Sampai di Peringatan ke-57, Bagaimana Kondisi Kesehatan Nasional Indonesia Saat Ini?

Sampai di Peringatan ke-57, Bagaimana Kondisi Kesehatan Nasional Indonesia Saat Ini?
info gambar utama

Kesehatan merupakan bagian yang paling penting dalam menentukkan masa depan setiap insan di semua negara tanpa terkecuali, termasuk salah satunya Indonesia. Bukan tanpa alasan, karena kesehatan sejatinya telah menjadi salah satu indikator kunci dalam menentukan tingkat keberhasilan dan taraf kemajuan suatu negara.

Semakin tinggi indeks atau taraf kesehatan nasional suatu masyarakat di satu negara, maka semakin tinggi pula kualitas kehidupan dan kemajuan negara atau bangsa yang bersangkutan.

Saking pentingnya, kesehatan bahkan menempati posisi ketiga sebagai fokus yang diutamakan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, atau Sustainable Development Goals (SDGs) di antara 16 tujuan lainnya yang telah ditetapkan PBB sebagai agenda pembangunan di tingkat dunia untuk keselamatan manusia dan planet bumi.

Menanggapi tujuan dunia tersebut secara serius, sama seperti berbagai pihak lain Indonesia juga memiliki fokus besar dalam meningkatkan dan menjaga taraf kesehatan masyarakatnya secara nasional.

Hal tersebut terbukti dengan lahirnya momen peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang ternyatadilatar belakangi oleh peristiwa kesehatan skala besar yang terjadi di masa lampau.

Peristiwa apa yang melatar belakangi lahirnya HKN?

Potret Perawatan Kesehatan Mental Era Kolonial di Museum Kesehatan Jiwa

Muncul setelah keberhasilan perlindungan terhadap Malaria

Ilustrasi nyamuk malaria
info gambar

Melansir Kemkes.go.id, keberadaan HKN ternyata berawal dari munculnya wabah penyakit malaria di Indonesia pada kisaran tahun 1950-an, beberapa tahun setelah merdeka. Kala itu, ratusan ribu jiwa diketahui terenggut akibat malaria, sehingga mendorong pemerintah untuk berupaya melakukan pemberantasan di seluruh penjuru tanah air.

Demi melancarkan pemberantasan tersebut, pada tahun 1959 sempat dibentuk Dinas Pembasmian Malaria yang pada bulan Januari 1963 berganti nama menjadi Komando Operasi Pemberantasan Malaria (KOPEM).

Pembasmian malaria dilakukan dengan menggunakan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) yang disemprotkan secara massal ke rumah-rumah di seluruh Pulau Jawa, Bali, dan Lampung, yang selanjutnya dibarengi dengan kegiatan pendidikan kesehatan dan penyuluhan kepada masyarakat.

Pada tahun 1964, kurang lebih ada sebanyak 63 juta penduduk Indonesia yang telah mendapat perlindungan penyakit malaria, dan hal tersebut dipandang sebagai titik awal kebersamaan seluruh komponen bangsa bekerja sama dalam membangunan sekaligus mengupayakan kesehatan di tanah air.

Berangkat dari peristiwa itu, akhirnya pada tanggal 12 November di tahun yang sama diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional untuk pertama kalinya, dan terus diperingati hingga detik ini.

Hari Kesehatan Dunia, Peran Dokter dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kondisi kesehatan nasional Indonesia sebelum pandemi melanda

Posisi Indonesia dalam Global Health Security Index
info gambar

Memiliki indeks kesehatan yang cukup memuaskan, berdasarkan laporan Global Healths Security (GHS) Index pada tahun 2019, kualitas kesehatan Indonesia diketahui berada pada peringkat ke-4 di kawasan Asia Tenggara, mengikuti Thailand yang berada di peringkat pertama, kemudian Malaysia dan Singapura yang secara berurut berada di peringkat 2 dan 3.

Adapun secara keseluruhan, poin indeks ketahanan kesehatan Indonesia berada di atas angka 50, atau lebih tepatnya sebesar 56,6. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata skor indeks GHS secara keseluruhan yang berada di angka 40,2.

Lebih detail, angka indeks GHS yang diraih masing-masing negara diperoleh berdasarkan enam kategori penilaian, yang terdiri dari pencegahan, deteksi dan pelaporan, kecepatan merespons, sistem kesehatan, pemenuhan terhadap standar internasional, dan risiko lingkungan.

Meski begitu, rata-rata GHS secara global yang berada di angka 40,2 dan masih sangat jauh dari skor sempurna atau 100, nyatanya dipandang sebagai pertanda bahwa secara kolektif, kesiapsiagaan berbagai negara termasuk Indonesia dinilai masih sangat lemah dan belum siap dalam menghadapi ancaman pandemi dan epidemi.

Siapa sangka, hal tersebut nyatanya langsung terbukti tidak lama setelah laporan indeks GHS 2019 dipublikasi, lewat datangnya hantaman pandemi Covid-19 yang terjadi di hampir semua negara dan menggerus sektor kesehatan di hampir seluruh belahan dunia.

Menilik Tingkat Ketahanan Covid-19 Negara-Negara Asia Tenggara

Mimpi buruk pandemi

Ilustrasi kematian yang ditimbulkan akibat pandemi
info gambar

Covid-19 dapat dikatakan sebagai permasalahan kesehatan dalam skala nasional terbesar kedua setelah malaria yang menimpa Indonesia setelah berhasil menjadi negara yang berdaulat.

Semakin diuji, bukan hanya menimbulkan permasalahan kesehatan namun hal ini juga telah menyebabkan angka kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan wabah malaria puluhan tahun lalu.

Melansir laman Covid.go.id, tercatat bahwa per tanggal 11 November 2021 terdapat sebanyak 4.249.758 masyarakat yang terjangkit Covid-19, dari angka tersebut diketahui sebanyak 4.096.664 orang berhasil sembuh sedangkan 143.608 sisanya meninggal dunia.

Pandemi yang terjadi memang memukul sektor kesehatan di tanah air, namun di saat yang bersamaan seakan menjadi alarm peringatan untuk negeri ini dalam membenahi dan melakukan reformasi sistem kesehatan yang dimiliki, terlebih jika bicara mengenai aspek pencegahan, deteksi dan pelaporan, serta kecepatan merespons kondisi yang terjadi di lapangan.

Hal tersebut bahkan diaminkan oleh Ede Surya, selaku Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

"Aspek pencegahan kita masih kurang sekali. Buktinya masih banyak yang gampang sakit. Covid-19 ini menunjukkan betapa lemahnya sistem pelayanan kesehatan kita terutama yang ada di lapangan,” ujar Ede, dalam Berita Satu.

Karena itu, menurutnya, Indonesia memiliki banyak tugas besar dalam melakukan reformasi sistem kesehatan nasional, salah satunya dengan mengembalikan fungsi utama fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit yang memiliki tugas utama mencegah terjadinya penyakit, bukan semata-mata mengobati orang sakit.

RSUD Gunung Jati Cirebon, Salah Satu Rumah Sakit Tertua di Indonesia

Upaya bangkit dan mimpi masa depan kesehatan nasional

Ilustrasi masa depan kesehatan Indonesia
info gambar

Hampir dua tahun berselang, entah dapat dikatakan sebagai salah satu bagian dari keberhasilan reformasi sistem kesehatan atau tidak, pada nyatanya Indonesia berhasil menunjukkan geliat menggairahkan dalam menghadapi situasi pandemi yang terjadi.

Mulai dari menjadi peringkat teratas se-Asia Tenggara dan peringkat ke-54 dunia dalam pemulihan Covid-19 menurut angka Covid Recovery Index, hingga keberhasilan masuk ke dalam daftar negara dengan status level satu yang artinya memiliki risiko penularan Covid-19 paling rendah.

Ke depannya, upaya untuk membangkitkan kembali kondisi kesehatan nasional terkait Covid-19 tentu akan terus dilakukan, terlebih mengenai potensi bahwa penyakit tersebut akan berubah status menjadi endemi di waktu yang akan datang, di mana artinya Indonesia memiliki tambahan musuh besar penyakit yang dapat menyebabkan kematian selain Malaria dan penyakit sejenisnya.

Namun, permasalahan kesehatan yang dihadapi Indonesia tentu bukan hanya tentang Covid-19, saat di mana situasi sudah dapat dikatakan kembali terkendali negara ini harus mengingat bahwa masih ada sejumlah persoalan kesehatan lainnya yang perlu kembali ditangani secara nyata.

Lebih detail, berbagai aspek kesehatan yang dimaksud sejatinya telah tertuang dalam target perencanaan dan pembangunan nasional di sektor kesehatan dalam jangka panjang.

Adapun beberapa target kesehatan nasional yang dimaksud terdiri dari fokus mengurangi rasio angka kematian ibu saat melahirkan, mengakhiri kematian bayi baru lahir, mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, penyakit tropis yang terabaikan, memerangi hepatitis, penyakit bersumber air, serta penyakit menular lainnya.

Indonesia Masuk ke Daftar Negara dengan Risiko Penularan Covid-19 Terendah versi CDC

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini