Periode 2016-2020, Pengguna Perpustakaan Digital Kian Melonjak

Periode 2016-2020, Pengguna Perpustakaan Digital Kian Melonjak
info gambar utama

Referensi atau rujukan memiliki peran penting untuk memvalidasi suatu informasi dari berbagai lingkup. Tidak terbatas hanya pada lingkup pendidikan, di mana adanya referensi menjadi dasar dalam mengembangkan sebuah teori yang berdampak bagi masyarakat luas.

Dalam dunia pendidikan secara khusus, maupun lingkup secara umum, sumber referensi yang berbasis pada buku umumnya berada di perpustakaan, baik itu perpustakaan formal maupun informal.

Perpustakaan formal yang menjadi pusat referensi nasional milik Indonesia berada di Jakarta Pusat tepatnya Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, yakni Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas).

Berdiri sejak 1980, Perpusnas menjadi salah satu tempat yang banyak dituju bagi para pencari referensi maupun masyarakat umum. Kelengkapan koleksi Perpusnas tidak terbatas pada koleksi cetak, namun juga koleksi non-cetak dalam bentuk digital melalui laman resmi Perpusnas dan aplikasi iPusnas atau layanan Perpusnas yang dapat diakses secara online.

Intip 10 Buku Terlaris Tahun 2020 Versi Ipusnas Perpustakaan Nasional

Pengguna perpustakaan digital meningkat seiring dengan adanya physical distancing

Jumlah anggota iPusnas | GoodStats
info gambar

Semenjak diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam upaya pencegahan penularan Covid-19, jam operasional Perpusnas menjadi berubah untuk mengikuti aturan yang berlaku. Perubahan jam operasional tersebut turut berpengaruh pada jumlah kunjungan di Perpusnas.

Jumlah kunjungan di Perpusnas melalui aplikasi iPusnas meningkat tajam selama pandemi Covid-19. Tercatat, pada 2019 aplikasi iPusnas diunduh sebanyak 530.309 kali. Angka tersebut meningkat pada 2020 di mana aplikasi iPusnas diunduh sebanyak 869.412 kali.

Meningkatnya jumlah pengunduh aplikasi iPusnas sejalan dengan meningkatnya jumlah anggota iPusnas. Dikutip dari halaman resmi perpusnas.go.id, jumlah anggota baru iPusnas tahun 2020 sebanyak 532.498 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 yakni 331.783 orang.

Motivasi penggunaan dan peminjaman koleksi Perpusnas melalui iPusnas masih didominasi oleh kebutuhan pendidikan di mana sebagian besar pengunjung iPusnas adalah mahasiswa strata satu. Meski demikian, akses Perpusnas baik secara online maupun offline terbuka bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia dengan mengajukan izin akses untuk membaca atau meminjam koleksi.

Buku Digital, Solusi Bagi Industri Buku di Indonesia

Masyarakat dapat mengakses koleksi yang ada di Perpusnas dalam bentuk digital

Peningkatan penggunaan teknologi berbasis internet membantu menjangkau lingkup-lingkup yang dibatasi selama masa pandemi Covid-19. Hal tersebut juga berlaku dalam mengakses referensi yang ada di Perpustakaan Nasional Indonesia.

Dengan adanya website dan aplikasi iPusnas, akses untuk mengunjungi Perpusnas secara offline dapat digeser dengan mengaksesnya secara online. Layanan digital seperti iPusnas ini menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk mengatasi masalah kebutuhan sumber rujukan selama masa physical distancing berlaku.

Per 15 September 2020, terdapat 652.547 salinan buku digital dan 54.571 judul buku dalam koleksi Perpusnas.

Selain itu, tersedia juga 8 klasifikasi subjek koleksi di Perpusnas. Ilmu Terapan (35,2 persen) dan Ilmu Sosial (33,3 persen) menjadi subjek klasifikasi dengan jumlah koleksi terbanyak. Hal tersebut merupakan cerminan banyaknya referensi yang dibutuhkan mengenai dua subjek tersebut di dunia pendidikan terutama perguruan tinggi.

Menanamkan Kiat Gemar Baca Buku, Simak 5 Komunitas Buku Ini!

Pandemi bukan menjadi akhir untuk mencari referensi

“Melalui iPusnas, masyarakat bisa membaca buku di mana pun dan kapanpun secara gratis” kata Hety Setiawati selaku Pustakawan Perpusnas dikutip dari halaman resmi perpusnas.go.id.

Oleh sebab itu, adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan tertutupnya akses secara offline menuju tempat-tempat publik yang biasa dikunjungi seperti Perpusnas harusnya kini tidak lagi menjadi hambatan untuk tetap membaca koleksi yang ada di Perpusnas.

Membaca bukan sekadar mencari rujukan informasi, melainkan juga membaca sebagai sebuah kebiasaan dalam upaya peningkatan budaya literasi di Indonesia, mengingat Indeks Alibaca Indonesia masih tergolong rendah.

Yuk! Tambah Pengetahuan dengan Baca 4 Buku Fiksi Sejarah Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini