, Beeckman membeli seekor orang utan seharga 6 dolar Spanyol. Orang utan itulah yang menemani Beeckman selama setahun ekspedisi dagangnya di Borneo.

Mengenal Borneo Orangutan Rescue Alliance, Pusat Rehabilitasi Orang Utan Kalimantan

Orang utan sebagai reinkarnasi tokoh masyarakat

Hubungan dekat antara orang utan dan manusia memang telah terjalin cukup lama. Masyarakat di Kalimantan misalnya, memiliki hubungan spesial dengan orang utan yang terbungkus dalam bentuk cerita turun-temurun.

Dalam tradisi sub-etnik suku Dayak, ada kepercayaan pada masa lampau bahwa manusia belajar dari orang utan tentang cara membantu persalinan dan memanfaatkan tanaman obat untuk memulihkan ibu setelah melahirkan. Cerita lainnya adalah orang utan dianggap sebagai reinkarnasi tokoh masyarakat, dan oleh karena itu tidak boleh mengganggu mereka ketika mengambil buah dari kebun.

Selain itu, juga terbentuk kisah yang sarat peringatan moral tentang seorang pria yang menembak orang utan yang sedang berada atas pohon. Menurut cerita, ternyata orang utan yang ditembak itu adalah seekor induk yang tengah memeluk anaknya.

Sebelum mati, sang induk mengambil daun besar dan mengeluarkan air susunya agar bayinya tetap bisa minum. Seperti harus membayar perbuatannya, konon, sang istri dari pria yang menembak orang utan tersebut melahirkan bayi yang yang tubuhnya tertutupi rambut lebat seperti orang utan.

Hal senada juga diyakini warga Desa Hatabosi, Tapanuli Selatan. Menurut kepercayaan setempat, orang utan memiliki kesaktian dan siapapun yang menyakiti mereka akan terkena kutukan. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat enggan mengusik orang utan.

Cerita turun-temurun seperti itu membentuk rasa hormat pada sesama makhluk hidup dan mendorong perlindungan satwa liar, khususnya orang utan.

orang utan
info gambar

Orang utan yang diburu

Orang utan tentu familiar bagi masyarakat Indonesia generasi 1990-an. Primata khas Nusantara itu pernah menjadi ikon dalam uang kertas pecahan 500 rupiah emisi tahun 1992 yang beredar hingga 1999. Dalam satu sisi di lembar uang tersebut, nampaklah sesosok orang utan dewasa sedang bermain-main di atas cabang pohon sambil tersenyum.

“Kehadiran” orang utan dalam pecahan uang 500 rupiah ternyata punya muatan pesan. Saat itu, pemerintah sedang mempromosikan orang utan sebagai satwa nasional yang statusnya dalam perlindungan.

Orang utan juga telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990. Menteri Kehutanan menyusul kemudian, melaui Surat Keputusan No. 331 pada 10 Juni 1991.

Upaya konservasi terhadap orang utan sebenarnya telah dimulai sejak zaman kolonial. Pada 1931, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 yang melindungi orang utan. Namun seiring waktu, keberadaan orang utan justu makin terancam. Populasinya tercatat menurun dari tahun ke tahun.

Patut Dilindungi, Mari Mengenal Tiga Spesies Orang Utan yang Ada di Indonesia

Studi paling komprehensif tentang orang utan di Kalimantan memperkirakan jumlah populasi orang utan melorot lebih dari 100.000 sejak tahun 1999, karena perkebunan kelapa sawit dan perindustrian kertas menyusutkan habitat mereka di hutan dan konflik-konflik fatal dengan penduduk meningkat.

Pada 2018, seekor orang utan mati di Kalimantan, setelah ditembak sedikitnya 130 kali dengan senapan angin, ditikam dan dipukuli. Itu adalah pembunuhan orang utan kedua yang tercatat paling memilukan di wilayah Kalimantan.

Perburuan orang utan nyatanya juga sudah terjadi ratusan tahun lampau. Pada 1869, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace, pernah menggambarkan pertarungan ini dalam bukunya sebagai pertarungan antara manusia dengan orang utan. Manusia memang selalu keluar sebagai pemenang.

Di hutan Sarawak itulah pertama kalinya Wallace melihat orang utan atau mias (sebutan lokal untuk orangutan waktu itu) pada awal bulan Maret Tahun 1855. Dalam kesempatan ke Serawak itu, Wallace memang sengaja menyempatkan diri datang untuk melihat orang utan secara khusus.

"Salah satu tujuan utama perjalanan ke Simunjon adalah untuk meneliti orang utan. Saya ingin melihat habitat aslinya, mempelajari kebiasaan dan mendapatkan spesimen dari berbagai variasi spesies serta dari kedua jenis kelamin, baik orang utan yang masih muda ataupun yang dewasa," tulisnya dalam The Malay Archipelago (Kepulauan Nusantara).

"Mendapatkan spesimen” bagi seorang naturalis adalah kata lain untuk mengoleksi spesimen tersebut dengan cara memburu dan kemudian mengawetkannya untuk diteliti lebih lanjut. Pada masa tersebut, bagaimana lagi cara untuk memperoleh spesimen-spesimen spesies dengan kondisi utuh serta lengkap bahkan tanpa luka?

Akan sangat sulit untuk membawa spesimen-spesimen dalam berbagai variasi secara hidup-hidup, apalagi hendak dibawa ke Eropa. Terlebih pula, Wallace masih berada di awal perjalanannya dalam menjelajah Nusantara.

"Dua minggu kemudian saya mendengar ada seekor mias sedang makan di seberang pohon di rawa-rawa. Saya segera mengambil senapan dan beruntung masih melihatnya di rawa-rawa. Ketika saya mendekati tempat itu, hewan itu mencoba menyembunyikan diri diantara dedaunan, tetapi saya berhasil menembaknya. Pada tembakan kedua, hewan itu hampir mati terkapar di tanah. Dua butir peluru menembus tubuhnya," catat Wallace.

Dalam catatannya itu, Wallace menyebut bahwa ia bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk berburu orang utan. Hasil buruannya kemudian diawetkan dan dibawanya ke museum di Inggris.

"Kulitnya saya awetkan didalam tong kecil berisi arak. Saya pun menyiapkan kerangka tubuhnya yang utuh sempurna dan kemudian dibeli oleh Museum Derby," ungkapnya.

Derby Museum adalah museum yang didirikan oleh Edward Smith-Stanley di Liverpool, Inggris, tepatnya berlokasi di 13th Earl Of Derby. Sekarang museum itu masih ada, dan berganti nama menjadi World Museum Liverpool.

Tidak diketahui di laman resminya, apakah museum ini masih mengkoleksi kiriman orang utan dari Wallace, tapi sepertinya sebagai sebuah museum penting, besar kemungkinan kulit dan kerangkanya masih tersimpan baik di sana.

Orang utan maupun kawanan primata lainnya memang menjadi kajian untuk menguak teori asal-usul manusia. Hal ini menjadi celaka bagi populasi orang utan karena mereka menjadi buruan manusia.

“Dengan penemuan yang agak kontroversial itu, berbagai kebun binatang di segala penjuru dunia minta agar koleksi hewannya bertambah dengan tamu yang lain dari yang lain ini,” tulis majalah Warnasari, No. 144, Januari 1991.

Manusia musuh terbesar orang utan

Populasi orang utan di dunia tersebar di dua pulau besar Indonesia, yakni di Sumatra dan Kalimantan. Belakangan, penemuan orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) menambah daftar spesies orang utan yang ada di Indonesia.

Menurut Wildan Yatim, ahli primata terkemuka, musuh orang utan sesungguhnya tidak banyak. Di Sumatra musuhnya hanyalah siamang, macan, dan macan tutul. Ular mungkin juga mematuk dan melilit mereka, tapi itu jarang sekali terjadi. Musuh terbesar orang utan justru adalah manusia yang kerap memburunya.

Seperti ditulis Historia, dahulu kala orang Dayak di Kalimantan Barat suka menangkap orang utan untuk dipelihara dalam kurun waktu tertentu. Biasanya induknya disumpit, kemudian dagingnya dimakan. Lalu anaknya dipelihara, disusukan dengan susu manusia.

Setelah cukup besar dan gemuk, mereka kemudian dibunuh, dan dagingnya dikonsumsi sebagai penganan. Mungkin itulah sebabnya orang utan kalimantan lebih beringas tatkala melihat manusia.

Hal yang paling mengkhawatirkan lainnya adalah soal perdagangan orang utan di pasar gelap. Di mata penyelundup dan pedagang, hewan langka orang utan menjadi komoditi bernilai tinggi.

Manusia rakus ini tahu betul kalau orang utan amat banyak peminatnya di luar negeri. Terlebih lagi, bagi negara maju yang sudah mapan secara ekonomi, punya permintaan terhadap orang utan sebagai peliharaan atau penghuni kebun binatang.

Kebun Binatang Gembira Loka Sambut Kelahiran Bayi Orang Utan Kalimantan

“Monyet besar itu dihargakan di pasar gelap Rp90 juta, seekornya. Jelas bikin ngiler para penyelundupnya,” tulis majalah Warnasari.

Menurut catatan Warnasari, Taiwan disebut-sebut sebagai satu-satunya pasar anak orang utan terbesar di dunia. Pada 1991, tercatat ada sekira 700-1000 orang utan yang dikandangkan dan siap untuk masuk pasar.

Sayangnya, Taiwan bukan anggota Konvensi Internasional Perdagangan Fauna dan Flora Langka (CITES). Akibatnya, mereka dengan bebas memperdagangkan orang utan tanpa harus risau dihadang undang-undang CITES.

“Itulah sebabnya manusia merupakan musuh terbesar orang utan. Karena diincar terus, dijual, dan diangkut keluar negeri,” kata Wildan Yatim, dalam Mengenal Orang Utan.

pengrusakan hutan
info gambar

Selain itu, perusakan habitat juga menjadi ancaman orang utan. Padahal, Wallace mengatakan hutan perawan yang luas dan tidak terputus serta seluruhnya berpohon tinggi penting bagi kelangsungan hidup orang utan.

“Hutan seperti itu akan membentuk daerah terbuka bagi mereka, di mana mereka bisa mengembara ke segala arah dengan kecakapan tinggi seperti orang Indian di padang rumput, atau orang Arab di padang pasir, menyeberang dari puncak pohon ke puncak pohon tanpa harus turun ke tanah,” gambar Wallace.

Pada kenyataannya, hutan-hutan di Indonesia terus menerus tergerus. Hutan dirambah untuk dijadikan kebun kelapa sawit, penebangan kayu, dan konversi lahan lainnya. Tanpa disadari, orang utan pun mulai kehilangan tempat tinggalnya dan populasinya meyusut. Padahal, orang utan merupakan garda terdepan pelestarian hutan, sebab mereka menabur biji-bijian lewat perilaku makannya.

“Tempat tinggal dan sumber makanan mereka jadi susut cepat. Mereka pun kurang makan, mendapat tekanan batin dan dihinggapi rasa cemas terus-menerus. Akhirnya mereka merana, lalu mati,” kata Wildan.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2016, diperkirakan terdapat 71.820 individu orang utan yang tersisa di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Namun, lembaga konservasi non-pemerintah WWF menyebutkan bahwa ketiga spesies orang utan yang ada di Indonesia berstatus kritis. Temuan ini berdasarkan daftar merah dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini