Tak Hanya Primadona Ekspor Hasil Perairan, Ikan Hias Jadi Salah Satu Penopang Perekonomian

Tak Hanya Primadona Ekspor Hasil Perairan, Ikan Hias Jadi Salah Satu Penopang Perekonomian
info gambar utama

Bukan hanya hasil perkebunan layaknya kelapa sawit, komoditas ekspor yang menjadi andalan bagi Indonesia ternyata juga datang dari hal yang mungkin tak terduga sebelumnya bagi kebanyakan orang, yaitu ikan hias.

Dalam beberapa tahun terakhir, keikutsertaan Indonesia sebagai salah satu eksportir ikan hias ke berbagai negara ternyata cukup diperhtiungkan. Hal tersebut nyatanya tidak lepas dari misi untuk membuat Indonesia menjadi negara eksportif ikan hias terbesar di dunia.

Hasilnya terbukti, berdasarkan data trademap yang dipublikasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di sepanjang tahun 2016-2019 Indonesia berada di peringkat keempat sebagai eksportir ikan hias dunia setelah Jepang, Singapura, dan Spanyol.

Hal tersebut juga diperkuat dengan produksi ikan hias di tanah air yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar internasional.

Produksi ikan hias yang berada di angka 1,19 miliar ekor pada tahun 2017 meningkat menjadi 1,22 miliar ekor di tahun 2018. Peningkatan signifikan juga kembali terjadi di tahun 2019 menjadi 1,68 miliar ekor yang menghasilkan nilai ekspor mencapai Rp19,81 triliun.

Karena hal tersebut, tak heran jika Menteri Kelautan dan Perikanan yaitu Sakti Wahyu Trenggono menyatakan, bahwa komoditas ikan hias menjadi salah satu andalan Indonesia dalam menopang perekonomian masyarakat.

Lantas seperti apa sebenarnya kondisi nyata produksi ikan hias di lapangan, yang tidak hanya terdiri dari para pemain besar melainkan juga pengusaha dalam skala kecil? Benarkah menopang perekonomian masyarakat sampai ke berbagai lapisan?

Menjadi Negara Eksportir Ikan Hias Terbesar di Dunia? Bisakah?

Potensi menjanjikan usaha budidaya ikan hias

Budidaya ikan hias jenis Koi
info gambar

Sebelum membahas lebih jauh mengenai potensi ikan hias sebagai komoditas ekspor, kepopuleran akan hasil perairan satu ini nyatanya sudah terlihat menjanjikan bahkan dalam siklus usahanya di dalam negeri sendiri.

Bisnis ikan hias yang justru meningkat saat pandemi nyatanya dirasakan oleh salah satu Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) yang berada di Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.

“…di masa pendemi seperti ini, budidaya ikan hias tidak pernah mengalami penurunan, malahan mengalami kenaikan. Alhamdulillah dari semenjak awal pandemi, harga ikan hias bisa naik sampai 100 persen” ujar Lukman Hakim selaku Ketua Pokdakan Cibinong Mandiri, dalam sebuah video yang dimuat pada kanal YouTube Kementerian KKP.

Lebih lanjut, Lukman juga mengungkap kondisi peningkatan yang terjadi justru berhasil menaikkan taraf kehidupan Pokdakan Cibinong Mandiri, di mana beberapa anggotanya ada yang berhasil mendaftarkan haji dan memiliki rumah baru.

Keberhasilan tersebut bukan tanpa alasan, karena terungkap bahwa omzet dari budidaya ikan hias yang dilakukan dengan hanya mengandalkan dua atau tiga kolam saja ternyata bisa mendatangkan penghasilan sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta dalam sekali panen.

“Melalui budidaya ikan hias koi, Pokdakan Cibinong Mandiri bisa mendapatkan keuntungan dengan misalnya memiliki dua hingga tiga kolam, padat tebar 1.000 ekor per kolam, harga jual sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000 per ekor, maka dapat diperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta sampai Rp15juta” tutur Lukman.

Ikan Arwana "Si Raja Ikan Hias" Asli Indonesia

Ekspor ikan hias di Bali mencapai 414.190 ekor

Jenis ikan hias
info gambar

Di sisi lain, bukti potensi dan kepopuleran ikan hias sebagai primadona komoditas ekspor hasil perairan datang dari wilayah Bali.

Menilik laporan terakhir dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) KKP Denpasar, tercatat bahwa selama bulan Agustus 2021 saja, ada sebanyak 414.190 ekor ikan hias yang telah berhasil menjangkau pasar global, dengan nilai nominal mencapai Rp3,45 miliar.

Kaitannya dengan julukan primadona ekspor, angka pengiriman dari ikan hias terbukti lebih tinggi dibanding jumlah ekspor ikan hidup lainnya seperti benih kerapu yang hanya mencapai angka 67 ribu ekor dan siput hias sebanyak 40,4 ribu ekor.

Adapun pendistribusian dari komoditas ini ternyata dilakukan dengan melalui sebanyak 836 kali pengiriman yang dilakukan oleh Balai KIPM setempat, bersamaan dengan pendistribusian komoditas ekspor jenis ikan lainnya.

Disebutkan bahwa lima destinasi ekspor ke mancanegara yang berasal dari Bali yaitu Amerika Serikat, Taiwan, Australia, Tiongkok, dan Jepang. Sedangkan berdasarkan kondisi pasarnya sendiri, jenis ikan hias yang paling banyak diekspor di antaranya terdiri dari arwana, arwana jardini, maskoki, koi, dan cupang hias.

Meski begitu, angka ekspor ikan hias yang telah dicapai di bulan Agustus tersebut nyatanya menurun dibanding periode dan waktu yang sama pada tahun 2020 lalu. Bisa diduga, kendala mobilitas karena pandemi menjadi alasan kuat dari adanya penurunan yang terjadi, terutama dalam hal transportasi untuk pengangkutan ikan hias ke negara tujuan.

“Kalau permintaan ikan masih banyak, stok ikan di Benoa juga banyak. Masalah kami hanya di transportasi.” ungkap Anwar, selaku Kepala Balai KIPM Bali.

5 Ikan Hias Unik Ini Ternyata Asli dari Indonesia

Kendala pengiriman ekspor yang membuat biaya mahal

pengiriman ikan hias untuk diekspor
info gambar

Masih berdasarkan laporan yang sama, disebutkan bahwa dari segi operasional untuk menghasilkan ikan hias yang berkualitas sejatinya tidak ditemui kendala yang berarti walau di tengah situasi pandemi.

Satu-satunya permasalahan hanyalah dari segi transportasi, yang disebut menjadi hal utama dalam menghambat pendistribusian komoditas satu ini untuk bisa dikirimkan secara lancar ke berbagai negara pemesan.

Karena pandemi, bandara di Bali diketahui belum membuka penerbangan secara langsung ke luar negeri, hal tersebut yang membuat segala penerbangan untuk komoditas ekspor seperti ikan hias harus melalui proses transit terlebih dahulu ke Jakarta, dan memakan waktu pengiriman yang bisa bertambah lebih lama.

Padahal, dalam pendistribusian komoditas ekspor berupa binatang hidup seperti ikan hias, waktu pengiriman yang singkat justru sangat dibutuhkan.

Apa yang diungkapkan oleh pihak KPIM Bali tersebut nyatanya sejalan dengan pernyataan yang diungkap oleh salah satu pihak yang melakukan ekspor ikan hias secara langsung, yaitu Made Mara Adi selaku Direktur PT Dinar Darum Lestari.

Demi menyingkat waktu pengiriman, pihaknya bahkan sampai melakukan penyewaan pesawat sendiri (charter) untuk tetap bisa memenuhi permintaan yang datang dari berbagai negara.

"Ekspor tetap berjalan walaupun kondisi sulit di masa pandemi, termasuk juga melakukan charter pesawat.” ujar Made, seperti yang diwartakan oleh Bisnis.com.

Karena hal tersebut pula, biaya komoditas ikan hias yang dipatok oleh pihaknya otomatis akan menjadi lebih tinggi, dan hal tersebut yang membuat volume pengiriman menurun dibanding dengan situasi sebelum pandemi, karena nyatanya masih ada pembeli yang enggan sepakat dengan harga ikan yang dikirim dengan pesawat charter.

Ekspor Edukasi dari Bali, Mengapa Tidak?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini