Sokola Institute: Lembaga Penyedia Pendidikan bagi Masyarakat Adat Indonesia

Sokola Institute: Lembaga Penyedia Pendidikan bagi Masyarakat Adat Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Apakah Kawan masih ingat dengan film “Sokola Rimba”? Film yang dirilis pada 2013 lalu ini diangkat dari kisah seorang perempuan bernama Marlina Manurung atau akrab disapa Butet, yang mendedikasikan diri untuk mengajar orang rimba di pedalaman hutan.

Sokola Rimba “sungguhan” didirikan oleh Butet pada tahun 2003 di pedalaman hutan Jambi. Kini, lembaga yang telah berganti nama menjadi Sokola Institute ini telah memberikan pendidikan alternatif kepada lebih dari 10 ribu orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia. Telah lahir pula sekolah-sekolah yang dikelola oleh masyarakat adat sendiri, setelah menyadari pentingnya pendidikan berkat peran Sokola Rimba.

Selama ini, orang rimba dipandang primitif dan terbelakang, padahal, faktanya mereka memiliki daya tangkap dan kemampuan belajar yang sangat baik. Yang membedakan hanyalah standar kesuksesan dan keberhasilan, baik secara material maupun kognitif.

Tarung Derajat, Seni Bela Diri Asal Jawa Barat Ciptaan Sang Legenda Aa Boxer

Kebutuhan mempertahankan kedaulatan wilayah

Dilansir dari Kompas, sebenarnya buta huruf bukanlah masalah utama bagi masyarakat adat. Pasalnya, kepandaian berburu hingga bertanam dapat diwariskan tanpa tulisan, sehingga keseharian kehidupan adat dapat tetap berjalan seperti biasa tanpa perlunya pendidikan formal.

Namun, munculnya intervensi dari luar mulai mengusik kehidupan di belantara, mengancam kedaulatan mereka melalui pencaplokan tanah, penebangan hutan, dan pembentukan kebun dan tempat pariwisata. Sayangnya, sering kali ketika bertemu dengan pemerintah dan perusahaan, Orang Rimba diwakili oleh orang lain. Hal ini menguatkan tekad Butet untuk mengajari baca-tulis-hitung pada mereka.

Memulai mengajar Orang Rimba bukanlah perkara mudah. Pasalnya, Orang Rimba tidak mudah percaya kepada orang yang berasal dari luar rimba, atau yang mereka sebut “Orang Terang”.

Periode 2016-2020, Pengguna Perpustakaan Digital Kian Melonjak

Mulanya, hal ini dikarenakan Orang Terang sering datang meminta cap jempol mereka di atas surat yang tak mereka tahu apa isinya. Hal itu enjadikan mereka tak mampu berbuat apapun, ketika hutan mereka ditebang dan lahan mereka dialihfungsikan.

Melalui pengetahuan baca tulis dan berpikir kritis, Butet berharap Orang Rimba dapat mengadvokasi isu yang mereka hadapi dan mengakses fasilitas-fasilitas negara beserta cara mereka mempertahankan hak-haknya. Seperti cara mereka mengusir ekspansi kelapa sawit, pembukaan lahan untuk pariwisata, dan berbagai problematika lainnya.

Titik awal Sokola Rimba

Saur Marlina Butet Manurung, pendiri Sokola Institute | Foto: Lukman Solihin
info gambar

Sebagai lulusan Antropologi dan Sastra Indonesia Unpad, Butet sempat bekerja sebagai pemandu penelitian alam. Namun, karena merasa kurang sreg dengan profesi tersebut, ia memutuskan untuk bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang konservasi di Jambi, sebagai fasilitator pendidikan pada komunitas Orang Rimba atau komunitas pemburu-peramu yang hidupnya nomaden.

Memulai menggeluti profesi tersebut pada tahun 1999, Butet Manurung langsung terjun ke hutan, menemui para Orang Rimba. Ia melakukan pendekatan dan penelitian untuk lebih memahami kebutuhan mereka. Kegiatan yang memerlukan kegigihan dan daya tahan tinggi tersebut memakan waktu kurang lebih 7 bulan hingga Orang Rimba mau menerima dan akrab dengan kehadirannya.

Selama mengajar, pengalaman studi Butet selama masa kuliahnya menjadi sangat berguna, khususnya pengetahuan mengenai ilmu linguistik dan menulis untuk menyusun bahan ajar di rimba. Ia bahkan menemukan metode baca-tulis yang disebut Silabel.

Metode Silabel memungkinkan seorang anak bisa membaca dalam waktu dua minggu saja. Seiring melanglang buananya Sokola Institute, metode ini sudah diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia dengan mengalami penyesuaian sesuai dengan fonologi setempat.

Fokus menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat adat Indonesia

Sokola Institute menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memfokuskan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat. Sokola berupaya hadir di komunitas adat yang dirugikan akibat buta huruf, terancam pranata sosial dan sumber daya alamnya oleh dunia luar, serta masyarakatnya masih menyayangi adatnya.

Hingga sekarang, Sokola hidup di 17 komunitas adat di berbagai daerah dan rimba. Keberagaman komunitas adat menjadikan pokok ajar yang diberikan pada Orang Rimba pun berbeda menyesuaikan kebutuhan. Butet menyebutnya sebagai "kurikulum hadap masalah”.

Menakar Kekuatan Militer Indonesia di Tahun 2021

Prinsip yang diajarkan di Sokola Rimba adalah kepemilikan hak atas tanah yang dimiliki oleh Orang Rimba. Hal tersebut dibuktikan dengan upaya Sokola Rimba dalam memampukan masyarakat adat melawan pencuri kayu di Jambi, dan usaha Sokola Pesisir dalam mengedukasi masyarakat pesisir untuk melek kiat menghadapi pengebom ikan.

Terus bertumbuh dan memberi dampak

Perayaan 15 tahun Sokola Institute Merayakan Keberagaman Pendidikan di Jakarta (26/9/2018)| Foto: Dok. Kompas.com
info gambar

Berubah nama menjadi Sokola Institute pada tahun 2016, lembaga ini memiliki cita-cita untuk menjadi lokus riset tentang masyarakat adat. Sokola menaungi berbagai relawan hebat yang menjadi ujung tombak pendidikan Sokola.

Para relawan Sokola diharuskan hidup dan tinggal di tengah komunitas adat, selama minimum dua tahun. Selama itu, mereka harus mempelajari bahasa lokal, memahami perspektif masyarakat adat, dan beradaptasi dengan kehidupan yang sepenuhnya berbeda dari daerah asal tempat mereka tinggal.

Metode ini dinilai berhasil dalam menempatkan relawan dalam zona nyaman yang perlahan mereka bangun bersama masyarakat adat. Saat ini, Sokola telah menjangkau lebih dari 10.000 orang adat. Meskipun terlihat sebagai angka yang besar, Butet mengaku belum puas.

Baginya, hal tersebut bukanlah tolok ukur keberhasilan. Jumlah ini belumlah banyak berarti karena faktanya, terdapat jutaan masyarakat adat di Indonesia. Jutaan masyarakat adat tersebut harus terus berjuang dan bertahan hidup dari alam tempatnya tinggal.

Manfaatkan Ribuan Botol Bekas, Museum Plastik Gresik Gaungkan Kepedulian Lingkungan

Mereka harus berusaha mempertahankan tanah air mereka dari pengrusakan dengan dalih pembangunan, baik atas nama ekspansi perkebunan sawit, bisnis pertambangan, atau industri pariwisata. Jika mereka buta huruf, kemungkinan untuk memenangkan ancaman tersebut sangatlah kecill.

Lebih dari 17 tahun berdiri, Sekolah Institut terus berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi kemerdekaan masyarakat adat. Maka dari itu, dibutuhkan berbagai dukungan dari berbagai pihak.

Mulai dari donatur yang membiayai segala kebutuhan Sokola, hingga generasi mdua yang diharapkan mampu meneruskan tongkat estafet dalam melawan ketidakadilan terhadap masyarakat adat.*

Referensi: Unpad | Kompas | Gatra

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini