Ritual Naik Dango Bentuk Syukur Atas Hasil Panen Padi Suku Dayak Kanayatn

Ritual Naik Dango Bentuk Syukur Atas Hasil Panen Padi Suku Dayak Kanayatn
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Ritual panen padi sudah menjadi budaya yang tak asing lagi di berbagai daerah di Indonesia. Padi yang sejak dulu menjadi sumber penghidupan masyarakat dan lambang kemakmuran daerah, tak bisa dipisahkan dari ritual di berbagai daerah. Pulau Jawa memang terkenal dengan ritual panen padi, tetapi tak hanya Pulau Jawa saja yang melaksanakan ritual panen padi.

Salah satu daerah yang melaksanakan ritual panen padi juga terdapat di Kalimantan, tepatnya dilakukan oleh suku Dayak Kanayatn. Ritual tersebut bernama ritual Naik Dango. Ritual ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang telah diberikan.

Ritual Naik Dango rutin dilakukan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada 27 April. Suku Dayak Kanayatn percaya, ketika mereka memanjatkan rasa syukur dan doa pada saat Naik Dango, akan membuat hasil panen semakin melimpah di musim selanjutnya. Tak hanya itu, ritual ini juga diyakini sebagai penangkal bencana dan gangguan dari hama di sawah.

Akulturasi Budaya dalam Tarian Campak Bangka Belitung

Prosesi ritual Naik Dango

Ritual Naik Dango | Foto: Kompas
info gambar

Sehari sebelum diselenggarakannya ritual Naik Dango, para masyarakat akan melakukan persiapan yang disebut dengan batutuk. Batutuk adalah kegiatan menumbuk padi dengan lesung yang dilakukan oleh ibu-ibu, remaja putra, dan remaja putri. Padi yang telah ditumbuk tersebut akan disajikan pada hari ritual dilaksanakan.

Tak hanya itu, mereka juga menyiapkan beberapa makanan sebagai simbol hasil pertanian. Makanan tersebut berupa beras ketan yang dimasak dalam bambu yang berukuran besar dan tumpi (sejenis roti cucur yang diberi garam). Batutuk juga akan diikuti dengan upacara matik.

Upacara matik adalah penyampaian tujuan atau hajat kepada Jubata atau Sang Pencipta dan Awa Pama atau arwah nenek moyang, agar memberikan restu dari pelaksanaan ritual Naik Dango tersebut. Beberapa perlengkapan yang diperlukan dalam upacara matik adalah daun sirih, kapur sirih, gambir, pinang, rokok daun nipah, dan suguhan makanan seperti tumpi dan ketan.

Setelah kedua prosesi tersebut selesai, di hari berikutnya barulah dilaksanakan ritual Naik Dango. Ritual ini akan dibuka dengan masyarakat menyimpan seikat padi yang baru selesai dipanen, kemudian dimasukkan ke dalam lumbung padi atau dango. Prosesi ini wajib dilakukan oleh setiap kepala keluarga dari suku Dayak Kanayatn, terutama mereka yang kegiatan utamanya adalah bertani atau mengurus sawah.

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Setelah hasil panen padi diletakkan di dalam dango, selanjutnya akan dilaksanakan upacara nyangahatn atau yang disebut juga dengan barema. Pada saat inilah doa-doa dari pamane atau tetua adat disampaikan kepada Nek Jubata.

Doa-doa yang diucapkan biasanya dalam bentuk mantra yang berisi pemanggilan pulang padi yang masih ‘berlayar’ (di perjalanan) agar berkumpul di dalam lumbung padi. Selain itu, doa disampaikan sebagai permohonan berkat untuk menggunakan padi yang sudah disimpan dalam lumbung untuk keperluan pangan.

Prosesi nyangahatn merupakan bagian terpenting dari ritual Naik Dango, sebagai pengingat kembali atas turunnya padi dari Nek Jubata atau Sang Pencipta kepada manusia. Kemudian, hasil panen padi yang diletakkan di dalam dango tersebut, akan digunakan para warga sebagai bibit.

Mereka biasanya turun langsung ke ladang untuk menanam padi secara bersama-sama dari bibit yang ada di dalam dango tersebut. Sisa padi yang ada akan disimpan sebagai persediaan ketika musim paceklik atau keadaan di luar dugaan lainnya.

Endrik Elang, Kurir yang Membuka Lapangan Pekerjaan Saat Pandemi

Sesajen dalam ritual Naik Dango

Ritual Naik Dango | Foto: PeladangKata
info gambar

Tujuan dari adanya sesajen adalah sebagai bentuk syukur kepada Nek Jubata dan memberi makan para arwah nenek moyang, agar tidak mengganggu jalannya ritual yang sedang dilakukan. Sesajen terdiri dari beras ketan, telur, buah tengkawang, mata uang logam, dan rangkakng manok (ayam yang sudah direbus kemudian dipanggang).

Selain itu, juga terdapat beras yang dicampur dengan minyak kelapa, beras yang dicuci, dan buah langir yang dicampur dengan minyak kelapa. Semua sesajen tersebut dipersembahkan untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat Dayak Kanayatn yang hidup berkecukupan atas pemberian Nek Jubata.

Kesenian Kuda Kosong Cianjur Tak Lepas dari Cerita Mistis

Perkembangan ritual Naik Dango saat ini

Ritual Naik Dango | Foto: Okezone
info gambar

Hingga kini, ritual Naik Dango masih dijaga dan dilestarikan oleh suku Dayak Kanayatn. Naik Dango saat ini telah menjadi pesta rakyat yang sarat akan budaya dan tradisi leluhur. Meski demikian, ritual Naik Dango tak kehilangan fungsi utamanya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Nek Jubata.

Ritual Naik Dango juga dijadikan sebagai ajang mempererat tali persaudaraan antar warga desa dan memupuk rasa solidaritas di kalangan suku Dayak Kanayatn. Ritual Naik Dango juga banyak memikat perhatian wisatawan untuk melihat lebih dekat.*

Referensi: usd.ac.id | detik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini