Berusia Lebih dari 100 Tahun, Ini 3 Rumah Sakit Tertua di Indonesia

Berusia Lebih dari 100 Tahun, Ini 3 Rumah Sakit Tertua di Indonesia
info gambar utama

Setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional sebagai momen untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat Indonesia tentang kesehatan. Tahun ini peringatan Hari Kesehatan Nasional mengangkat tema 'Sehat Negeriku Tumbuh Indonesiaku.'

Bicara soal kesehatan, tentunya tak bisa dilepaskan dari peran tenaga medis dan keberadaan rumah sakit (RS). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, seperti dilansir Katadata, hingga akhir tahun 2018 jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia adalah 2.813 unit dan terdiri dari 2.269 rumah sakit umum dan 544 rumah sakit khusus.

Sekretaris Jenderal Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Lia G Partakusuma, mengatakan kepada Kompas bahwa pada April 2021 jumlah RS di Indonesia adalah 3.039 unit.

Rumah sakit memiliki peranan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan, lengkap dengan fasilitas rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat.

Menyoal rumah sakit, mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa dari ribuan rumah sakit di Indonesia, beberapa di antaranya sudah berusia ratusan tahun dan telah dibangun sejak masa penjajahan Belanda.

Berikut daftar tiga rumah sakit tertua dan bersejarah di Indonesia:

Sampai di Peringatan ke-57, Bagaimana Kondisi Kesehatan Nasional Indonesia Saat Ini?

Rumah Sakit Dustira

RS Dustira | @Wibawa Hadiman Shutterstock
info gambar

Salah satu rumah sakit tertua di Indonesia adalah RS Dustira. Rumah sakit tersebut didirikan tahun 1887 pada masa penjajahan Hindia-Belanda dengan nama awal Militaire Hospital. Lokasinya ada di Cimahi, Jawa Barat.

Rumah sakit dengan luas tanah 14 hektare ini merupakan kebanggaan para prajurit di wilayah Kodam III/Siliwangi. Baru pada tahun 1956 namanya berubah menjadi RS Dustira sebagai penghargaan terhadap jasa Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya dalam membantu para pejuang di medan perang dan memberikan pertolongan pada korban, terutama di wilayah Padalarang.

Berusia lebih dari 130 tahun, rumah sakit ini telah menjadi saksi sejarah Indonesia. Pada tahun 1942-1945, RS Dustira digunakan sebagai tempat perawatan para tawanan tentara Belanda dan Jepang. Sempat dikuasai oleh NICA pada 1945-1947, rumah sakit ini akhirnya diserahkan oleh militer Belanda kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tahun 1949.

Nuansa zaman baheula memang nampak jelas dari keseluruhan bangunan rumah sakit berarsitektur khas Eropa ini. Dari bangunan bagian depan, atap, hingga dindingnya begitu menampakkan kekunoannya. Meski demikian, bangunan ini tetap kokoh dan masih berfungsi untuk pelayanan kesehatan.

Melansir Galamedianews, RS Dustira telah ditetapkan sebagai objek cagar budaya setelah melalui proses kajian oleh Tim Ahli Cagar Budaya.

Peneliti Fakultas Kedokteran UI Ciptakan Aplikasi Kesehatan untuk Penderita PCOS

Rumah Sakit PGI Cikini

Di Kota Jakarta juga ada rumah sakit yang usianya telah lebih dari 100 tahun yaitu RS Cikini di Jakarta Pusat. Bangunan rumah sakit seluas 5,6 hektare yang ditempati saat ini sebelumnya merupakan rumah pelukis Raden Saleh.

Sejarah rumah sakit tersebut tak lepas dari momen saat Dominee Cornelis de Graaf dan isterinya, Ny. Adriana J de Graaf Kooman mendirikan Vereeniging Voor Ziekenverpleging In Indie, perkumpulan orang sakit di Indonesia pada tahun 1895. Mereka membuat sebuah balai pengobatan di dekat Istana Negara sambil mencari dana untuk layanan kesehatan tersebut.

Pada tahun 1897 akhirnya mereka membeli rumah Raden Saleh dari sumbangan 100 ribu gulden pemberian Ratu Emma yang menjabat sebagai Ratu Belanda saat itu. Dengan ini, pelayanan kesehatan pun dialihkan ke bangunan tersebut.

RS Cikini memiliki layanan kesehatan yang lengkap sejak zaman dahulu. Pada tahun 1942-1945, rumah sakit ini dijadikan rumah sakit untuk Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Setelah masa pendudukan Jepang, masih ada beberapa kali perpindahan dalam pengelolaan dan pengoperasiannya.

Tak hanya dikenal memiliki bangunan nan megah, di RS Cikini juga ada taman yang luas dan pernah menjadi kebun botani dan kebun binatang. Hingga saat ini taman tersebut masih tertata apik hingga RS Cikini mendapatkan julukan a garden hospital with loving touch.

Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan

Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo

Masih berlokasi di Jakarta Pusat, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo yang dikenal dengan sebutan RSCM ini juga termasuk rumah sakit tertua di Indonesia dan didirikan pada 19 November 1919.

Namanya diambil dari tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Selain memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, RSCM juga berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan untuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sejarah rumah sakit ini juga tak lepas dari tahun 1896 saat Dr. H. Roll menjabat sebagai pimpinan pendidikan kedokteran di Batavia. Pada masa itu, laboratorium dan Sekolah Dokter Jawa masih satu pimpinan.

Kemudian tahun 1910, Sekolah Dokter Jawa berubah menjadi STOVIA yang merupakan cikal bakal sekolah kedokteran di Indonesia. Pada 19 November 1919 baru didirikan Centrale Burgelijike Ziekenhuis yang disatukan dengan STOVIA dan sejak saat itu pendidikan serta pelayanan kedokteran semakin maju. Fasilitas pelayanan kesehatan pun semakin berkembang.

Hingga saat ini RSCM masih menjadi pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter. Dari segi fasilitas pun terus menunjukkan peningkatan. Pada 2010, diresmikan Gedung RSCM Kencana dengan pelayanan berkelas internasional. Kemudian, ada Laboratorium Terpadu RSCM, Gedung RSCM Kirana untuk pelayanan kesehatan mata dan Gedung Pusat Kesehatan Ibu dan Anak (PKIA).

Tawangmangu Terpilih Jadi Destinasi Wisata Herbal dan Kesehatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini